unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Plogging: Olahraga Sambil Pungut Sampah Jadi Gaya Hidup Anak Muda Korea
Lifestyle

Plogging: Olahraga Sambil Pungut Sampah Jadi Gaya Hidup Anak Muda Korea

Anak muda Korea sedang plogging di taman Seoul
Anak muda Korea sedang plogging di taman Seoul
A A Ukuran Teks16px

Di Korea Selatan, plogging telah menjadi tren populer di kalangan anak muda. Aktivitas ini menggabungkan jogging dengan memungut sampah.

Plogging berasal dari bahasa Swedia 'plocka upp' (memungut) dan 'jogging'. Peserta berlari atau berjalan sambil mengumpulkan sampah di kantong yang bisa digunakan kembali.

Mengatasi Kecemasan Iklim

Fenomena ini muncul di tengah meningkatnya kecemasan iklim di kalangan generasi muda Korea.

Sebuah studi tahun 2024 oleh Korea Institute for Health and Social Affairs menemukan lebih dari 90 persen orang dewasa Korea merasa cemas tentang krisis iklim.

Kelompok usia 20-an mencatat skor kecemasan tertinggi.

Peneliti juga menemukan sisi fungsional dari kecemasan ini: semakin khawatir seseorang, semakin besar kemungkinan mereka mengadopsi perilaku ramah lingkungan.

Banyak anak muda Korea mengubah kecemasan mereka menjadi gaya hidup ramah lingkungan yang 'bisa dijalani'.

Mereka tidak turun ke jalan dengan poster protes, tetapi mengintegrasikan aksi lingkungan ke dalam rutinitas sehari-hari.

Budaya, Bukan Pengorbanan

Kim Ji-eun, 26, bergabung dengan kelompok plogging akhir pekan yang ia temukan di Instagram. "Saya melihat plogging sebagai budaya yang menyenangkan, bukan pengorbanan atau aktivisme," katanya.

"Saya berharap ini menjadi hobi alami, bukan keputusan khusus untuk membantu lingkungan."

Kelompok plogging biasanya bertemu pada Sabtu pagi, berjalan atau berlari sambil memungut sampah, lalu diakhiri dengan piknik atau makan siang di area yang baru dibersihkan.

Format ini cocok dengan preferensi generasi muda untuk pengalaman singkat yang dapat dibagikan dan memberikan dampak nyata.

Peserta sering membagikan foto hasil pungutan sampah mereka di media sosial dengan tagar tertentu.

Plogging Gunung dan Dukungan Merek

Di pegunungan, tren ini menyatu dengan booming pendakian di kalangan pekerja kantoran muda. Kegiatan bersih-bersih saat mendaki, kadang disebut 'mountain plogging', mengajak peserta mendaki gunung di sekitar kota.

Merek outdoor seperti The North Face, Black Yak, dan K2 membagikan 'paket bersih' yang berisi kantong sampah, sarung tangan, dan penjepit.

Mereka memposisikan diri sebagai mitra dalam aksi lingkungan akar rumput.

Park, 32, penggemar outdoor di Seoul yang mengikuti acara bersih-bersih di Gunung Bulam pada Hari Pohon, mengatakan, "Dengan plogging, kaki saya lebih terasa terbakar, dan rasanya senang melihat kantong sampah terisi.

Ini memuaskan sekaligus memilukan. Saya cinta gunung, jadi saya harap ada lebih banyak acara seperti ini."

Gerakan membungkuk berulang kali untuk memungut sampah dan berdiri kembali menyerupai gerakan squat. Ini menambah latihan kekuatan tubuh bagian bawah pada manfaat aerobik dari hiking.

Dari Tren Menjadi Arus Utama

Bagi banyak anak muda Korea, plogging sejalan dengan tren yang lebih luas yang sering disebut 'climate sensibility' atau kepekaan iklim.

Istilah ini menjadi kata kunci tren konsumen 2025 yang menggambarkan merancang seluruh gaya hidup dengan mempertimbangkan iklim.

Istilah populer lainnya, 'MZeco', merujuk pada konsumen generasi MZ yang memperlakukan nilai lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas mereka.

Mereka percaya baik perusahaan maupun individu berbagi tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah iklim.

Hal ini membantu membawa plogging ke arus utama budaya dan politik.

Peritel fesyen, merek global, dan pemerintah daerah menggelar lari bersih-bersih sebagai bagian dari program lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) mereka.

Menjelang pembukaan toko andalan di pusat Seoul, Uniqlo mengundang karyawan, influencer, dan warga untuk bergabung dalam acara plogging di sekitar distrik perbelanjaan Myeong-dong.

Selama musim pemilu baru-baru ini, beberapa calon lokal mengganti pengeras suara dan truk kampanye dengan kantong sampah, berjalan melalui lingkungan sambil memungut sampah dan mendengarkan keluhan pemilih.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru