Komandan U. S.
Forces Korea (USFK) Jenderal Xavier Brunson menilai Korea Utara memperoleh pengalaman berharga dalam mengerahkan pasukan dan mempertahankan operasi militer jarak jauh melalui keterlibatannya dalam perang Rusia melawan Ukraina.
Pernyataan itu disampaikan Brunson dalam dialog yang digelar Center for Strategic and International Studies di Washington, Selasa, seperti dikutip kantor berita Yonhap.
Menurut Brunson, Pyongyang mendapat manfaat militer dari pengiriman tentara dan pasokan senjata untuk mendukung Moskow.
"Mereka belajar bagaimana bergerak dari Korea Utara ke Rusia untuk memindahkan personel, senjata, dan peralatan, serta membangun jalur pasokan yang memungkinkan mereka mendukung upaya perang Rusia," ujarnya.
Ia menekankan militer Korea Utara memperoleh pengalaman dalam pergerakan strategis, mobilisasi, dan logistik.
Pengalaman itu memungkinkan Pyongyang mengembangkan kemampuan yang melampaui pelajaran taktis di medan perang.
Peringatan bagi Korsel dan AS
Brunson memperingatkan militer Korea Utara semakin mampu mengintegrasikan pengalaman medan perang ke dalam kekuatannya.
Kondisi itu dinilainya menimbulkan tantangan baru bagi Korea Selatan dan Amerika Serikat dalam menjaga deterensi di Semenanjung Korea.
Ia juga menyoroti peralatan militer yang diterima Korea Utara dari Rusia sebagai imbalan dukungan perang, termasuk jammer peperangan elektronik.
Pada Juni 2024, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif.
Dalam perjanjian itu, Korea Utara mengerahkan pasukan dan memasok senjata konvensional untuk mendukung perang Rusia dengan Ukraina.
Terkait rencana pengalihan kendali operasional masa perang (OPCON) dari Washington ke Seoul, Brunson menegaskan dukungannya pada transisi berbasis kondisi.
Ia menekankan pentingnya memenuhi persyaratan militer yang disepakati sebelum proses pengalihan dilakukan.
"Saya sepenuhnya mendukung pengalihan OPCON yang berbasis kondisi, titik," katanya.
Brunson menambahkan, jika presiden atau menteri perangnya memerintahkan eksekusi segera, ia akan menyampaikan risiko yang melekat bila kondisi belum sepenuhnya terpenuhi.
Mengenai industri pertahanan Korea Selatan, Brunson memuji kemampuan manufakturnya yang maju.
Ia menyoroti potensi kerja sama lebih besar dalam pemeliharaan dan perbaikan peralatan militer AS di kawasan, alih-alih mengirimkannya kembali ke Amerika Serikat.
"Kami bisa mengembangkan sesuatu di Korea yang kemudian kami terapkan di seluruh kawasan," ujarnya.
Ia membayangkan pusat pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul regional yang memanfaatkan kapabilitas industri Korea Selatan untuk mendukung operasi militer AS di Indo-Pasifik.
