unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Naruto sci-fi vs ninjutsu klasik: daya tarik yang bertahan
Hiburan

Naruto sci-fi vs ninjutsu klasik: daya tarik yang bertahan

Ilustrasi ninja klasik dari anime Naruto
A A Ukuran Teks16px

Naruto memulai perjalanannya sebagai kisah shōnen aksi fantasi yang kental dengan estetika seni bela diri, folklor Jepang, dan sistem tenaga dalam bernama cakra.

Naruto Uzumaki digambarkan sebagai ninja piatu yang diremehkan warga desa, dengan impian menjadi Hokage yang berhasil memikat jutaan penggemar di seluruh dunia.

Namun, menjelang arc klimaks pertempuran besar, narasi cerita mendadak bergeser menuju ranah science fiction atau fiksi ilmiah.

Pergeseran Genre dan Reaksi Penggemar

Peluang eksperimen genre tersebut sebenarnya memberikan penyegaran lore yang cukup luas.

Kendati demikian, tidak sedikit penggemar menilai bahwa pergeseran dari jurus ninjutsu tradisional ke fenomena alien kosmik agak memecah fokus emosional yang telah dibangun bertahun-tahun.

Pada awal perjalanan, cakra dan ninjutsu selalu dipahami sebagai perpaduan energi fisik dan spiritual murni yang mengalir dalam tubuh manusia.

Taktik pertarungan berpatokan pada elemen alam, kombinasi segel tangan, serta strategi jenius di medan tempur.

Semua konseptualisasi ini mendadak berubah ketika Kaguya Otsutsuki diperkenalkan sebagai penguasa cakra pertama.

Kaguya ternyata bukanlah sosok dewa mistis lokal, melainkan makhluk luar angkasa yang melintasi antariksa bersama pasangannya demi memanen energi planet.

Prinsip sci-fi ini semakin diperjelas lewat mekanisme Pohon Dewa.

Makhluk Otsutsuki menanam benih raksasa untuk menyedot seluruh daya hidup planet hingga mengkristal menjadi Buah Cakra.

Siapa pun yang mengonsumsi buah tersebut akan berevolusi dan menyerap data genetik dari planet bersangkutan.

Eksistensi ninjutsu di bumi pun pada akhirnya hanyalah dampak mutasi genetik Kaguya yang diwariskan turun-temurun kepada keturunannya.

Kecenderungan serial ini bergerak ke arah fiksi ilmiah bukanlah hal yang mengejutkan jika melirik minat pribadi sang kreator, Masashi Kishimoto.

Selepas merampungkan kisah utama ninja oranye tersebut, Kishimoto sempat menggarap serial manga baru berjudul Samurai 8: The Tale of Hachimaru.

Proyek tersebut secara terang-terangan menggabungkan budaya samurai klasik dengan estetika space opera, teknologi sibernetika, dan persenjataan futuristik.

Meskipun Samurai 8 berumur relatif singkat, dorongan eksperimental ini membuktikan hasrat Kishimoto untuk melampaui batasan fantasi tradisional shōnen.

Eksperimen genre tersebut kemudian disalurkan kembali.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru