AM Hendropriyono: Dalang Pembunuhan ASN Diduga Kuat adalah Pembunuh Bayaran
Kasus pembunuhan Aparatur Sipil Negara (ASN) belakangan ini menyita perhatian publik, terlebih setelah dua korban yang merupakan pegawai kementerian penting di Indonesia menjadi target serangan mematikan. Kedua korban tersebut berasal dari Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Dalam Negeri.
Peristiwa ini tentu saja menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat maupun pihak otoritas keamanan. Sejumlah pertanyaan mulai dari motif hingga siapa dalang di balik pembunuhan tersebut pun mencuat ke permukaan.
Menanggapi situasi yang semakin mengkhawatirkan ini, tokoh intelijen senior sekaligus Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN), Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. AM Hendropriyono angkat bicara. Dengan pengalamannya yang luas di dunia intelijen, ia memberikan analisis mendalam terkait kasus ini.
Dalam kanal YouTube Kilat Media yang tayang pada 12 Juli 2025, AM Hendropriyono menegaskan bahwa penyelidikan lebih lanjut oleh aparat kepolisian dan badan intelijen sangat diperlukan untuk mengungkap motif dan pelaku utama dalam kasus pembunuhan ASN tersebut.
Namun, menurutnya, dengan melihat pola dan modus operandi yang digunakan, ia bisa langsung menyimpulkan kemungkinan besar siapa pelaku sebenarnya di balik pembunuhan berdarah dingin ini.
Modus Operandi Menjadi Petunjuk Penting
"Jika ditanya pelakunya, saya bisa jawab secara pasti. Pelaku ini adalah pembunuh bayaran," ujar AM Hendropriyono dengan tegas.
Ia menjelaskan, kesimpulan ini didasarkan atas ciri-ciri khas dari cara kerja para eksekutor profesional. Salah satunya adalah upaya sistematis untuk menghilangkan jejak pasca-pembunuhan. Hal ini menjadi pembeda antara pembunuh amatir dan pembunuh profesional.
"Pembunuh biasa hanya fokus pada bagaimana membunuh. Tapi pembunuh bayaran, prioritas utamanya adalah bagaimana menghilangkan bukti. Cara membunuh itu nomor dua, yang paling penting adalah tidak meninggalkan jejak sama sekali," paparnya.
Ekonomi Sulit Memicu Munculnya Pembunuh Bayaran?
Tidak hanya itu, AM Hendropriyono juga menyinggung kondisi ekonomi nasional yang tengah sulit sebagai salah satu faktor pendukung maraknya jasa pembunuh bayaran. Ia menilai, dalam situasi seperti ini, profesi gelap tersebut menjadi daya tarik bagi sebagian orang yang mencari penghasilan besar dalam waktu singkat.
"Di tengah tekanan ekonomi yang tinggi, tak jarang orang tergiur dengan pekerjaan ilegal yang bernilai tinggi. Ini bahaya laten yang harus kita waspadai bersama," tambahnya.
Perlunya Investigasi Mendalam
Meskipun demikian, AM Hendropriyono menekankan pentingnya investigasi yang lebih mendalam dari pihak kepolisian dan intelijen. Bukan hanya untuk mengungkap pelaku lapangan, tetapi juga untuk menemukan aktor intelektual di balik pembunuhan tersebut.
"Tidak cukup hanya menangkap eksekutor. Harus sampai ke otaknya. Siapa yang memesan? Untuk tujuan apa? Itu yang harus diungkap," tandasnya.
Komentar AM Hendropriyono ini tentu saja menjadi catatan penting bagi pihak berwenang dalam menangani kasus ini. Publik pun mulai mempertanyakan apakah ini indikasi adanya konspirasi atau pesanan dari pihak tertentu.
Respons Masyarakat dan Harapan Penyelesaian Cepat
Sejak kabar pembunuhan dua ASN tersebut tersiar, masyarakat luas mulai resah. Terlebih karena korban berasal dari instansi strategis yang turut bertanggung jawab atas roda pemerintahan negara.
Banyak pihak menyerukan transparansi dan penuntasan kasus secara cepat serta tuntas. Kepercayaan masyarakat terhadap sistem keamanan dalam negeri dipertaruhkan.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. Namun dengan masukan dari tokoh intelijen sekaliber AM Hendropriyono, harapan akan pengungkapan kasus semakin besar.
Apakah benar pembunuh bayaran menjadi dalang di balik peristiwa ini? Atau ada kekuatan lain yang bermain di balik layar? Jawabannya mungkin tidak jauh lagi dari genggaman aparat berwenang.
Yang jelas, kasus ini telah menempatkan isu keamanan nasional dan perlindungan aparatur sipil negara sebagai topik yang tidak boleh diabaikan begitu saja.