unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Eksorsisme dan Catatan Visual
Hiburan

Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Eksorsisme dan Catatan Visual

Poster film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah
Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Eksorsisme dan Catatan Visual
A A Ukuran Teks16px

Kuasa Gelap: Perjanjian Darah hadir sebagai sekuel yang belajar dari pengalaman dua tahun lalu. Film ini menyoroti eksorsisme dengan porsi lebih besar dibanding prekuelnya.

Andri Cahyadi dan Robert Ronny berusaha menyeimbangkan narasi eksorsisme dan masalah pribadi salah satu romo. Kali ini, sorotan jatuh pada Romo Rendra yang diperankan Lukman Sardi.

Pada edisi pertama, cerita lebih banyak menyoroti masalah pribadi Romo Thomas yang dimainkan Jerome Kurnia. Pergeseran fokus ini menjadi keputusan yang patut diapresiasi.

Film yang diarahkan Rizal Mantovani ini tampak diawasi ketat terkait penyampaian materi eksorsisme dan ajaran Gereja Katolik. Pendekatan ini berbeda dari film Hollywood yang lebih banyak dramatisasi.

Bagi penonton awam, film ini bisa terasa lebih mirip drama Katolik dibanding film horor. Namun, bagi yang mengharapkan substansi gerejawi kental, hasilnya justru berbeda.

Andri dan Ronny dinilai berhasil memainkan bobot materi agama yang diawasi ketat dengan horor serta beban komersial. Mereka keluar dengan selamat dari tantangan tersebut.

Rizal Mantovani juga meningkatkan drama poltergeist dalam film ini dibanding prekuelnya yang masih malu-malu. Jerome Kurnia berkali-kali dilempar dan menabrak furnitur.

Namun, adegan tersebut terasa sedikit berlebihan dan terlalu fokus membuat Jerome terpental. Kondisi ruangan pun kurang disesuaikan dengan aksi yang terjadi.

Catatan lain datang untuk desainer produksi Alfi Syahri. Pasien eksorsisme separah Daniel yang diperankan Venly Arauna masih ditempatkan di kamar penuh perabotan.

Ketika poltergeist mampu melempar Jerome hingga pingsan dan merubuhkan lemari, barang-barang kecil di lemari samping kasur tetap tertata rapi.

Hal ini terasa ganjil.

Rizal Mantovani tampak terlalu ingin menunjukkan suasana cerita dengan gamblang. Ia lebih memilih menampilkan gambar suhu pada termometer ruangan dan keringat tipis Jerome.

Padahal, suasana gerah bisa ditunjukkan lewat semprotan air di dahi Jerome dan Lukman. Gerakan tangan duo romo yang menunjukkan kegerahan juga bisa menjadi alternatif.

Produksi Kuasa Gelap: Perjanjian Darah tampaknya terfokus menghasilkan momen eksorsisme puncak yang mengerikan ala Hollywood. Film sebelumnya terkesan biasa saja.

Hal itu terlihat dari tebalnya prostetik yang digunakan tim tata rias ke Venly Arauna dan penggantinya. Bujet seolah tertuju pada aspek tampilan tersebut.

Aspek lain seperti adegan lain hingga aspek teatrikal minim terasa. Padahal, gagasan Ronny membawa sosok demit Rephaim sangatlah menarik.

Rephaim dikisahkan di luar Seven Princes of Hell dan turunannya. Apalagi, gagasan itu dibungkus dengan ilmu hitam ala lokal.

Pertemuan eksorsisme Katolik dengan kuasa gelap yang berbeda server akan terasa menjanjikan. Sayangnya, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah gagal mewujudkan sosok Rephaim yang meyakinkan.

Penyebabnya adalah teknis efek visual yang buruk dan terlalu komputerisasi. Hasilnya bahkan seperti render yang belum sempurna.

Efek visual saat adegan tenggelam di awal film juga menjadi catatan. Pemilihan filter untuk adegan Romo Rendra dan Suster Aloysia di dermaga saat matahari terbenam pun disorot.

Robert Ronny yang juga produser eksekutif mestinya bisa lebih peduli dengan investasi lebih. Standar yang lebih tinggi untuk aspek yang masih jadi catatan dari film pertama juga diperlukan.

Pemakluman atas kualitas produksi yang terkesan menekan bujet tak bisa lagi diberikan untuk versi sekuel. Apalagi, Kuasa Gelap (2024) mampu memperoleh 1,4 juta penonton.

Adegan pembuka juga menjadi catatan bagi tim casting. Postur Rendra kecil tidak cocok dengan Rendra dewasa.

Perbandingan postur Rendra dan Halim saat masih anak-anak dengan versi dewasanya pun terasa janggal. Hal-hal sepele yang disepelekan itulah yang menggerus gagasan unik film ini.

Padahal, film sekuel ini berpotensi besar. Dedikasi Jerome, Lukman, Ferry Salim, Venly Arauna, dan Lydia Kandou terlihat jelas.

Namun, dedikasi mereka agak tertahan dengan berbagai eksekusi yang kendor di sana-sini. Tim hair-do dan make up juga mendapat catatan tambahan.

Tampilan Romo Thomas setelah berjibaku melawan setan terasa tak logis. Romo yang terlempar berkali-kali menabrak berbagai barang tetap tampil tampan dan rambutnya klimis.

Dengan berbagai hal di atas, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah menunjukkan perbaikan dari film pertamanya. Film ini masih menawarkan gagasan unik.

Hanya saja, saga ini masih bisa berpotensi berbuat lebih dan memuaskan penggemar horor eksorsisme.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru