Yapa Phone menawarkan solusi berbeda bagi orang tua yang khawatir anak kecanduan smartphone.
Perangkat ini tampil seperti telepon rumah era 90-an, lengkap dengan gagang kabel melingkar dan papan tombol fisik.
Di balik desain lawasnya, Yapa Phone justru mengandalkan koneksi WiFi dan aplikasi pendamping di smartphone orang tua. Gadget ini dirancang sebagai telepon pertama untuk anak, bukan sekadar mainan.
Desain Nostalgia, Fungsi Modern
Secara visual, Yapa Phone mengingatkan pada telepon kabel tahun 1990-an.
Bodinya memakai plastik transparan warna-warni yang khas, mirip tren clear casing di era iMac dan Game Boy Color.
Di bagian depan terdapat papan tombol numerik fisik dan layar kecil yang menampilkan nama atau nomor penelepon masuk.
Namun perangkat ini tidak terhubung ke jaringan telepon rumah konvensional.
Sebagai gantinya, Yapa Phone memanfaatkan jaringan WiFi di rumah untuk berkomunikasi. Orang tua cukup melakukan setup melalui aplikasi smartphone yang sudah disediakan.
Kontrol Penuh di Tangan Orang Tua
Aplikasi tersebut menjadi pusat kendali penuh. Orang tua bisa memasukkan daftar kontak atau nomor telepon yang boleh dihubungi anak.
Jadwal penggunaan juga dapat diatur agar tidak mengganggu waktu tidur atau belajar. Dengan begitu, anak tetap bisa menghubungi kakek-nenek, teman sekolah, atau orang tua.
Anak pun terhindar dari risiko mengakses konten tidak pantas atau berinteraksi dengan orang asing. Panggilan antar sesama Yapa Phone bahkan bisa dilakukan tanpa biaya langganan alias gratis.
Jika beberapa anak di lingkungan yang sama punya perangkat ini, mereka bisa saling menelepon tanpa keluar biaya bulanan.
Namun untuk menghubungi nomor telepon konvensional, orang tua perlu berlangganan paket bulanan.
Paket tersebut dibanderol seharga £9,99 atau sekitar Rp241 ribuan per bulan. Biaya ini dinilai murah sebagai lapisan keamanan ekstra untuk komunikasi anak.
