unique visitors counter
⌂ Beranda › Internasional › Ketegangan Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Dekati US$ 108
Internasional

Ketegangan Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Dekati US$ 108

Ketegangan Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Dekati US$ 108
bbm
A A Ukuran Teks16px

Harga minyak dunia terus menanjak setelah peluang tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali meredup.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut pembahasan kesepakatan damai dengan Iran kini berada dalam kondisi kritis setelah Teheran menolak proposal yang diajukan Washington.

Pernyataan itu disampaikan Trump menyusul respons Iran yang berisi sejumlah tuntutan baru untuk mengakhiri konflik.

Iran meminta penghentian perang di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon, pengakuan penuh atas kedaulatan Selat Hormuz, pencabutan blokade laut Amerika Serikat, hingga kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Trump menanggapi tuntutan tersebut dengan nada keras. Ia menyebut dokumen balasan dari Iran sebagai sesuatu yang mengecewakan dan tidak layak dipertimbangkan.

“Saya menyebutnya paling lemah saat ini, setelah membaca tumpukan sampah yang mereka kirimkan. Saya bahkan tidak selesai membacanya,” ujar Trump.

Kebuntuan diplomasi itu langsung memicu lonjakan harga energi global. Minyak mentah Brent dilaporkan naik mendekati US$ 108 per barel di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan dunia.

Selat Hormuz menjadi titik perhatian utama karena jalur tersebut menampung sekitar seperlima distribusi minyak dan gas alam cair global.

Situasi di kawasan semakin tegang setelah blokade dan aktivitas militer membuat lalu lintas pelayaran di jalur itu nyaris lumpuh.

Pentagon menyebut biaya perang telah mencapai US$ 29 miliar atau sekitar Rp 460 triliun. Amerika Serikat juga memperkuat pengawasan laut dengan menempatkan kapal induk Abraham Lincoln di Laut Arab.

Langkah itu dilakukan untuk mencegat kapal komersial yang menuju Iran di tengah meningkatnya eskalasi konflik.

Dari pihak Iran, Garda Revolusi dilaporkan mulai menggelar latihan militer berskala besar. Juru bicara komisi keamanan nasional Iran Ebrahim Rezaei bahkan menyatakan negaranya siap meningkatkan pengayaan uranium hingga 90% apabila kembali diserang.

Sementara itu, Kuwait mengumumkan penangkapan empat orang yang diduga terkait Garda Revolusi Iran saat mencoba masuk melalui jalur laut.

Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan politik akibat kenaikan harga bahan bakar menjelang pemilu kongres.

Survei Reuters/Ipsos menunjukkan mayoritas warga Amerika menilai pemerintah belum mampu menjelaskan alasan utama keterlibatan AS dalam perang tersebut.

Untuk meredakan tekanan publik, Trump menjanjikan penangguhan pajak bensin federal apabila situasi dengan Iran mereda.

“Begitu urusan dengan Iran ini selesai, Anda akan melihat harga bensin dan minyak jatuh seperti batu,” kata Trump.

Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu (13/5/2026) untuk membahas perkembangan krisis Timur Tengah bersama Presiden China Xi Jinping.

Konflik terbuka AS dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah ketegangan panjang terkait program nuklir Iran dan pengaruh militernya di kawasan Timur Tengah.

Selat Hormuz kemudian menjadi pusat konflik karena jalur tersebut merupakan pintu utama ekspor minyak dari Arab Saudi, Kuwait, dan Irak.

Gangguan di jalur itu berdampak langsung terhadap distribusi energi global dan memicu tekanan inflasi di sejumlah negara.

Upaya gencatan senjata yang sempat dibahas sejak awal April kini terancam gagal total karena kedua pihak belum menemukan titik temu terkait tuntutan ekonomi dan kedaulatan kawasan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru