unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Innalillahi, Mustasyar PBNU Nyai Machfudhoh Aly Ubaid Wafat: Mengenang Sosok Ulama Perempuan Pejuang Santri dan Dakwah
News

Innalillahi, Mustasyar PBNU Nyai Machfudhoh Aly Ubaid Wafat: Mengenang Sosok Ulama Perempuan Pejuang Santri dan Dakwah

Innalillahi, Mustasyar PBNU Nyai Machfudhoh Aly Ubaid Wafat: Mengenang Sosok Ulama Perempuan Pejuang Santri dan Dakwah
Nyai • Instagram
A A Ukuran Teks16px

Kabar duka yang mendalam menyelimuti keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) dan umat Islam Indonesia. Salah satu pilar utama sekaligus ulama perempuan terkemuka, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Hj. Machfudhoh Aly Ubaid, dikabarkan telah berpulang ke Rahmatullah. Beliau menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang pada Ahad, 4 Oktober 2026, pukul 22.30 WIB di kediamannya di Kalibata, Jakarta Selatan, dalam usia 82 tahun.

Kepergian sosok yang kerap disapa Bu Nyai ini meninggalkan duka yang amat dalam, tidak hanya bagi keluarga tercinta, tetapi juga bagi ribuan santri dan jamaah yang selama ini menggantungkan bimbingan spiritualnya.

Kabar Duka dan Doa dari Keluarga

Konfirmasi mengenai wafatnya Almarhumah disampaikan langsung oleh pihak keluarga kepada NU Online. Wafa, perwakilan keluarga, menyampaikan pesan duka yang penuh dengan keikhlasan dan harapan akan kebaikan di alam baka.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha. Telah berpulang ke Rahmatullah dengan tenang Ibu Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid binti KH. Abdul Wahab Chasbullah pada malam ini, Ahad, 4 Oktober 2026 di Jakarta," ujar Wafa.

Keluarga besar juga menyampaikan harapan agar arwah Almarhumah ditempatkan di sisi terbaik-Nya. "Insyaallah almarhumah almaghfurlaha berpulang dalam keadaan husnul khotimah, diampuni segala khilaf dan dosa, diterima segala amal kebaikan, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah Ta’ala. Semoga keluarga besar yang ditinggalkan juga diberikan ketabahan, kesabaran, dan kekuatan," tulisnya penuh haru.

Rencana Pemakaman di Tanah Leluhur Tambakberas

Rencananya, jenazah Almarhumah akan disemayamkan dan dikebumikan di kompleks pemakaman Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Senin (5/10/2026) hari ini. Pilihan lokasi pemakaman ini bukan tanpa makna. Tambakberas adalah tanah leluhur tempat ayahnya, KH. Wahab Chasbullah (salah satu pendiri NU), pernah mengabdikan diri, sekaligus tempat di mana Nyai Machfudhoh mencurahkan sebagian besar hidupnya untuk membina generasi penerus bangsa.

Jejak Leluhur dan Masa Kecil Sang Ulama Perempuan

Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid lahir di Jombang pada 12 Maret 1944. Ia merupakan putri pertama dari empat bersaudara pasangan ulama kharismatik, KH. Wahab Chasbullah, dan Nyai Sa'diyah. Darah keulamaan dan semangat perjuangan mengalir deras dalam dirinya sejak kecil.

Ia tumbuh bersama adik-adiknya yang juga menjadi tokoh penting di kalangan NU, yakni Nyai Hisbiyah Rohim, Nyai Munjidah Wahab, KH. Muhammad Hasib Wahab, dan KH. M. Roqib Wahab. Sebagai putri sulung, tanggung jawab dan keteladanan telah melekat erat dalam kepribadiannya sejak dini.

