Pernyataan itu dianggap Beijing sebagai pelanggaran garis merah. China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya yang harus dipersatukan kembali, dengan kekuatan jika perlu.
Latihan yang Menargetkan Taiwan?
Di Pulau Itbayat, pasukan gabungan melakukan manuver jarak jauh, serangan maritim, dan pelatihan kendali lapangan terbang.
>>> Penembakan di Dekat Gedung Putih, Pelaku Ditembak dan Dilarikan ke Rumah Sakit
Di Pantai Palawan, sekitar 500 personel dari AS, Filipina, Australia, dan Selandia Baru mensimulasikan pendaratan amfibi musuh.
Di Provinsi Ilocos Norte, 800 personel dari AS, Filipina, dan Jepang melakukan latihan tembak langsung yang menargetkan satu drone kapal permukaan dan dua kendaraan pendarat amfibi hipotetis.
Kendaraan tersebut tampak menyerupai kendaraan tempur amfibi Tipe 05 milik PLA.
Direktur Pusat Penelitian Isu Internasional dan Regional di National Institute for South China Sea Studies, Ding Duo, menilai maksud latihan ini sangat jelas.
Menurutnya, latihan tersebut merupakan gladi bersih untuk potensi konflik di Selat Taiwan.
Ding Duo juga mengatakan bahwa Filipina mengatur latihan sebelum dan sesudah Balikatan. Ia menyebut periode April hingga Juni telah menjadi musim latihan bagi Filipina.
“Mereka mengubahnya menjadi acara seperti karnaval,” kata Ding. “Ini memicu ketegangan regional dan berubah menjadi titik konflik konfrontasi militer.”
Ding menambahkan bahwa rudal yang ditembakkan dalam latihan, termasuk rudal jelajah Tomahawk dan sistem rudal kapal-ke-kapal Tipe 88 Jepang, semuanya ditargetkan ke Selat Taiwan.
Reaksi China dan Negara ASEAN
China mengecam latihan ini dan menilai akan meningkatkan ketidakstabilan regional. Para ahli China memperingatkan bahwa latihan tahunan ini akan memperburuk ketegangan di Indo-Pasifik.
Sementara itu, negara-negara ASEAN sebagian besar hanya menjadi pengamat. Peneliti dari Grandview Institution, Liu Xiaobo, mengatakan kecil kemungkinan negara ASEAN berpartisipasi karena latihan ini sangat tertarget.