Sutradara Jepang Hirokazu Kore-eda menyatakan film terbarunya, Look Back, mengangkat kisah tentang pergulatan kreatif dan rasa tanggung jawab yang dialami para pencerita.
Pernyataan itu disampaikannya dalam konferensi pers di Busan International Film Festival (BIFF) ke-31.
Kore-eda mengaku terkejut saat pertama kali membaca komik aslinya di sebuah toko buku di Tokyo.
Bacaan itu membuatnya merenung dan bertanya mengapa orang menulis cerita, mengapa mereka berkarya, dan mengapa ia membuat film.
Adaptasi komik Fujimoto
Look Back diadaptasi dari web comic karya Tatsuki Fujimoto, kreator di balik Chainsaw Man.
Film ini mengikuti dua gadis muda, Fujino (Natsuki Deguchi) dan Kyomoto (Aju Makita), yang terikat oleh kegemaran menggambar komik.
Keduanya kemudian menempuh jalan berbeda saat melewati masa remaja.
Deguchi dan Makita memerankan Fujino serta Kyomoto saat beranjak besar, sementara Furi Nanase dan Rokka Okada memerankan kedua tokoh di masa sekolah awal.
Kore-eda menyebut proses casting berlangsung hati-hati untuk memilih aktor yang mampu menampilkan emosi mentah dan kepolosan masa muda.
Ia menambahkan, bekerja dengan empat aktor itu terasa seperti melihat anak perempuannya sendiri tumbuh dewasa.
Ia ingin menangkap waktu kebersamaan keempatnya, pergantian empat musim, dan perubahan cahaya.
Menurutnya, para aktor mengekspresikan elemen-elemen itu secara alami, seolah benar-benar tinggal di kota tersebut.
Untuk menghadirkan tekstur waktu dan suasana nostalgia, Kore-eda memilih merekam seluruh film dengan film 35 milimeter selama satu tahun di Prefektur Akita.
Perekaman itu menangkap perubahan lanskap sepanjang empat musim.
Kore-eda menegaskan ia bersikeras memakai film 35 milimeter sejak awal.
Menurutnya, film memaksa semua orang di lokasi syuting fokus pada momen yang terjadi di depan mereka karena hasilnya tidak mudah diperbaiki di pascaproduksi.
Ia percaya ketegangan bersama itu menciptakan energi unik di lokasi syuting yang akhirnya sampai ke penonton.
Terkait perbedaan halus dari komik aslinya, versi film lebih menekankan dinamika rumit antara kedua gadis.
Film ini menyoroti kekaguman, kecemburuan, dan koneksi emosional mendalam mereka sepanjang perjalanan 13 tahun.
Bagi para pemain muda, menghadiri BIFF dan berjalan di karpet merah menjadi pengalaman yang berkesan.
Deguchi mengatakan memerankan kesepian tokohnya menjadi tantangan yang bermakna.
Ia menyebut banyak adegan yang menuntutnya menyampaikan emosi melalui punggung.
Pada adegan akhir ketika tokohnya merasa benar-benar sendirian, Deguchi merasakan kekosongan mendalam, seolah Kyomoto ada sekaligus tidak ada.