Olympique de Marseille menghadapi ketidakpastian mengenai masa depan kepemilikan dan kebijakan finansial setelah muncul kabar pembicaraan awal terkait kemungkinan penjualan klub pada Oktober 2026.
Di tengah performa olahraga yang buruk dan pembatasan belanja pemain, pemilik klub Frank McCourt masih memegang kendali.
Belum ada calon pembeli yang teridentifikasi ataupun tawaran resmi yang diumumkan.
Kabar mengenai kemungkinan pengambilalihan tersebut beredar melalui akun X @taharit77 pada 14 Oktober 2026.
Informasi itu menyebut adanya pembicaraan awal yang didukung sejumlah sumber, tetapi belum ada konfirmasi resmi dari pihak klub maupun McCourt.
Menurut laporan But Football Club pada 15 Oktober 2026, spekulasi penjualan kembali menguat setelah McCourt sebelumnya menyatakan keterbukaan terhadap kehadiran mitra strategis baru.
Namun, kemungkinan perubahan pemegang saham masih sebatas isu yang perlu diverifikasi.
Akun tersebut menyampaikan perkembangan yang diklaim berasal dari beberapa sumber yang sejalan.
"Pembicaraan mengenai pengambilalihan Marseille masih berada pada tahap awal. Informasi ini disampaikan oleh beberapa sumber yang memberikan keterangan sejalan.
Kita tunggu perkembangannya," demikian pernyataan akun @taharit77 di X.
Hingga laporan tersebut diterbitkan, McCourt tetap menjadi pemilik Marseille.
Belum ada informasi terverifikasi mengenai identitas calon investor atau jadwal negosiasi lanjutan.
Kebijakan Penghematan dan Tekanan Finansial
Di sisi finansial, Marseille juga menjalankan kebijakan penghematan yang membatasi kemampuan klub memperkuat skuad.
Laporan Homme du Match pada 9 Oktober 2026 menyebut klub mengakhiri bursa transfer musim panas tanpa mendatangkan pemain baru.
Pengurangan beban gaji dan perekrutan pemain dengan biaya serta remunerasi lebih rendah menjadi bagian dari strategi tersebut.
Jurnalis Nicolas Filhol menilai pemulihan investasi besar kemungkinan masih membutuhkan waktu.
Dalam laporan Sport.
fr pada 15 Oktober 2026, ia memperkirakan klub harus mempertahankan pendekatan pengeluaran ketat selama beberapa tahun, dengan kemungkinan investasi kembali dalam rentang dua hingga tiga tahun.
Filhol menjelaskan bahwa keterbatasan dana bukan sekadar kondisi sementara dalam kebijakan klub.
"McCourt harus bertahan. Ia mungkin harus kembali berinvestasi dalam satu setengah tahun, tetapi sekarang ia tidak akan melakukannya.
Situasinya masih akan sangat terbatas. Dalam skenario ini, kita berbicara tentang dua hingga tiga tahun," ujar Nicolas Filhol.
Menurut laporan yang sama, Filhol juga menilai Marseille perlu membangun skuad secara bertahap bersama pelatih Bruno Genesio.
Strategi tersebut mengutamakan perekrutan yang efisien, gaji lebih rendah, serta pembangunan tim dalam jangka panjang.
Laporan Homme du Match sebelumnya menyebut investasi yang lebih besar mungkin baru kembali pada 2028 atau 2029.
Kondisi olahraga klub turut memicu kritik terhadap pengelolaan Marseille.
Sport.
fr melaporkan pada 13 Oktober 2026 bahwa tim sedang mengalami periode buruk, termasuk lima kekalahan beruntun dan posisi di zona degradasi.
Tidak adanya rekrutan baru pada musim panas menambah tekanan terhadap skuad dan manajemen.
Jérôme Rothen, mantan pemain internasional Prancis yang kini menjadi komentator, menyampaikan kritik keras terhadap McCourt dalam program RMC.
Ia menilai pemilik klub terlalu lama menyerahkan kendali kepada para pengelola yang menurutnya mengambil risiko berlebihan dengan keuangan klub.
Rothen secara langsung mempertanyakan keputusan McCourt dalam mengelola Marseille selama bertahun-tahun.
"Hal yang bisa dicela dari McCourt adalah bahwa ia benar-benar bodoh, agar tetap sopan.
Selama bertahun-tahun, ia terlalu bodoh karena menyerahkan kendali klub kepada orang-orang yang telah menghancurkannya, mengambil risiko, dan mempertaruhkan uangnya," ujar Jérôme Rothen.
Kritik Rothen juga menyasar Pablo Longoria, mantan presiden Marseille.
Dalam pernyataannya, ia mempertanyakan hasil perekrutan pemain pada masa kepemimpinan Longoria dan menyinggung minimnya pernyataan publik dari mantan pejabat tersebut.
Tuduhan yang disampaikan Rothen merupakan penilaian pribadi, bukan bukti yang memastikan adanya penyalahgunaan dana.
Rothen kemudian menyebut Longoria secara langsung ketika membahas tanggung jawab atas kondisi klub.
"Pablo Longoria termasuk di dalamnya, dan buktinya, sekarang kita tidak lagi mendengar kabarnya.
Saya berharap ia telah mengisi kantongnya dengan baik, karena, ya Tuhan, ketika melihat keadaan Olympique de Marseille sekarang dengan perekrutan pemain seperti itu..."
ujar Jérôme Rothen.
Di tengah tekanan tersebut, Marseille harus menyeimbangkan kebutuhan memperbaiki hasil pertandingan dengan upaya menekan pengeluaran.
Belum adanya kepastian mengenai penjualan klub maupun kembalinya investasi besar membuat kebijakan transfer dan pembangunan skuad tetap bergantung pada kemampuan finansial yang tersedia.
