Produksi mobil nasional sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai 859.256 unit. Angka ini naik 13,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 757.432 unit.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan tren positif manufaktur otomotif. Dua pabrikan asal China, BYD dan Jaecoo, mulai menembus daftar sepuluh besar produsen.
BYD dan Jaecoo Masuk Jajaran Atas
BYD menempati urutan kedelapan dengan produksi 24.877 unit hingga Agustus 2026. Peningkatan ini didorong pengoperasian pabrik barunya di Subang, Jawa Barat.
Pabrik bernilai investasi Rp 16 triliun tersebut dirancang berkapasitas hingga 150.000 unit per tahun. Sementara itu, Jaecoo berada di peringkat ke-10 dengan total perakitan 23.021 unit.
Operasional perakitan Jaecoo di dalam negeri masih memanfaatkan fasilitas produksi milik PT Handal Indonesia Motor (HIM).
Meski partisipasi merek China membesar, porsi utama manufaktur kendaraan tetap dikuasai raksasa otomotif Jepang.
Toyota belum tergoyahkan di posisi puncak dengan volume 353.778 unit, tumbuh 5,2 persen dari sebelumnya 336.332 unit.
Mitsubishi Motors berada di posisi kedua dengan 130.025 unit, menguat 18,9 persen.
Daihatsu menyusul ketiga lewat raihan 100.213 unit atau naik 18,5 persen secara tahunan.
Suzuki menempati peringkat keempat dengan 56.699 unit. Kondisi berbeda dialami Hyundai dan Honda yang mengalami penurunan volume perakitan.
Hyundai turun 26,7 persen menjadi 36.898 unit, sedangkan Honda terkoreksi 34,8 persen menjadi 25.261 unit.
Pada segmen kendaraan komersial, Isuzu membukukan kenaikan 6 persen secara tahunan menjadi 23.193 unit. Mitsubishi Fuso melonjak drastis 70,3 persen hingga mencapai 27.095 unit.
Masuknya deretan merek baru ke jajaran produsen teratas menandai pergeseran peta manufaktur otomotif nasional. Ekspansi pabrikan ini memperkuat basis perakitan mobil di dalam negeri.
