Penjelasan Ending Drakor The Winning Try: Apakah Ga-Ram Akan Meninggal Dunia sebelum Timnya Menang?

The winning-Instagram-
Penjelasan Ending Drakor The Winning Try: Apakah Ga-Ram Akan Meninggal Dunia sebelum Timnya Menang?
TAMAT Nonton Drakor The Winning Try Episode 12 Sub Indo serta Link dan Spoiler di Netflix Bukan LK21: Pengakuan Mengejutkan yang Guncang Hanyang High
Drama Korea The Winning Try terus memperlihatkan kualitas narasinya yang intens, emosional, dan penuh kejutan. Dua episode terakhir, yakni episode 11 dan 12 yang tayang pada 29-30 Agustus 2025 di Netflix, menjadi puncak dari perjalanan panjang Ju Ga-Ram—mantan bintang rugby yang jatuh dari puncak, lalu bangkit kembali sebagai pelatih penuh karisma. Namun, di balik kebangkitannya, tersimpan rahasia besar yang akhirnya terungkap dengan cara yang mengejutkan, mengguncang seluruh komunitas Hanyang High School.
Ju Ga-Ram: Dari Bintang Hancur Hingga Pelatih Karismatik
Ju Ga-Ram, dulu dikenal sebagai harapan besar olahraga rugby Korea, harus mengakhiri karier gemilangnya secara tragis akibat skandal doping. Tiga tahun lamanya ia menghilang dari sorotan publik, terpuruk dalam stigma dan penyesalan. Namun, takdir membawanya kembali ke tempat yang pernah menjadi saksi kejayaannya: Hanyang High School—sekolah tempat ia dulu bermain sebagai kapten tim rugby.
Kini, ia kembali bukan sebagai pemain, melainkan sebagai pelatih. Meski melatih tim yang dianggap paling lemah di liga sekolah menengah, Ga-Ram membawa perubahan luar biasa. Disiplin, tegas, dan penuh dedikasi, ia berhasil membakar semangat para siswa. Karismanya yang kuat, meski terkadang keras, justru membuat tim mulai percaya diri menghadapi tantangan besar: turnamen nasional.
Namun, kehadirannya bukan tanpa konflik. Di sekolah yang sama, ia bertemu kembali dengan Bae I-Ji, mantan kekasihnya yang telah berpacaran dengannya selama satu dekade. Cinta mereka hancur karena skandal narkoba yang menghancurkan karier Ga-Ram—dan kini, keduanya harus berhadapan sebagai rekan kerja, dengan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Konflik Internal dan Tekanan dari Luar
Di episode 10, ketegangan mulai memanas saat Ga-Ram nyaris menyerang Nak Hyun, salah satu anggota dewan sekolah, karena merasa I-Ji direndahkan. Heung-man, rekan sesama pelatih, cepat melerai, menghindari eskalasi yang lebih besar. Insiden ini menjadi titik balik: meski Ga-Ram berhasil membela I-Ji, sikapnya yang impulsif menarik perhatian negatif dari pihak manajemen sekolah, khususnya Jong-man, yang mulai melihat Ga-Ram sebagai ancaman.
Jong-man, yang memiliki ambisi politis dalam dunia pendidikan dan olahraga, tak tinggal diam. Ia mulai menjalin kerja sama dengan Hui-tae, seorang jurnalis investigatif yang dulu menjadi aktor utama dalam kehancuran karier Ga-Ram. Hui-tae, dengan ambisi pribadi yang tersembunyi, kembali mengendus peluang besar: ia mencurigai bahwa keberhasilan tim rugby Hanyang bukan hasil kerja keras, melainkan hasil dari doping—dan ia yakin Ga-Ram masih terlibat.
Cedera, Tekanan, dan Titik Balik Tragis
Sementara itu, tim menghadapi krisis internal. Seong-jun, salah satu pemain kunci, diam-diam menyembunyikan cedera bahu yang semakin parah. Dalam sesi latihan, insiden dengan Ju-yang membuat cederanya memburuk. Setelah diperiksa di rumah sakit, dokter mengonfirmasi adanya robekan pada otot rotator—cedera serius yang mengancam karier masa depannya.
Ga-Ram, dengan rasa tanggung jawab sebagai pelatih dan figur ayah, bersikeras agar Seong-jun fokus pada pemulihan dan dilarang berlatih. Keputusan ini membuat Seong-jun frustrasi. Belum lagi tekanan dari ibunya, yang mendesaknya untuk berhenti dari rugby dan pindah ke Spanyol, serta saran agar Ga-Ram mengambil jalan aman dengan menjadi agen olahraga untuk mendukung adiknya, Seok-jun.
Yang lebih menyakitkan, Seong-jun secara tidak sengaja mendengar percakapan antara Ga-Ram dan ibunya—membuatnya merasa dikhianati oleh orang yang paling ia hormati. Ditambah lagi, desas-desus di tim tentang kemungkinan mundur dari pertandingan pertama karena kekurangan pemain membuatnya semakin putus asa.
Dalam keputusasaan, Seong-jun nekat keluar malam-malam untuk membeli steroid, berharap bisa cepat pulih dan kembali ke lapangan. Namun, aksinya diikuti oleh Hui-tae, sang jurnalis, yang langsung mengungkap skandal tersebut ke publik keesokan harinya.
Pengakuan Mengejutkan: “Steroid Itu Milikku”
Ketika tim dan pihak sekolah menggeledah kamar Seong-jun, mereka menemukan botol steroid di laci. Nak-gyun, yang selalu skeptis terhadap Ga-Ram, langsung ingin menghukum Seong-jun. Namun, Heung-man segera memberi tahu Ga-Ram.
Dalam adegan yang penuh tegangan, Ga-Ram mengambil alih situasi. Ia meminta semua orang keluar dan mengunci pintu, hanya untuk berbicara empat mata dengan Seong-jun. Di tengah tangisan dan rasa bersalah, Seong-jun bersikeras bahwa ia belum sempat meminum steroid tersebut.
Namun, di detik-detik terakhir, Ga-Ram membuat pengakuan yang mengguncang dunia: “Steroid itu milikku.”
Seluruh ruangan terdiam. Tapi yang lebih mengejutkan adalah pengakuan berikutnya: Ga-Ram menderita miastenia gravis, penyakit langka yang menyebabkan kelemahan otot progresif. Penyakit ini membuatnya rentan terhadap kelelahan ekstrem dan membutuhkan perawatan medis khusus—termasuk penggunaan steroid yang diresepkan dokter.
Rahasia yang Telah Lama Terpendam
Pengakuan ini bukan sekadar pembelaan terhadap Seong-jun, tapi juga pengakuan atas beban yang telah ia tanggung selama bertahun-tahun. Ga-Ram tidak hanya menyembunyikan penyakitnya dari sekolah, tapi juga dari tim, dari I-Ji, bahkan dari dirinya sendiri. Ia memilih untuk terus melatih, terus berjuang, meski tubuhnya perlahan-lahan menyerah.
Penyakit miastenia gravis menjelaskan banyak hal: mengapa ia terlihat lelah di tengah latihan, mengapa kadang reaksinya terlambat, dan mengapa ia begitu keras terhadap para pemain—karena ia tahu betul betapa rapuhnya tubuh manusia, dan betapa berharganya setiap detik di lapangan.
Namun, bagi Jong-man, pengakuan ini adalah senjata sempurna. Ia kini memiliki alasan kuat untuk mengeluarkan Ga-Ram dari sekolah—bukan hanya karena skandal doping masa lalu, tapi karena menyembunyikan kondisi medis yang bisa membahayakan lingkungan sekolah.
Dampak Emosional dan Konsekuensi di Ambang Turnamen Nasional
Dengan hanya tersisa dua episode terakhir, tekanan menjadi sangat tinggi. Pengakuan Ga-Ram tidak hanya mengancam posisinya sebagai pelatih, tapi juga masa depan tim rugby Hanyang. Skandal ini bisa membuat mereka didiskualifikasi dari turnamen nasional, atau setidaknya kehilangan dukungan dari pihak sekolah dan masyarakat.
Namun, di tengah badai, ada juga benih harapan. I-Ji, yang selama ini terluka oleh masa lalu, mulai melihat sisi lain dari Ga-Ram—sosok yang kuat bukan karena fisiknya, tapi karena keberaniannya menghadapi kenyataan pahit. Woo-jin, yang sedang menjalani rehabilitasi setelah kecelakaan, juga terinspirasi oleh keteguhan Ga-Ram.