Karena belum memenuhi kriteria tersebut, awal bulan Syawal diperkirakan terjadi pada 21 Maret 2026 jika menggunakan standar MABIMS.

Kemungkinan Berbeda dengan Metode KHGT

Perbedaan hasil penentuan tanggal Lebaran dapat terjadi apabila menggunakan metode perhitungan yang berbeda.

Berdasarkan kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal, posisi bulan pada saat itu telah memenuhi syarat sehingga awal Syawal diperkirakan jatuh pada 20 Maret 2026.

Data Posisi Hilal dari BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika merilis prakiraan posisi hilal yang menjadi acuan dalam pengamatan penentuan awal Syawal.

Konjungsi atau ijtima diperkirakan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23 WIB.


Pada saat matahari terbenam di hari yang sama, ketinggian hilal di Indonesia diperkirakan berada pada kisaran 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang.

Sementara jarak sudut antara bulan dan matahari atau elongasi diperkirakan berkisar antara 4,54 derajat hingga 6,1 derajat.

Data tersebut menjadi salah satu referensi penting dalam proses rukyat atau pengamatan hilal.

Penetapan Resmi Menunggu Sidang Isbat

Meskipun berbagai prediksi telah disampaikan oleh sejumlah pihak, keputusan resmi mengenai tanggal Idul Fitri 1447 Hijriah tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah.

Sidang tersebut akan mempertimbangkan hasil rukyat hilal serta data perhitungan astronomi sebelum menetapkan waktu pasti perayaan Lebaran di Indonesia.