Insiden penyerangan bus tim EPA Persib Bandung dan suporter Persija Jakarta kembali mencuatkan pertanyaan soal kedewasaan memaknai rivalitas sepak bola.
Peristiwa itu terjadi setelah rangkaian laga pekan keempat Super League 2026-2027.
Pengamat sepak bola nasional Akmal Marhali menilai ambisi Indonesia bersaing di panggung dunia harus berjalan seiring perubahan budaya suporter.
Rivalitas Seharusnya Melahirkan Respek
Akmal menegaskan sepak bola hanya dimainkan di lapangan dan semua diselesaikan di lapangan hijau.
Ia mengingatkan seluruh pecinta sepak bola Indonesia agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di luar lapangan.
Menurutnya, perubahan pola pikir menjadi kunci mengakhiri budaya permusuhan yang mengatasnamakan sepak bola.
Dukungan terhadap klub semestinya diwujudkan melalui kreativitas, loyalitas, dan semangat positif bagi tim.
Akmal juga menyoroti bahaya ketika fanatisme kehilangan kendali dan mengabaikan keselamatan manusia.
Ia mengutuk keras tindakan di luar sepak bola yang bisa merusak persatuan dan nilai-nilai sepak bola.
Menurutnya, sepak bola adalah hiburan, bukan kuburan.
Kritik itu ditujukan pada cara pandang yang menempatkan kemenangan dan identitas klub di atas keselamatan sesama.
Tantangan sepak bola Indonesia semakin besar seiring meningkatnya harapan masyarakat terhadap prestasi internasional.
Karena itu, energi seluruh elemen seharusnya diarahkan untuk mendukung kemajuan kompetisi, pembinaan pemain, dan kualitas timnas.
Persaingan antarklub tetap diperlukan untuk membangun atmosfer pertandingan.
Namun, rivalitas yang sehat tidak boleh berubah menjadi alasan memelihara kebencian.
Akmal berharap sepak bola Indonesia mulai berpikir tentang prestasi di level dunia, bukan sekadar rivalitas semu yang merugikan makna sepak bola.