Apa Arti RIP Indonesia's Democracy? Istilah Viral Usai Tragedi Ojol Tewas Ditabrak Rantis Brimob

tanda tanya-pixabay-
Apa Arti RIP Indonesia's Democracy? Istilah Viral Usai Tragedi Ojol Tewas Ditabrak Rantis Brimob
Tragedi Ojol Tewas Ditabrak Rantis Brimob: Tagar #RIPIndonesiasDemocracy Viral, Emil Mario Kritik Keras Pemerintah
Dunia maya diguncang duka mendalam setelah tewasnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang menjadi korban kecelakaan tragis saat sedang menjalankan tugas di sekitar Gedung DPR RI pada Selasa malam, 28 Agustus 2025. Insiden ini bukan hanya menyisakan duka bagi keluarga korban, tetapi juga memicu gelombang kemarahan publik yang meluas hingga ke ranah digital. Tagar #RIPIndonesiasDemocracy meledak di media sosial, menjadi simbol protes terhadap kondisi demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia yang dinilai semakin memburuk.
Tragedi di Tengah Kerumunan Demonstran
Menurut keterangan saksi dan rekaman video yang beredar luas di TikTok, X (sebelumnya Twitter), dan Instagram, Affan Kurniawan sedang mengantarkan pesanan makanan saat perjalanannya terhambat oleh kemacetan parah di kawasan Senayan, Jakarta. Kemacetan tersebut disebabkan oleh aksi demonstrasi besar-besaran yang berlangsung di depan Gedung DPR RI, yang diwarnai bentrokan antara massa dan aparat kepolisian.
Dalam situasi kacau, sebuah kendaraan taktis milik Brimob (rantis) melaju kencang dari arah berlawanan, diduga dalam upaya membubarkan massa demonstran. Diduga karena minimnya pengawasan dan koordinasi, rantis tersebut menabrak dan kemudian melindas motor yang dikendarai Affan. Korban terjatuh dan mengalami luka parah di bagian kepala dan tubuhnya.
Warga sekitar langsung berusaha menolong, namun kondisi korban terlalu kritis. Ia segera dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), tetapi nyawanya tidak tertolong. Dokter menyatakan Affan meninggal akibat trauma berat akibat benturan keras dan terlindas kendaraan besar.
“RIP Indonesia’s Democracy” – Metafora atas Kematian Demokrasi?
Tagar #RIPIndonesiasDemocracy menjadi viral dalam hitungan jam setelah video kejadian dipublikasikan. Istilah RIP sendiri merupakan singkatan dari Rest in Peace, yang secara harfiah berarti “selamat beristirahat”, biasa digunakan untuk menyampaikan belasungkawa atas kematian seseorang.
Namun dalam konteks ini, RIP Indonesia’s Democracy digunakan secara satir dan simbolis. Banyak netizen menafsirkan bahwa kematian Affan bukan hanya sekadar kecelakaan, melainkan representasi dari runtuhnya nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia, dan perlindungan negara terhadap warganya.
“Demokrasi kita mati di tengah jalan, sama seperti nasib pak Affan,” tulis seorang netizen di X. “Dia bukan demonstran, bukan perusuh, dia hanya pekerja biasa yang ingin mencari nafkah. Tapi nyawanya melayang karena kekacauan yang seharusnya bisa dikendalikan.”
Ungkapan ini kemudian berkembang menjadi diskusi luas tentang bagaimana ruang demokrasi di Indonesia semakin sempit, di mana rakyat merasa suaranya tidak didengar, sementara represi terhadap aksi damai semakin meningkat.
Respons Presiden Prabowo: Belasungkawa, Tapi Kurang Solusi?
Tak lama setelah insiden, Presiden Prabowo Subianto angkat suara melalui siaran pers resmi yang disiarkan oleh Sekretariat Kabinet. Dalam pernyataannya, Prabowo menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Affan Kurniawan.
“Saya telah mengikuti perkembangan beberapa hari terakhir, terutama peristiwa tadi malam yang berlangsung dalam demonstrasi yang memuncak pada tindakan anarkis,” ujar Prabowo, seraya menekankan bahwa negara tidak akan mentolerir tindakan anarki yang merusak fasilitas umum dan mengganggu ketertiban.
Ia juga menyebut bahwa seorang petugas kepolisian terlibat dalam insiden tersebut, meski tidak menyebut secara rinci apakah petugas itu bertanggung jawab penuh atau bagian dari operasi rutin. “Atas nama pribadi maupun Pemerintah, saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum,” tambahnya.
Meski pernyataan tersebut dianggap penting sebagai bentuk pengakuan negara atas tragedi, banyak pihak menilai respons tersebut terlalu normatif dan tidak menyentuh akar masalah.
Emil Mario: “Presiden Harus Beri Solusi, Bukan Hanya Pernyataan”
Salah satu suara kritis yang mencuri perhatian datang dari influencer dan aktivis sosial, Emil Mario. Melalui akun TikTok pribadinya pada 29 Agustus 2025, Emil menyampaikan kritik tajam terhadap gaya komunikasi pemerintah, khususnya Presiden Prabowo.
“Pak, menurut saya, sebagai Presiden seharusnya bukan sekadar speak up. Presiden punya pengaruh besar, yang dibutuhkan adalah solusi konkret, bukan menyalahkan masyarakat atas anarkis,” tegas Emil dalam videonya yang telah ditonton lebih dari 2 juta kali.
Emil menekankan bahwa aksi demonstrasi tidak muncul begitu saja. Ia menyebut berbagai persoalan struktural yang selama ini membuat rakyat merasa terpinggirkan, mulai dari kasus korupsi yang tak kunjung tuntas, isu lingkungan di Raja Ampat, kasus kekerasan seksual yang ditutup-tutupi, kemacetan parah di ibu kota, hingga tunjangan besar bagi anggota DPR yang dinilai tidak sebanding dengan kinerja mereka.
“Kalau negara bener-bener berjalan, nggak mungkin orang tiba-tiba marah sendiri. Semua ini akumulasi dari ketidakadilan yang terus dibiarkan,” ujarnya dengan nada emosional.
Rakyat Turun ke Jalan Karena Ingin Keadilan
Bagi Emil, rakyat yang turun ke jalan bukanlah perusuh, melainkan warga negara yang kehabisan saluran untuk menyuarakan ketidakpuasan.
“Semua orang berjuang dengan caranya masing-masing — mau bikin thread, bikin video, doa tiap malam, sampai turun ke jalan. Tujuannya satu: keadilan di negeri ini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa yang patut disalahkan bukan rakyat, melainkan para elite politik yang duduk di kursi kekuasaan, namun gagal menjadi perwakilan rakyat yang amanah.
“Yang salah bukan rakyat, tapi mereka yang dipilih menjadi perwakilan rakyat, duduk di kursi empuk, lalu menjadi penghianat,” tandas Emil, kalimat yang kemudian menjadi viral dan dikutip ulang oleh ribuan netizen.
Kematian Affan: Cermin Kegagalan Sistem?
Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan menyentuh akar pertanyaan besar: sejauh mana negara melindungi warganya, terutama mereka yang berada di garis terdepan kehidupan ekonomi—seperti pengemudi ojol, pedagang kaki lima, buruh, dan pekerja informal lainnya?
Affan bukan bagian dari demonstrasi. Ia hanya seorang pekerja muda yang ingin menyelesaikan tugasnya demi menghidupi keluarga. Namun, ia menjadi korban dari situasi yang tidak terkendali, di mana kepentingan keamanan dijadikan dalih untuk mengorbankan nyawa warga sipil.
Banyak pihak menuntut adanya investigasi independen terhadap insiden tersebut, termasuk pelibatan Komnas HAM dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Mereka juga meminta pertanggungjawaban dari institusi kepolisian, khususnya satuan Brimob yang terlibat dalam operasi pembubaran massa.