7 Daftar Beragam Bahasa Daerah di Sumatera Selatan, Tak Hanya Palembang

oleh

SURABAYAINSIDE.com – Indonesia kaya akan budaya dan bahasa daerah. Salah satunya di provinsi Sumatera Selatan.


Provinsi Sumatera Selatan adalah rumah bagi Kerajaan Sriwijaya yang memiliki sejarah yang kaya sejak abad ke-7 sampai abad ke-12.

Berdirinya Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan UU No. 22 Tahun 1950, pada 12 September 1950, Sumsel awalnya meliputi daerah Jambi, Bengkulu, Lampung, dan Kepulauan Bangka Belitung, tetapi kemudian masing-masing wilayah ini akhirnya menjadi provinsi tersendiri.

Walaupun empat wilayah di Sumatera Selatan memiliki akar budaya bahasa yang sama, yakni bahasa Austronesia proto bahasa Melayu, beberapa daerah juga memiliki bahasa dan logatnya sendiri-sendiri, seperti Palembang, Ogan, Komering, Musi, Lematang, dan lainnya.

Di samping itu, beberapa bahasa daerah Sumatera Selatan masih digunakan hingga kini. Menurut laman Kemendikbud, berikut pembagiannya:

1. Bahasa Melayu

Masyarakat di sebagian wilayah Sumatera Selatan menuturkan Bahasa Melayu, Palembang, atau Musi, dengan jumlah penutur asli sebanyak 3,1 juta orang.

Bahasa Melayu di Sumsel berfungsi sebagai bahasa pemersatu antara berbagai bahasa daerah lainnya, dan biasanya dituturkan di wilayah Kabupaten Empat Lawang, Musi Rawas, Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, dan lainnya.

Bahasa Melayu juga terdiri dari sembilan dialek, yaitu Palembang Sukabangun, Kisam, Muara Saling, Selangit, Rupit, Bentayanyang, Palembang, Padang Binduyang, dan dialek Talang Ubi.

Berdasarkan perhitungan dialektometri, persentase perbedaan sembilan dialek ini berada di antara 51-80%. Isolek Melayu memiliki persentase perbedaan sebesar 81-100% jika dibandingkan dengan bahasa Kayu Agung, Ogan, Pademaran, Komering, dan Lematang.

2. Bahasa Kayu Agung

Bahasa Kayu Agung dituturkan di berbagai wilayah, termasuk Desa Landur, Desa Rekimai Jaya, Desa Pematang Panggang, dan Desa Lubuk Karet.

Bahasa ini memiliki sembilan dialek, yaitu Lintang, Kimak, Pagar Dewa, Pematang, Penesak, Kayu Agung Perigi, Kikim, Lubuk Rumbai, dan dialek Ngulak. Menurut hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan di antara kesembilan dialek tersebut berkisar antara 51-80%.

Kayu Agung adalah bahasa yang memiliki persentase perbedaan antara 81-100% jika dibandingkan dengan bahasa Melayu, Komering, Lematang, Ogan, Pedamaran, dan Melayu.

3. Bahasa Komering

Penduduk dari Desa Negeri Batin, Desa Sriwangi, Desa Campang Tiga, Desa Sukaraja, dan Desa Pulau Negara semuanya menggunakan Bahasa Komering.

Bahasa ini memiliki dua dialek, yaitu Dialek Pulau Negara yang digunakan di Desa Sriwangi dan daerah lainnya, serta Dialek Aji yang dipakai di Desa Negeri Batin, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU).

Berdasarkan penghitungan dialektometri, persentase perbedaan antara kedua dialek tersebut sekitar 51-80%. Isolek Komering adalah bahasa yang memiliki persentase perbedaan 81-100% jika dibandingkan dengan bahasa Pedamaran, Ogan, Melayu, Lematang, dan Kayu Agung.

4. Bahasa Lematang

Bahasa daerah Sumatera Selatan dituturkan di beberapa wilayah, termasuk Desa Serdang Menang, Desa Suka Cinta, Desa Kota Dalam, Desa Rantau Alai, dan Desa Kuripan.

Bahasa ini dibagi menjadi lima dialek, yaitu Pegagan, Lematang Lahat, Ujan Mas Lama, Rambutan, dan Rambang. Hasil dialektometri menunjukkan bahwa persentase perbedaan antara kelima dialek itu berada di kisaran 51-80%.

Isolek Lematang merupakan bahasa dengan persentase perbedaan 81%-100% jika dibandingkan dengan bahasa Kayu Agung, Ogan, Pademaran, Komering, dan Melayu.

5. Bahasa Ogan

Bahasa Ogan, dialek yang digunakan di sebagian besar masyarakat Kabupaten Ogan Ilir termasuk Desa Karang Dapo, Desa Talang Akar, Desa Peninjauan, Desa Pelabuh Dalam, dan lainnya, digunakan oleh penduduk yang tinggal di pesisir Sungai Ogan.

Sungai Ogan sendiri berasal dari beberapa aliran kecil mata air dari Bukit Nanti yang bersatu menjadi aliran besar, sebelum bermuara di Sungai Musi, Palembang.

Hasil penghitungan dialektometri menunjukkan bahwa Ogan adalah bahasa yang memiliki persentase perbedaan yang tinggi dibandingkan dengan Komering, Lematang, Pedamaran, Melayu, dan Kayu Agung, yaitu antara 81-100%.

6. Bahasa Jawa

Bahasa Jawa juga digunakan di beberapa daerah di Provinsi Sumatera Selatan, seperti Desa Makarti Jaya, Desa Sebubus, dan Desa Gelebak Dalam.

Di sini, bahasa Jawa memiliki tiga dialek, yaitu dialek Makari Jaya, dialek Gelebak Dalam-Sebubus, dan dialek Penyandingan yang digunakan di tempat-tempat berbeda. Menurut penghitungan dialektometri, persentase perbedaan ketiga dialek tersebut berkisar 51%-80%.

Bahasa Jawa di Provinsi Sumatera Selatan hampir serupa dengan bahasa Jawa di Surakarta dan Yogyakarta dengan persentase perbedaan sebesar 60%. Namun, karena dialek yang berbeda, bahasa Jawa di Provinsi Sumatera Selatan masih berbeda dengan bahasa Jawa di kedua kota tersebut.

7. Bahasa Pedamaran

Bahasa Pedamaran, yang diucapkan di Desa Pedamaran 5, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir, memiliki persentase perbedaan sekitar 81-100% jika dibandingkan dengan bahasa Komering, Lematang, Melayu, Ogan, dan Kayu Agung.

Selain bahasa-bahasa tersebut, ada juga sumber yang menyebutkan bahwa bahasa daerah lain di Sumatera Selatan termasuk bahasa Pasemah, Penegak, Semendo, dan Enim.