Berlliana Lovell membatalkan sejumlah pekerjaan setelah mengalami dugaan pelecehan verbal dalam siaran langsung TikTok bersama kreator konten asal Sumatera, Amat Jelangskuy.
Selebgram sekaligus aktris itu mengungkapkan pengalamannya di Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (15/10/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Hot.
Menurut Berlliana, interaksi yang semula normal berubah setelah Amat diduga melontarkan ucapan bernada tidak senonoh dan mengajukan pertanyaan sensitif.
Ia mengaku merasa takut bahkan ketika mendengar suara kreator tersebut dalam video.
Berlliana menjelaskan bahwa dirinya lebih terbiasa menghadapi komentar negatif berbentuk tulisan.
Namun, komunikasi langsung melalui siaran virtual menimbulkan reaksi emosional dan fisik yang berbeda.
"Jujur aku takut dan kena mental. Sampai sekarang kalau mau baca komentar dan ada suara dia di video, suaranya aku kecilin.
Setiap dengar itu detak jantung langsung terpacu kencang, tangan juga gemetar," ujar Berlliana Lovell.
Manajer Berlliana, Nanda Persada, menyebut kondisi tersebut memengaruhi kegiatan profesional sang artis.
Berlliana tidak dapat menghadiri pekerjaan yang sudah dijadwalkan pada hari kejadian karena tekanan psikologis yang dialaminya.
"Hari ini sebenarnya Berlliana ada kegiatan pekerjaan, tapi akhirnya tidak bisa datang karena tekanan psikis. Artinya ada dampak nyata terhadap tanggung jawab profesionalnya," ujar Nanda Persada.
Nanda juga menyampaikan bahwa Berlliana sempat membicarakan rencana untuk berkonsultasi dengan psikolog.
Pihak manajemen akan menyarankan pemeriksaan profesional apabila kondisi Berlliana belum menunjukkan perbaikan.
"Semalam Berlli sempat komunikasi dengan saya, memang ada rencana ke sana (psikolog). Kalau kondisinya belum membaik, kami sarankan untuk segera periksa.
Berlliana ini hatinya cukup sensitif dan halus, jadi kejadian seperti ini sangat membebani pikirannya," ujar Nanda.
Berlliana turut menyoroti batasan dalam interaksi di media sosial.
Ia menilai candaan tidak seharusnya menjadi pembenaran untuk tindakan yang mengarah pada pelecehan, terutama ketika komunikasi berlangsung secara terbuka di ruang digital.
"Bercanda itu boleh, aku pun sehari-hari kerjanya bercanda. Tapi kita harus paham mana bercanda dan mana pelecehan.
Jangan sampai situasinya dibalik, tindakan yang jelas-jelas melecehkan malah dianggap sekadar lelucon," tegas Berlliana.
Nanda, yang juga menjabat Ketua Umum Ikatan Manajer Artis Indonesia (Imarindo), menekankan peran agensi dan manajemen dalam mengawasi perilaku kreator konten.
Menurutnya, pengawasan diperlukan untuk menjaga interaksi selama siaran langsung agar tetap menghormati orang lain.
"Kalau seorang kreator dianggap punya kekurangan dalam berkomunikasi, semestinya pihak agensi atau manajemen ikut bertanggung jawab mengawasi. Di setiap live streaming ada peran moderator.
Moderator itulah yang harus menjaga jalannya siaran agar tidak menyimpang ke hal-hal yang merendahkan orang lain," ujar Nanda.