unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Juri BIFF Bela The Assassin(s) sebagai Karya Fiksi
Hiburan

Juri BIFF Bela The Assassin(s) sebagai Karya Fiksi

Presiden Juri BIFF ke-31 Zhang Yimou berbicara dalam konferensi pers di Busan
Juri BIFF Bela The Assassin(s) sebagai Karya Fiksi
A A Ukuran Teks16px

Dewan juri Busan International Film Festival (BIFF) ke-31 angkat bicara membela film The Assassin(s) yang tengah menuai kontroversi di Korea Selatan.

Mereka menegaskan film layar lebar semestinya dipandang sebagai karya ekspresi kreatif, bukan reka ulang sejarah atau pernyataan politik.

Pernyataan itu muncul setelah polemik memuncak hingga pembatalan kehadiran para pemain dan kru di panggung BIFF.

Pemutaran publik juga dibatalkan dengan alasan keamanan.

Zhang Yimou: Fiksi adalah fiksi

Presiden Juri BIFF ke-31, Zhang Yimou, menegaskan bahwa karya fiksi tidak otomatis mewakili kebenaran atau menggambarkan peristiwa nyata.

"Fiksi adalah fiksi," ujarnya dalam konferensi pers di Busan, Rabu (7/10).

Sutradara asal China itu mengaku belum menonton The Assassin(s), namun menilai perbedaan pandangan penonton terhadap sebuah karya sinema adalah hal wajar.

Menurutnya, dinamika dan keberagaman respons itulah yang menjadi daya tarik seni film.

Zhang, yang pernah menerima sanksi larangan tayang di China lewat film To Live (1994), menilai karya seni memiliki spirit yang melampaui masa lalu.

"Sejarah adalah sesuatu dari masa lalu yang jauh, tetapi saya pikir seni dan film berbicara kepada orang-orang yang hidup hari ini," tuturnya.

July Jung merasakan tekanan psikologis

Juri lainnya, July Jung, sutradara film Next Sohee (2023), mengaku ikut merasakan tekanan psikologis dari kontroversi yang menimpa The Assassin(s).

"Saya merasa sangat terintimidasi, meskipun ini bukan film saya," kata Jung.

Belajar dari pengalamannya menggarap film berdasarkan kisah nyata kematian seorang siswa magang, Jung mengingatkan pembuat film harus mempertimbangkan dampak karya mereka.

Meski demikian, ia berharap ruang bagi sineas untuk terus berkarya tidak lantas tertutup.

"Belakangan ini, saya mendapati diri saya berharap kita bisa terus membuat film," ujarnya menambahkan.

The Assassin(s) merupakan dramatisasi peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden Park Chung-hee pada 1974 yang menewaskan Ibu Negara Yuk Young-soo.

Film itu menuai kritik dari kalangan konservatif karena menyajikan akhir cerita terbuka yang menyiratkan keterlibatan pemerintah di balik penembakan.

Seiring tekanan publik menguat, sejumlah agenda yang melibatkan sutradara dan aktor utama seperti Yoo Hae-jin, Park Hae-il, dan Lee Min-ho terpaksa dibatalkan.

Pemutaran khusus yang diinisiasi Busan Film Commission (BFC) turut ditarik atas permintaan rumah produksi sekaligus distributor, Hive Media Corp, karena kekhawatiran faktor keamanan.

Pada gelaran tahun ini, dewan juri terdiri dari tujuh sineas dan pengamat film internasional: Zhang Yimou, July Jung, Bi Gan, Kei Ishikawa, Tran Thi Bich Ngoc, Samal Yeslyamova, serta Choi Hee-seo.

Mereka akan menilai 13 judul film di kategori kompetisi utama untuk memperebutkan penghargaan tertinggi yang terakreditasi oleh Academy Awards.

Pengumuman pemenang dijadwalkan pada 15 Oktober.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru