3 Orang Tewas dalam Kebakaran Kantor DPRD Makassar Akibat Aksi Demo Berujung Anarkis

3 Orang Tewas dalam Kebakaran Kantor DPRD Makassar Akibat Aksi Demo Berujung Anarkis

Makassar-Instagram-

3 Orang Tewas dalam Kebakaran Kantor DPRD Makassar Akibat Aksi Demo Berujung Anarkis

Dunia politik dan keamanan di Kota Makassar diguncang oleh peristiwa tragis yang terjadi pada Jumat malam (29/8/2025). Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar, yang berlokasi di Jalan AP Pettarani, dilalap api setelah massa aksi unjuk rasa berubah anarkis. Dalam insiden yang mengejutkan ini, tiga orang dinyatakan tewas, dua di antaranya berhasil dievakuasi dari reruntuhan gedung yang terbakar hebat.



Korban meninggal bertambah dari satu menjadi tiga orang, setelah tim gabungan berhasil mengevakuasi dua jenazah dari dalam gedung DPRD yang hangus terbakar. Kedua korban yang ditemukan adalah Sarinawati (25) dan Akbar (27), yang kini telah dibawa ke ruang jenazah Biddokkes Polda Sulsel di Jalan Kumala, Makassar, untuk proses identifikasi dan pemeriksaan lebih lanjut.

Sebelumnya, satu korban tewas telah dilaporkan, yaitu Saiful Akbar (38), Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat di Kantor Camat Ujung Tanah. Saiful diduga nekat melompat dari lantai 4 gedung DPRD saat kobaran api mulai menjilat bagian atas bangunan. Meski sempat dilarikan ke RS Grestelina, nyawanya tak tertolong karena mengalami luka serius akibat benturan dan sengatan panas.

Korban Terjebak di Gedung yang Terkunci
Situasi semakin memilukan saat diketahui bahwa Akbar dan Sarinawati terjebak di dalam gedung saat massa membakar kendaraan-kendaraan yang terparkir di halaman kantor. Api dengan cepat merambat ke bagian dalam gedung, diduga karena angin kencang dan bahan mudah terbakar seperti dokumen, furnitur, dan kabel listrik.



“Kedua korban mengalami luka bakar hampir seluruh tubuh. Mereka ditemukan di lantai dua, dekat ruang Humas DPRD. Pintu darurat terkunci, sehingga mereka tidak bisa keluar tepat waktu,” ungkap AKP Ade Firmansyah, petugas Biddokkes Polda Sulsel, saat ditemui di kantornya, Sabtu pagi (30/8/2025).

Menurut Ade, proses evakuasi sempat terhambat karena struktur gedung yang rusak parah dan asap tebal yang menyulitkan pernapasan tim penyelamat. “Tim gabungan dari Damkar, BPBD, dan Dinas Kesehatan bekerja keras selama lebih dari dua jam untuk menjangkau lokasi korban. Namun, sayangnya, keduanya sudah tidak bernyawa saat ditemukan.”

Identitas Korban: Staf DPRD dan Asisten Anggota Dewan
Akbar, yang akrab dipanggil Abay, merupakan staf di bidang Humas DPRD Kota Makassar. Ia diketahui sempat mengirimkan video terakhir melalui grup WhatsApp kepada sahabatnya sebelum kehilangan kontak. Dalam video tersebut, terdengar suara histeris dan teriakan minta tolong dari dalam gedung.

“Abay sempat bilang, ‘Api makin dekat, pintu tidak bisa dibuka. Tolong, kalau aku tidak selamat, kabari keluargaku,’” ujar salah satu anggota grup, yang enggan disebutkan namanya, dengan suara bergetar.

Sementara itu, Sarinawati adalah asisten pribadi dari Andi Tenri Uji, anggota DPRD dari Fraksi PDIP. Ia diketahui masih muda dan baru bekerja di DPRD selama enam bulan. Warga Desa Salero, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone ini dikenal sebagai sosok yang rajin dan ramah oleh rekan kerjanya.

Keduanya berasal dari latar belakang yang jauh berbeda, namun nasib tragis menyatukan mereka di hari yang kelam bagi Kota Makassar.

Suasana Duka di Biddokkes Polda Sulsel
Ruang jenazah Biddokkes Polda Sulsel menjadi saksi bisu duka mendalam yang menyelimuti keluarga korban. Sejak Sabtu pagi, puluhan kerabat dan keluarga korban berkumpul di luar ruangan, menunggu proses identifikasi selesai untuk bisa membawa pulang jenazah.

Di antara mereka, terlihat ibu Akbar yang menangis histeris sambil memeluk foto putranya. “Anak saya belum menikah, belum sempat bahagiakan kami. Kenapa harus dia?” ujarnya sambil terisak.

Sementara keluarga Sarinawati dari Bone telah melakukan perjalanan darat selama lebih dari 10 jam untuk menjemput jenazah sang putri. “Kami tidak menyangka akan pulang membawa peti mati,” kata paman Sarinawati dengan mata berkaca-kaca.

Aksi Demo Berawal dari Duka Nasional
Insiden pembakaran kantor DPRD Makassar berawal dari aksi unjuk rasa yang digelar oleh sekelompok massa sebagai bentuk protes terhadap tewasnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol) di Jakarta, pada Kamis (28/8/2025). Affan tewas usai dianiaya oleh sekelompok orang saat sedang menjalankan tugas. Kasusnya menjadi viral di media sosial dan memicu kemarahan publik di berbagai daerah, termasuk Makassar.

Massa yang awalnya berkumpul secara damai di depan kantor DPRD mulai berubah anarkis sekitar pukul 20.30 WITA. Mereka membakar sejumlah kendaraan dinas dan pribadi yang terparkir di halaman gedung, melempar batu ke arah aparat, dan akhirnya berhasil menerobos pagar utama.

Saat itu, di dalam gedung sedang berlangsung Sidang Paripurna yang dihadiri Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, para kepala dinas, serta staf pemerintahan. Untungnya, semua pejabat berhasil dievakuasi melalui pintu belakang sebelum api meluas. Tidak ada korban luka di kalangan pejabat, namun gedung mengalami kerusakan parah di bagian lantai 1 hingga 3.

Petugas Masih Berjibaku di Lokasi
Hingga Sabtu pagi, petugas pemadam kebakaran (Damkar) Kota Makassar masih terus melakukan pendinginan dan pemeriksaan struktur gedung yang rawan runtuh. Tim gabungan dari BPBD, Dinas Kesehatan, dan Polda Sulsel juga melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada korban lain yang tertinggal.

“Kami fokus pada keamanan struktur gedung dan pengumpulan barang bukti. Ada kemungkinan api berasal dari kendaraan yang dibakar di halaman, lalu merambat ke gedung karena angin kencang,” jelas Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Makassar, Andi Idris.

Kepolisian Belum Beri Keterangan Resmi
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Didik Supranoto, enggan berkomentar saat ditemui di kantornya. Ia hanya menyatakan bahwa kasus sedang dalam penyelidikan intensif.

Namun, sumber internal kepolisian mengungkapkan bahwa sejumlah massa telah diamankan untuk dimintai keterangan. “Ada indikasi aksi ini tidak murni spontanitas, melainkan ada provokasi dari kelompok tertentu,” ujar seorang perwira menengah yang meminta anonimitas.

TAG:
Sumber:


Berita Lainnya