iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max terjual sekitar 1,3 juta unit di China selama pekan pertama ketersediaannya.
Angka itu 15% lebih tinggi dibandingkan penjualan iPhone 17 Pro dan 17 Pro Max pada pekan pertama tahun lalu.
Data tersebut berasal dari informasi blogger RD Observation, seperti dikutip GSMArena.
Pada masa pre-order, retailer di China cepat kehabisan unit iPhone 18 Pro series.
Estimasi menyebut 7 juta unit dipesan di muka, dan sejumlah toko mencatat pendapatan dua kali lipat dibanding peluncuran 17 Pro dan 17 Pro Max.
Pro Max Jadi Model Paling Diminati
Estimasi menunjukkan iPhone 18 Pro Max lebih populer dengan kontribusi 55,5% dari total penjualan.
Tren itu berbalik dari masa pre-order, ketika 60% pemesan memilih model Pro yang lebih kecil.
Penjualan iPhone 18 Pro dan 18 Pro Max disebut mencapai 90% dari total penjualan seluruh lini iPhone 2025 di China pada pekan pertama.
Tidak hadirnya model vanilla dan Air baru tampaknya tidak mengganggu kinerja Apple.
Konsumen yang ingin iPhone baru saat ini harus memilih varian Pro, dan model vanilla serta Air diperkirakan menyusul dalam beberapa bulan.
Harga Naik, Pasar Jepang Paling Terdampak
Apple menaikkan harga model barunya, tetapi dengan pendekatan bertingkat.
Model 256GB dan 512GB naik CNY 1.000 atau sekitar $150, sementara model 1TB dan 2TB yang sudah mahal naik masing-masing CNY 2.500 dan CNY 3.500.
Kenaikan itu terjadi meski Apple memakai chip QLC yang lambat.
Data yang dihimpun BigGo menunjukkan harga model 256GB di China naik sekitar 11%.
Di Amerika Serikat, kenaikan $100 untuk kapasitas yang sama setara sekitar 9%.
Jepang mencatat lonjakan paling tajam, dengan iPhone 18 Pro 256GB lebih mahal JPY 40.000 atau sekitar 22%.
Sebelum peluncuran 18 Pro, Apple menaikkan harga iPhone 17 Pro dari JPY 179.800 menjadi JPY 194.800.
Namun 18 Pro diluncurkan pada JPY 219.800, sehingga lebih mahal lebih dari JPY 20.000 dibanding harga 17 Pro yang telah direvisi.