Tampang 7 Anggota Brimob yang jadi Tersangka Usai Lindas Affan Kurniawan Pengemudi Ojol hingga Tewas

Tampang 7 Anggota Brimob yang jadi Tersangka Usai Lindas Affan Kurniawan Pengemudi Ojol hingga Tewas

Brimob-Instagram-

Tampang 7 Anggota Brimob yang jadi Tersangka Usai Lindas Affan Kurniawan Pengemudi Ojol hingga Tewas
Dunia kepolisian kembali dikejutkan oleh insiden memilukan yang terjadi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (28/8). Seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan tewas setelah dilindas kendaraan taktis (rantis) milik satuan Brimob Polri saat sedang berada di tengah kerumunan massa aksi. Kini, tujuh personel Brimob telah ditahan dan diperiksa secara intensif oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri.

Tragedi yang terjadi di tengah situasi keamanan yang tegang ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan memicu gelombang protes dari masyarakat. Insiden ini juga menjadi sorotan tajam publik terhadap profesionalisme serta akuntabilitas aparat keamanan dalam menangani kerusuhan atau aksi unjuk rasa.



Kronologi Tragis di Tengah Kerumunan
Menurut keterangan saksi di lokasi kejadian, Affan Kurniawan, yang saat itu sedang menjalani pekerjaannya sebagai pengemudi ojek online, tidak sedang mengikuti aksi demonstrasi. Ia diduga hanya melintas di kawasan Pejompongan saat situasi memanas akibat bentrokan antara massa pendemo dan aparat keamanan.

Namun, dalam situasi yang kacau, mobil rantis Brimob melaju cukup cepat dan menabrak serta menggilas tubuh korban. Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan momen mengerikan saat kendaraan besar tersebut melintas di atas tubuh Affan, yang sempat terjatuh di jalan. Aksi tersebut langsung memicu amarah warga sekitar dan membuat suasana semakin kacau.

Affan sempat dievakuasi oleh petugas medis setempat dan dilarikan ke Rumah Sakit Terdekat. Namun, setelah beberapa jam mendapat perawatan intensif, nyawa korban tidak tertolong. Dokter yang menangani menyatakan bahwa korban mengalami luka berat akibat benturan keras dan kompresi tubuh yang parah akibat dilindas kendaraan taktis.



Propam Turun Tangan, Tujuh Personel Brimob Diperiksa
Tak lama setelah kejadian, Divisi Propam Polri langsung mengambil alih penanganan kasus ini. Langkah cepat ini dilakukan untuk menghindari eskalasi konflik dan menjaga kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

Pada Jumat (29/8), Propam Polri menggelar pemeriksaan terhadap tujuh personel Brimob yang diduga terlibat langsung dalam insiden tersebut. Pemeriksaan ini disiarkan secara langsung melalui akun media sosial resmi Divisi Propam Polri, menunjukkan komitmen transparansi dalam proses hukum.

Dalam siaran langsung tersebut, tampak ketujuh anggota Brimob yang diperiksa mengenakan baju tahanan berwarna hijau. Mereka terduduk diam di ruang pemeriksaan, tampak serius dan tertekan. Identitas mereka tidak dipublikasikan secara lengkap, namun diketahui terdiri dari berbagai pangkat, mulai dari Bripda hingga Kompol.

Mereka yang diamankan adalah Kompol C, Aipda M, Bripka R, Briptu D, Bripda M, Baraka Y, dan Baraka J. Diduga kuat, para personel ini berada di dalam atau mengawal rantis yang menabrak korban saat operasi pengamanan unjuk rasa berlangsung.

Wajah-wajah di Balik Tragedi
Foto-foto ketujuh personel Brimob yang tengah diperiksa sempat viral di media sosial. Wajah mereka, yang biasanya terlihat tegas dan penuh kewibawaan saat bertugas, kini terlihat lesu dan tertekan. Bagi banyak netizen, gambar-gambar tersebut menjadi simbol dari konsekuensi serius dari tindakan yang dilakukan dalam kondisi emosional dan tekanan tinggi.

Meski belum ada keterangan resmi mengenai siapa yang mengemudikan rantis atau siapa yang memberikan perintah manuver tersebut, publik mendesak agar pelaku utama diusut tuntas. Banyak yang mempertanyakan prosedur operasi pengamanan unjuk rasa, termasuk penggunaan kendaraan taktis di tengah kerumunan warga sipil.

Respons Kepolisian dan Tuntutan Keadilan
Kapolri melalui juru bicaranya menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya Affan Kurniawan. Ia menegaskan bahwa Polri tidak akan melindungi siapa pun yang terbukti melanggar hukum, termasuk anggota internal.

"Kami akan proses secara tuntas dan transparan. Siapa pun yang terbukti bersalah, akan dihukum sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," tegas Kapolri dalam konferensi pers singkat.

Namun, keluarga korban dan sejumlah lembaga hak asasi manusia (HAM) meminta agar investigasi tidak hanya berhenti pada level operasional. Mereka mendesak agar ada audit menyeluruh terhadap prosedur penggunaan kekuatan oleh aparat, terutama dalam situasi massa.

Duka Keluarga dan Suara Rakyat
Di tengah kabar duka, keluarga Affan Kurniawan di Ciputat, Tangerang Selatan, diliputi kesedihan mendalam. Sang ibu, Siti Nurlela, menangis histeris saat menerima jenazah putranya. “Anak saya bukan perusuh, dia cuma cari nafkah. Kenapa harus jadi korban?” ujarnya sambil memeluk foto sang anak.

Kisah Affan menyentuh hati banyak orang. Sebagai anak muda yang bekerja keras untuk membantu keluarga, ia menjadi simbol dari rakyat kecil yang tak bersalah namun terkena imbas dari konflik yang bukan urusannya.

Di media sosial, tagar #JusticeForAffan menjadi trending dalam hitungan jam. Ribuan netizen menyampaikan dukungan, menuntut keadilan, dan meminta agar insiden seperti ini tidak terulang.

Evaluasi Sistem Pengamanan dan Prosedur Brimob
Insiden ini membuka kembali wacana tentang perlunya evaluasi menyeluruh terhadap taktik dan prosedur operasi satuan khusus seperti Brimob. Penggunaan kendaraan taktis di area padat penduduk, terutama saat massa tidak sepenuhnya anarkis, dipertanyakan oleh para pakar keamanan.

“Rantis memang dirancang untuk situasi darurat, tapi bukan berarti bisa digunakan seenaknya di tengah kerumunan warga sipil,” ujar Ahmad Nur, pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS). “Harus ada batas jelas antara penegakan hukum dan penggunaan kekuatan berlebihan.”

Ia menambahkan bahwa pelatihan mental dan pengendalian emosi bagi anggota Brimob juga harus diperkuat, terutama dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan.

Langkah Selanjutnya: Menuju Keadilan dan Reformasi
Saat ini, Propam Polri terus mendalami keterangan dari ketujuh personel yang diperiksa. Selain itu, pihak kepolisian juga mengumpulkan bukti-bukti tambahan, termasuk rekaman CCTV, video amatir dari warga, dan keterangan saksi mata.

Baca juga: Siapa Anak dan Istri Joko Priyatno? Guru Olahraga SMPN Bekasi yang Lakukan Pelecehan pada Anak Muridnya Sebanyak Tiga Kali, Bukan Orang Sembarangan!

TAG:
Sumber:


Berita Lainnya