Kabar duka menyelimuti dunia hiburan Indonesia, khususnya bagi pecinta komedi dan seni budaya Jawa Timur. Pelawak senior legendaris, Topan Sugianto atau yang lebih akrab disapa Topan Srimulat, meninggal dunia pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Menghembuskan napas terakhirnya di usia 71 tahun, almarhum dikabarkan tutup usia di kediamannya yang berlokasi di kawasan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kepergian beliau menjadi duka mendalam bagi keluarga, rekan-rekan seniman, serta jutaan penonton yang tumbuh besar bersama tawa khasnya.
Duka Citra dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Kabar kepergian sang maestro komedi ini pertama kali dikonfirmasi melalui unggahan di akun Instagram resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Melalui platform tersebut, Pemprov menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya seniman yang telah lama menghibur masyarakat.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun. Turut berduka cita atas berpulangnya Topan Sugianto, seniman Jawa Timur," tulis pihak Pemprov Jatim dalam keterangan resminya.
Tidak hanya menyampaikan duka cita, Pemprov Jatim juga mendoakan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
"Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan dalam menghadapi masa duka ini," lanjut pernyataan tersebut.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap jasa-jasanya, Pemprov Jatim berkomitmen untuk terus melestarikan memori dan karya-karya almarhum. "Selamat jalan, Bapak Topan Sugianto. Karya dan dedikasi Anda akan selalu dikenang," pungkas Pemprov Jatim menutup pernyataannya.
Mengenang Era Keemasan 'Ketoprak Humor'
Bagi generasi yang tumbuh pada era 1990-an hingga awal 2000-an, nama Topan Srimulat adalah jaminan untuk tertawa terbahak-bahak. Namanya melejit dan menjadi ikon berkat program televisi legendaris, Ketoprak Humor.
Acara yang memadukan seni tradisional ketoprak dengan komedi slapstick dan improvisasi ini menjadi tontonan wajib keluarga Indonesia di malam hari. Di sinilah Topan menunjukkan kepiawaiannya dalam membangun komedi. Ekspresi wajah yang khas, timing komedi yang presisi, serta kemampuan berbahasa Jawa yang kental namun mudah dicerna, membuatnya begitu dicintai oleh lintas generasi.
Topan bukan sekadar pelawak; ia adalah seorang seniman yang berhasil membungkus kritik sosial dan kearifan lokal Jawa ke dalam balutan tawa yang renyah.
Duet Maut Topan dan Leysus: Reuni di Keabadian
Menyebut nama Topan Srimulat, tentu tidak akan lengkap tanpa mengingat adik kandungnya, Sugeng Winarso, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Leysus. Keduanya merupakan duet maut yang chemistry-nya di atas panggung sulit ditandingi oleh pasangan komedi mana pun.
Dinamika antara Topan yang sering kali berperan sebagai sosok yang lebih serius atau mudah "panas", berpadu dengan Leysus yang polos dan sering kali menjadi pemicu masalah, selalu berhasil memancing gelak tawa penonton.
Sayangnya, duet legendaris ini harus terpisah lebih dahulu ketika Leysus meninggal dunia pada 3 Januari 2006 silam. Kini, setelah 20 tahun berpisah, sang kakak telah menyusul sang adik untuk selamanya. Sebuah reuni di keabadian yang tentu saja menyisakan rasa haru bagi para penggemar setia mereka.
Dedikasi Tanpa Batas untuk Seni
Di balik gemerlap panggung dan tawa yang ia hadirkan, Topan dikenal oleh rekan-rekan sejawatnya sebagai sosok yang sangat rendah hati. Ia tidak pernah lelah untuk berdedikasi terhadap pelestarian seni budaya Jawa, memastikan bahwa tradisi seperti ketoprak dan lawak Jawa tetap relevan di tengah gempuran budaya pop modern.
Kepergian Topan Srimulat bukan hanya kehilangan bagi keluarga besarnya di Malang, melainkan kehilangan besar bagi khazanah seni komedi Indonesia.
Selamat jalan, Pak Topan. Terima kasih atas puluhan tahun tawa, hiburan, dan pelajaran seni yang telah Anda berikan untuk Indonesia. Karya Anda akan tetap abadi, hidup dalam ingatan setiap orang yang pernah tersenyum melihat aksimu di panggung.