Allah SWT membuka pintu harapan yang lebar melalui firman-Nya: اَفَلَا يَتُوْبُوْنَ اِلَى اللّٰهِ وَيَسْتَغْفِرُوْنَهٗ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ “Mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma’idah: 74)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ketiga konsep bencana ini mengajarkan kita untuk tidak buru-buru menghakimi diri sendiri atau orang lain yang sedang tertimpa musibah. Bisa jadi, apa yang kita lihat sebagai "hukuman", bagi orang lain adalah "ujian kenaikan kelas" di sisi Allah.
Oleh karena itu, respons kita sebagai umat Islam haruslah proaktif dan penuh empati. Ketika melihat saudara kita di Desa Arus, Manggarai Timur, atau di belahan dunia mana pun yang tertimpa bencana, tugas kita bukan hanya bertanya "kenapa", tetapi juga "apa yang bisa saya bantu?". Sedekah, doa, dan bantuan logistik adalah wujud nyata dari keimanan yang diuji.
Marilah kita bersama-sama melakukan muhasabah (introspeksi) diri. Mari kita perbaiki hubungan vertikal dengan Allah (habluminallah) dan hubungan horizontal dengan sesama manusia (habluminannas). Dengan demikian, insyaallah Allah SWT akan meridhai kehidupan kita di dunia dan mempertemukan kita dengan surga-Nya kelak. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الخَلَائِقِ وَالبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.