Dunia hiburan global kembali kehilangan salah satu talenta terbaiknya. Tim Curry, aktor legendaris yang wajahnya sangat melekat di ingatan penonton Indonesia lewat perannya sebagai manajer Hotel Plaza dalam film komedi klasik Home Alone 2: Lost in New York, telah meninggal dunia. Ia menghembuskan napas terakhirnya pada usia 80 tahun.
Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh manajernya, Marcia Hurwitz, pada Rabu (26/8/2026). Marcia menyampaikan bahwa Curry meninggal dengan tenang di kediamannya yang berada di kawasan Toluca Lake, Los Angeles, Amerika Serikat, pada Selasa (25/8) waktu setempat.
Meski pihak keluarga belum merilis penyebab pasti kematian, kondisi kesehatan aktor kelahiran Inggris ini memang diketahui terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini merupakan dampak dari stroke berat yang dideritanya pada 2012 silam.
Dari Hotel Plaza hingga Mimpi Buru Pennywise
Bagi masyarakat Indonesia dan global, Curry mungkin paling sering dikenang melalui aksi komedinya yang jenaka namun licik sebagai Mr. Hector, manajer Hotel Plaza yang selalu dikejar-kejar oleh Kevin McCallister (Macaulay Culkin) di Home Alone 2 (1992). Film ini sendiri hingga kini masih kerap diputar di stasiun televisi nasional dan menjadi tontonan wajib liburan.
Namun, jangkauan akting Curry jauh melampaui satu film keluarga tersebut. Karier yang membentang lebih dari lima dekade menjadikannya salah satu aktor karakter paling serbaguna dan disegani di Hollywood.
Ia adalah sosok yang sukses meneror mimpi buruk penonton lewat penampilan perdananya sebagai badut pembunuh Pennywise dalam miniseri IT (1990). Tak hanya di genre horor, komedi gelapnya juga bersinar dalam film Clue (1985) hingga aksi musikalnya yang memukau di Muppet Treasure Island (1996).
Raja Panggung dan Ikon 'Cult Classic'
Jauh sebelum namanya dieksploitasi oleh mesin mimpi Hollywood, Curry adalah raja di panggung teater London hingga Broadway. Namanya meledak dan merajai budaya pop global usai ia memerankan karakter eksentrik, panseksual, dan alien bernama Dr. Frank N. Furter dalam pementasan musikal The Rocky Horror Show.
Adaptasi layar lebarnya pada 1975, The Rocky Horror Picture Show, bertransformasi menjadi salah satu cult classic paling fenomenal dan abadi dalam sejarah sinema dunia.
Terkait peran yang terbilang sangat berani dan nyeleneh tersebut, Curry dalam sebuah wawancara lawas yang kembali dikutip oleh Variety, mengungkapkan bahwa ia sejatinya sempat ragu ketika pertama kali menerima penawaran itu.
"Namun saya sering berpikir, tidak ada gunanya melakukan sesuatu kecuali Anda berani mengambil risiko," kenang Curry. Filosofi inilah yang jelas tercermin dari setiap karakter ikonik yang ia hidupi di layar kaca.
Dedikasi Tanpa Batas Meski Terbatas Kursi Roda
Kualitas akting, karisma, serta olah vokal Curry yang luar biasa fleksibel telah membuahkan berbagai pengakuan bergengsi di industri hiburan. Sepanjang kariernya, ia tercatat meraih nominasi Tony Awards untuk pementasan teater Amadeus dan Spamalot. Ia juga sukses membawa pulang piala Daytime Emmy Award atas kepiawaiannya mengalunkan suara untuk karakter Captain Hook dalam serial animasi.
Yang paling menyentuh hati para penggemar adalah dedikasinya terhadap seni peran. Ketika penyakit stroke memaksanya harus beraktivitas di atas kursi roda dalam beberapa dekade terakhir, Curry menolak untuk pensiun.
Ia tetap berkarya, mengasah bakat, dan terus mengisi suara untuk berbagai judul animasi serta video game hingga akhir hayatnya. Suara emasnya mungkin telah tiada, namun warisan karakter-karakter ikonik yang ia ciptakan akan terus hidup dan menghibur penonton lintas generasi.