Sofyan Amrabat menolak menjadikan Jofre Torrents sebagai kambing hitam atas kekalahan Ajax dari Hajduk Split di Conference League.
Gelandang itu meminta rekan-rekannya bertanggung jawab bersama untuk memperbaiki keadaan.
Dalam wawancara dengan Ziggo Sport setelah pertandingan pada Kamis, 15 Oktober 2026, Amrabat mengakui hasil itu sangat menyakitkan.
Menurut laporan Goal. com pada 15 Oktober 2026, Ajax gagal memaksimalkan peluang emas pada menit ketujuh melalui Tolu Arokodare.
Penyerang itu sempat berhadapan dengan gawang setelah berlari cepat, tetapi keragu-raguannya membuat peluang tersebut tidak menghasilkan gol.
Amrabat menilai Ajax tidak memulai laga dengan baik dan tekanan suporter tuan rumah turut menciptakan tantangan.
Ia menyebut kegagalan memanfaatkan peluang besar kembali menjadi persoalan yang berulang bagi tim Amsterdam tersebut.
"Saya rasa kami tidak memulai pertandingan dengan baik. Mereka terbantu oleh dukungan suporter yang fanatik, menekan jauh ke depan dengan energi besar.
Lalu kami mendapat peluang yang sangat besar dan peluang itu harusnya bisa dituntaskan. Belakangan ini, hal seperti itu terus berulang pada kami," ujar Amrabat.
Kegagalan mencetak gol lebih awal kemudian diikuti kesalahan penguasaan bola yang berujung pada gol lawan.
Amrabat menilai perubahan hasil pertandingan mungkin terjadi jika peluang pertama Ajax berhasil dikonversi menjadi gol.
"Kalau peluang itu menjadi gol, pertandingannya akan sangat berbeda. Pada akhirnya, setelah itu kami justru kebobolan akibat kehilangan bola sendiri," keluh Amrabat.
Memasuki babak kedua, Ajax disebut mampu meningkatkan penguasaan permainan, menciptakan peluang, dan mencetak gol.
Namun, situasi berubah ketika pertandingan sempat dihentikan setelah suporter menyalakan kembang api.
"Pada babak kedua, saya rasa kami mengambil alih kendali, menciptakan peluang, dan mencetak gol yang bagus. Momentum ada di pihak kami, tetapi kemudian mereka mulai melemparkan kembang api.
Saya rasa mereka melakukannya dengan cerdik. Itu membuat tempo pertandingan menurun," ujar Amrabat.
Reporter Wytse van der Goot kemudian mengingatkan bahwa skor sudah 2-1 ketika pertandingan dihentikan sementara.
Amrabat menyetujui bahwa para pemain tidak seharusnya saling menyalahkan atas situasi tersebut.
"Ya, benar. Saya rasa kami juga tidak boleh saling menyalahkan," ujar Amrabat.
Ia secara khusus membela Torrents, yang dinilai tampil buruk ketika gol yang mengubah skor menjadi 2-1 terjadi.
Amrabat menegaskan bahwa pertandingan tersebut merupakan penampilan pertama Torrents dan kesalahan individu seharusnya ditanggapi sebagai tanggung jawab kolektif.
"Ini tidak menyenangkan bagi anak itu. Dia berlatih sangat keras dan sangat baik.
Ini pertandingan pertamanya, jadi kami tidak menyalahkannya. Kami seharusnya bangkit sebagai tim untuk menebus kesalahannya, tetapi kami tidak melakukannya," ujar Amrabat.
Amrabat juga membandingkan situasi Ajax dengan hasil pertandingan yang melibatkan PSV dan Heerenveen pada akhir pekan sebelumnya.
Ia menilai hasil dari peluang-peluang besar terkadang berbeda, tetapi timnya tetap harus memperbaiki performa tanpa menjadikan keberuntungan sebagai alasan.
"Saat ini keadaan memang sedang tidak berpihak kepada kami. Kalau melihat PSV akhir pekan lalu, Heerenveen juga mendapat peluang yang sangat besar...
Kami sekarang sedang berada dalam situasi sulit. Kalau peluang itu didapat saat melawan kami, mereka akan mencetak gol.
Saat melawan PSV, peluang itu tidak menjadi gol, lalu PSV memenangi pertandingan. Mungkin ini juga sedikit soal keberuntungan," ujar Amrabat.
Meski mengakui Ajax sedang mengalami masa sulit, ia menegaskan bahwa tim harus meningkatkan kerja keras dan menjaga kepercayaan diri.
Amrabat juga menolak menyerah di tengah musim yang masih panjang.
"Namun, itu tidak boleh menjadi alasan. Kami harus lebih baik.
Kami tidak boleh membiarkan keadaan sampai seperti itu pada momen-momen penting. Kami harus bekerja sangat keras, itu jelas.
Apa saya harus menyerah sekarang?" ujar Amrabat.
Ia menilai perjalanan musim masih panjang dan belum ada keputusan akhir mengenai pencapaian Ajax.
Karena itu, ia meminta tim mempertahankan keyakinan serta bekerja lebih keras untuk membalikkan keadaan.
"Musim masih panjang. Kami harus memperkuat kepercayaan diri dan bekerja sangat keras.
Kami harus sadar, karena belum ada yang diputuskan," ujar Amrabat.
Di luar persoalan pertandingan, suasana keamanan di Split juga menjadi perhatian.
Menurut laporan Suara Independent News pada 15 Oktober 2026, kelompok suporter Hajduk Split diduga meneriakkan slogan antisemit dan merusak peti mati bertuliskan Ajax ketika bergerak menuju stadion.
Kepolisian Kroasia telah memulai penyelidikan pidana untuk mengidentifikasi pihak yang terlibat.
Kepolisian Kroasia menyatakan penyelidikan mencakup pernyataan yang diduga mengandung unsur pidana selama iring-iringan suporter tuan rumah.
"Selama iring-iringan suporter tuan rumah, ditemukan pernyataan yang berkarakter pidana.
Penyelidikan pidana telah dimulai untuk menetapkan seluruh fakta, mengidentifikasi para pelaku, dan mengambil langkah hukum lebih lanjut terhadap mereka," demikian pernyataan kepolisian Kroasia.
Laporan Suara Independent News juga menyebutkan bahwa 60 orang ditangkap pada malam Rabu hingga Kamis setelah bentrokan antara suporter Hajduk Split dan Ajax.
Sebelum pertandingan, pendukung Ajax juga dilaporkan menghadapi ancaman keamanan sehingga disarankan tetap berada di kamar hotel sebisa mungkin.