Dengan demikian, Xring O3 menawarkan peningkatan sekitar 55 persen dibandingkan Xring O1 pada pengujian multi-core.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Xiaomi tidak sekadar melakukan peningkatan kecil dari generasi sebelumnya.
Sebaliknya, perusahaan tampaknya melakukan perubahan cukup besar pada desain CPU dan pengelolaan performanya.
Xring O3 sendiri menggunakan konfigurasi CPU dengan 10 inti.
Jumlah tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu chipset menangani pekerjaan multi-thread dengan lebih agresif.
Oleh karena itu, performanya berpotensi terasa ketika perangkat digunakan untuk aktivitas berat, seperti bermain game, mengedit video, menjalankan banyak aplikasi sekaligus, hingga berbagai pekerjaan berbasis kecerdasan buatan.
Selain performa CPU, kemampuan grafis Xring O3 juga terlihat menjanjikan.
Dalam pengujian 3DMark Steel Nomad Light, chipset tersebut dilaporkan menghasilkan performa lebih dari 40 persen lebih tinggi dibandingkan chipset flagship yang menjadi pembanding.
>>> SF9 Rayakan 10 Tahun Berkarya dengan Album 'TENACITY' dan Janji 60 Tahun ke Depan
Bahkan, jika dibandingkan dengan Xring O1, peningkatannya diklaim dapat mencapai sekitar 90 persen.
