Sri Sultan HB X Tampil dengan Gending Raja Manggala, Cara Kultural Redam Aksi Massa yang Bikin Netizen Terharu

Sri sultan-Instagram-
Sri Sultan HB X Tampil dengan Gending Raja Manggala, Cara Kultural Redam Aksi Massa yang Bikin Netizen Terharu
Di tengah gejolak politik nasional yang memanas, Yogyakarta kembali menunjukkan wajah kepemimpinan yang berbeda. Bukan dengan kekuatan aparat atau ancaman hukum, melainkan lewat ketenangan, dialog, dan sentuhan budaya yang mendalam. Saat ribuan massa memadati halaman Markas Polda DIY dalam aksi unjuk rasa nasional, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, memilih turun langsung ke lapangan — bukan dengan rompi anti huru-hara, melainkan diiringi lantunan Gending Raja Manggala, gending keraton yang sarat makna dan biasanya hanya dimainkan dalam momen-momen sakral.
Apa yang terjadi pada hari itu bukan sekadar pertemuan antara pemimpin dan rakyat. Ini adalah simbol kehadiran yang penuh hormat, ketenangan yang menyejukkan, dan kearifan lokal yang dihadirkan sebagai solusi di tengah konflik. Momen langka ini pun menjadi viral di media sosial, dibanjiri pujian, dan menjadi sorotan nasional sebagai contoh kepemimpinan yang humanis dan kultural.
Gending Keraton Menyapa Massa: Ketika Budaya Menjadi Tameng Konflik
Saat ketegangan mulai memanas di sekitar Mapolda DIY, setelah aparat menembakkan gas air mata dan terjadi insiden perusakan kendaraan patroli, suasana berada di ambang bentrokan. Namun, justru di saat itulah muncul sosok yang paling dihormati oleh masyarakat Yogyakarta: Sri Sultan HB X.
Dengan langkah tenang dan penuh wibawa, Sultan keluar dari gedung Mapolda, didampingi oleh beberapa anggota keluarga keraton, termasuk GKR Condrokirono, GKR Hayu, KPH Yudanegara, serta Kapolda DIY, Irjen Pol Anggoro Sukartono. Yang menarik, kedatangannya bukan dengan sirene atau pengawalan ketat, melainkan diiringi alunan Gending Raja Manggala — tembang keraton yang lazim digunakan saat Sultan miyos (keluar dari keraton) atau menyambut tamu negara.
Lantunan gending yang lembut dan khidmat itu seolah menjadi "obat penenang" bagi massa yang sebelumnya emosional. Suasana yang sempat memanas perlahan mereda. Wajah-wajah yang tadinya tegang mulai tersenyum. Beberapa demonstran bahkan terlihat meneteskan air mata saat menyadari bahwa pemimpin mereka hadir bukan untuk membubarkan, melainkan untuk mendengar.
Dialog, Bukan Konfrontasi: Filosofi Kepemimpinan Jawa yang Diwujudkan
Sebelum menemui massa, Sultan telah lebih dulu menggelar dialog intensif dengan perwakilan demonstran di dalam gedung Mapolda. Dalam pertemuan tertutup tersebut, ia mendengarkan aspirasi, menampung keluhan, dan memberikan penjelasan atas situasi yang terjadi. Namun, baginya, dialog tidak berhenti di ruang rapat. Ia memilih keluar, menemui rakyat secara langsung, sebagai bentuk penghormatan tertinggi.
“Saya datang bukan untuk memaksa, tetapi untuk mendengar. Karena rakyat adalah bagian dari saya,” ujar Sultan dalam sambutannya yang disampaikan dengan suara lantang namun tetap teduh.
Pendekatan seperti ini mencerminkan nilai-nilai kejawen yang kental: alus (halus), ngemong (mengayomi), dan ngajeni (menghargai). Dalam budaya Jawa, konflik tidak harus diselesaikan dengan kekerasan, melainkan melalui pendekatan emosional, kesabaran, dan penghormatan. Dan inilah yang diwujudkan Sultan secara nyata.
Viral dan Dipuji Netizen: “Inilah Pemimpin Sejati”
Video kehadiran Sultan yang diiringi gending keraton dengan cepat menyebar di platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Twitter. Dalam hitungan jam, video tersebut telah ditonton jutaan kali, dengan ribuan komentar yang penuh haru dan apresiasi.
“Air mata saya menetes. Ini baru namanya pemimpin,” tulis seorang netizen dari Jakarta.
“Gending Raja Manggala bukan sekadar musik, tapi simbol bahwa rakyat dianggap sebagai tamu agung oleh sang Sultan,” komentar lain dari pengguna asal Surabaya.
Banyak yang membandingkan cara Sultan dengan tokoh-tokoh lain yang turun ke lapangan, seperti Deddy Mulyadi. Meski sama-sama diapresiasi, netizen menilai bahwa pendekatan Sultan lebih menyentuh karena berakar pada budaya dan tradisi lokal yang mendalam.
“Kalau yang lain datang dengan gaya heroik, Sultan datang dengan jiwa rakyat. Itu bedanya,” ujar seorang warganet.
Yogyakarta yang “Istimewa” dalam Tantangan Zaman
Peristiwa ini bukan sekadar tentang menenangkan massa, melainkan membuktikan bahwa status “Istimewa” Yogyakarta bukan hanya terletak pada struktur hukum atau sejarahnya, melainkan pada cara pemimpinnya memperlakukan rakyatnya.
Sri Sultan HB X, yang juga menjabat sebagai gubernur selama lebih dari dua dekade, kembali membuktikan bahwa kepemimpinan yang efektif tidak harus keras atau otoriter. Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati justru lahir dari ketenangan, empati, dan kedekatan dengan rakyat.
Di tengah arus nasional yang kerap diwarnai ketegangan, Yogyakarta menjadi pulau kedamaian. Bukan karena tidak ada konflik, tetapi karena konflik itu dihadapi dengan cara yang bermartabat.
Pendekatan Budaya vs. Kekerasan: Pelajaran untuk Pemimpin Daerah Lain
Apa yang dilakukan Sultan bisa menjadi model bagi pemimpin daerah lain di Indonesia. Di banyak wilayah, aksi demonstrasi sering kali berakhir dengan bentrokan, penangkapan, atau kekerasan fisik. Padahal, konflik sosial bisa diminimalisasi jika dihadapi dengan pendekatan yang lebih manusiawi.
Pendekatan budaya seperti yang ditunjukkan Sultan tidak hanya menenangkan, tetapi juga memberi rasa dihargai. Saat rakyat merasa didengar dan dihormati, mereka cenderung lebih terbuka untuk berdialog dan menghentikan aksi yang berpotensi anarkis.
“Ini bukan soal menang atau kalah, tapi soal menjaga keharmonisan,” kata seorang akademisi dari UGM yang mengamati peristiwa tersebut.
Momen Bersejarah yang Menjadi Simbol Kepemimpinan Masa Kini
Meskipun massa akhirnya tetap bertahan di jalan beberapa jam setelah kehadiran Sultan, suasana tetap kondusif. Tidak ada lagi pelemparan, perusakan, atau konfrontasi fisik. Bahkan, beberapa kelompok demonstran memilih membubarkan diri secara tertib, menghormati langkah Sultan.
Peristiwa ini kemudian diberi label oleh netizen sebagai “Momen Raja Manggala” — sebuah metafora akan kehadiran pemimpin yang membawa ketenangan, bukan kekacauan.
Bagi banyak orang, momen ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati bukan diukur dari popularitas atau retorika, melainkan dari keberanian untuk hadir di tengah rakyat saat situasi paling sulit.