unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Review Film Empat Musim Pertiwi: Kamila Andini dan Luka yang Tak Selesai
Hiburan

Review Film Empat Musim Pertiwi: Kamila Andini dan Luka yang Tak Selesai

Adegan dalam film Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java)
Review Film Empat Musim Pertiwi: Kamila Andini dan Luka yang Tak Selesai
A A Ukuran Teks16px

Kamila Andini kembali dengan Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java), sebuah kisah yang mengangkat pengalaman penyintas kekerasan seksual.

Film ini membawa penonton menyelami trauma, emosi, dan spiritualitas, sekaligus melintasi batas surealisme dan fiksi ilmiah.

Pertiwi, diperankan Putri Marino, pulang kampung ke kawasan Bromo-Tengger yang dingin dan justru membangkitkan luka lama.

Naskah yang ditulis Kamila Andini dan sinematografi Batara Goempar menghadirkan pengalaman imersif yang emosional.

Visual Memukau dan Narasi Slow-Burn

Dita Gambiro sebagai desainer produksi, tim editing, tata suara, dan efek visual berhasil menerjemahkan kompleksitas emosi penyintas ke dalam gambar.

Pendekatan slow-burn dengan latar lautan pasir Bromo membuat penonton tenggelam dalam kehampaan jiwa Pertiwi.

Durasi 2 jam 17 menit digunakan untuk menyusun kepingan memori Pertiwi, terutama pada dua pertiga awal film.

Meski demikian, sebagian penonton mungkin merasa repetitif dan harus berjuang menjaga fokus.

Namun, kehampaan dan rasa tak berujung itulah yang mungkin memang dirasakan seorang penyintas yang mendambakan keadilan.

Penampilan Putri Marino dan Pesan yang Berlapis

Putri Marino tampil konsisten menghadirkan beragam emosi Pertiwi, seolah pernah mengalami sendiri.

Aktingnya patut mendapat apresiasi lebih dari sekadar bunga di padang pasir Bromo.

Kamila Andini menyiapkan sesuatu yang lebih mendalam di balik adegan visual barbarik, bukan sekadar balas dendam.

Film ini membuka ruang tafsir, terutama pada aspek di luar nalar, namun tetap berpijak pada kepekaan personal.

Terlepas dari perdebatan representasi di Academy Awards ke-99, Empat Musim Pertiwi cukup menggambarkan perjuangan perempuan penyintas di tengah dunia patriarki toksik dan alam Indonesia yang indah.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru