Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menegaskan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat strategi pembiayaan pembangunan untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang berdaya saing.
Menurut Pramono, pemerintah daerah tidak lagi dapat mengandalkan APBD sebagai sumber utama pembiayaan pembangunan.
>>> Hari Bhayangkara ke-80, Prabowo: Polri Harus Selalu Membela dan Merasakan Penderitaan Rakyat
"Target kami Jakarta masuk Top 50 Global City pada 2030 dan Top 20 Global City pada 2045.
Kebutuhan pembiayaan pembangunan Jakarta dalam lima tahun ke depan mencapai sekitar Rp1.064 triliun," ujar Pramono dalam keterangannya, Rabu, 1 Juli 2026.
Ia menambahkan, besarnya kebutuhan tersebut membuat pemerintah harus membuka berbagai sumber pendanaan baru agar pembangunan tetap berjalan optimal.
Proyek Strategis dan Skema Pembiayaan
Seiring perpindahan Ibu Kota Negara, Jakarta terus memperkuat posisinya sebagai pusat perekonomian nasional, bisnis, investasi, dan inovasi global.
Pembangunan jangka panjang tidak hanya mencakup layanan dasar masyarakat, tetapi juga pembiayaan 14 proyek strategis senilai sekitar Rp657 triliun.
>>> Paus Leo XIV Angkat Biarawati Italia Pimpin Kantor Migran Vatikan
Proyek tersebut meliputi pembangunan Jakarta Sewerage System, pengembangan MRT sepanjang 62,1 kilometer, LRT sepanjang 57,8 kilometer, serta lebih dari 100 program menuju kota global.
Pramono menjelaskan, APBD diposisikan tidak hanya sebagai instrumen belanja pemerintah, tetapi juga sebagai pengungkit investasi dan kolaborasi.
Pemprov DKI Jakarta tengah membangun portofolio pembiayaan kreatif melalui berbagai skema, antara lain obligasi daerah, KPBU, naming rights, climate finance, optimalisasi aset, pembiayaan melalui BUMD, investasi swasta, CSR, hingga pendanaan pemanfaatan ruang.
"Pemprov DKI Jakarta sedang menyiapkan Jakarta Collaboration Fund sebagai hub finansial daerah untuk menghimpun berbagai instrumen pembiayaan," kata Pramono.
>>> HUT Bhayangkara ke-80, Prabowo Sampaikan 6 Pesan Penting untuk Polri
Melalui skema ini, pemerintah akan mempertemukan investor, lembaga keuangan, dunia usaha, serta mitra pembangunan dalam satu ekosistem kolaborasi.