Pernikahan dan Pengabdian Lintas Kota

Pada tahun 1962, Nyai Machfudhoh melepas masa lajangnya dengan menikah dengan KH. Aly Ubaid, putra dari KH. Abdullah Ubaid. Unik dan penuh makna, setelah akad nikah, Kiai Aly Ubaid kembali ke Makkah untuk melanjutkan studi, dan resepsi pernikahan baru diadakan pada Agustus 1963. Setelah menikah, pasangan ini memutuskan untuk menetap dan membangun keluarga di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Meski tinggal di ibu kota, hati dan pikirannya tak pernah jauh dari dunia pesantren. Sejak tahun 1994, Nyai Machfudhoh mulai mengemban amanah sebagai pengasuh di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Ia menjalankan peran ini bersama adiknya, Gus Roqib, dan istrinya.

Pengabdian ini dilakukan dengan penuh perjuangan. Pada masa itu, Nyai Machfudhoh juga menjabat sebagai Ketua Wanita Persatuan Pusat dan Wakil Ketua Departemen Dakwah DPP PPP. Posisi strategis tersebut mengharuskannya bolak-balik antara Jakarta dan Jombang. Meski demikian, ia tak pernah lalai. Minimal sekali dalam sebulan, ia menyempatkan diri datang ke pesantren untuk melihat langsung kondisi santri, mengisi materi pengajian, dan memberikan motivasi spiritual yang membakar semangat para santri.

Di awal masa kepengasuhan, Kiai Aly Ubaid yang paling rajin mengisi materi, sementara Nyai Machfudhoh hadir dua bulan sekali. Namun, kehadirannya selalu dinanti. Ia dikenal sebagai sosok pengasuh yang sangat perhatian, teliti dalam struktur kepengurusan, dan mendalam dalam penyampaian materi keagamaan.

Rekam Jejak Organisasi: Dari IPPNU hingga Mustasyar PBNU

Dedikasi Nyai Machfudhoh terhadap kemajuan perempuan dan umat Islam tercermin jelas dari rekam jejak organisasinya yang panjang dan gemilang. Ia memulai kaderisasi di Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) sebelum akhirnya dipercaya memimpin sebagai Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat NU DKI Jakarta.

Puncak pengabdiannya di Fatayat NU terjadi pada periode 1979–1989, ketika ia dipercaya menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU. Selama satu dekade, ia menjadi motor penggerak emansipasi perempuan yang tetap berpegang teguh pada nilai-nilah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.

Tidak berhenti di situ, Almarhumah juga menjadi pengurus harian di Pucuk Pimpinan (PP) Muslimat NU selama beberapa periode. Hingga saat ini, beliau mengemban amanah sebagai Penasehat PP Muslimat NU. Salah satu kontribusi terbesarnya adalah ketika ia menginisiasi dan memimpin Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim (HIDMAT) Muslimat NU Pusat selama tiga periode berturut-turut. Langkah strategis ini berhasil mengoordinasi dan memperkuat gerakan dakwah berbasis majelis taklim perempuan di seluruh pelosok Nusantara.

Pengakuan tertinggi atas keilmuan, otoritas, dan pengabdiannya diberikan oleh PBNU ketika ia diangkat menjadi A'wan (Dewan Pakar) PBNU masa khidmah 2015–2021. Kemudian, pada masa khidmah 2021–2026, ia dipercaya menjadi Mustasyar PBNU, duduk sejajar dengan ulama perempuan terkemuka lainnya seperti Nyai Hj. Sinta Nuriyah Wahid dan Nyai Hj. Nafisah Sahal Mahfudz.

Warisan yang Tak Akan Pudar

Kepergian Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid adalah kehilangan besar bagi khazanah keislaman dan kebangsaan Indonesia. Ia bukan hanya seorang ulama, tetapi juga ibu bagi para santri, pejuang dakwah perempuan, dan penjaga tradisi keilmuan pesantren yang konsisten.

Semoga segala amal ibadah, pengabdian, dan air mata yang ia teteskan untuk umat diterima di sisi Allah SWT. Al-Fatihah.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru