Kelangkaan stok konsol flagship Sony memicu situasi tak biasa di pasar sekunder Amerika Utara dan Jepang. GameStop dilaporkan menjual PS5 Pro bekas dengan harga yang melampaui unit baru.
Bocoran memo internal ritel tersebut mengungkap skema penetapan harga yang menuai kritik pedas dari komunitas gamer global.
Harga Bekas Tembus Dua Kali Lipat
Menurut dokumen internal yang beredar, PS5 Pro bekas versi digital dibanderol mulai Rp24,8 jutaan atau setara $1,399.
Varian dengan drive disk fisik serta edisi khusus 30th Anniversary Edition dipatok hingga Rp26,5 jutaan atau $1,499.
Angka itu kontras dengan harga eceran resmi Sony untuk unit baru yang berada di kisaran Rp13,3 jutaan atau $749.99.
Harga resmi sempat naik menjadi Rp15,9 jutaan atau $899.99 pada penyesuaian April lalu. Artinya, unit bekas dijual hampir dua kali lipat harga resmi baru.
Manajemen GameStop disebut menginstruksikan seluruh staf toko mematok harga tersebut. Kebijakan ini jelas mengecewakan konsumen.
Trade-in Rendah, Margin Ritel Melonjak
Di sisi lain, skema trade-in yang ditawarkan ke pemilik konsol lama terbilang rendah.
GameStop hanya menghargai unit penukaran pada rentang Rp14,2 jutaan atau $800 hingga Rp15 jutaan atau $850.
Selisih antara harga beli dan jual itu membuat margin keuntungan ritel per unit menjadi sangat besar.
Ritel fisik seperti GameStop memiliki fleksibilitas penuh menentukan harga jual tanpa terikat batasan harga rekomendasi Sony.
Di platform pasar daring seperti eBay, unit bekas umumnya ditawar mulai Rp17,7 jutaan atau $1,000.
Sementara unit baru yang dijual calo atau scalper sering menembus Rp22,1 jutaan atau $1,250. Margin ritel pun melonjak drastis.
Fenomena ini membuktikan besarnya dampak kelangkaan konsol terhadap ketersediaan barang di pasar sekunder saat ini.
