Vicky Prasetyo mempertanyakan sikap artis dan influencer yang memilih diam soal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Ia mendesak rekan selebritas memakai privilese yang dimiliki untuk menyoroti dampak karhutla.
Kritik itu disampaikan Vicky melalui unggahan media sosial pada Jumat (16/10).
Ia membandingkan ramainya konten artis dan influencer soal tren viral hingga gaya hidup mewah dengan minimnya suara mereka mengenai karhutla.
Sindiran untuk Pemilik Jutaan Pengikut
Vicky menyapa langsung teman-teman artis, influencer, hingga akun media sosial centang biru yang punya jutaan pengikut.
Menurutnya, jari mereka paling lincah membuat konten saat membahas tren joget viral, isu selingkuh artis, atau pamer gaya hidup mewah.
Namun ia mempertanyakan mengapa bibir mereka mendadak kelu dan akun mereka bisu ketika hutan dibakar sampai langit menguning.
Vicky tidak menyinggung secara lantang selebritas yang dimaksud.
Ia hanya menekankan bahwa figur publik dengan jutaan pengikut punya pengaruh membangun opini publik dan mendorong pengambil kebijakan merespons persoalan tersebut.
Dalam pandangannya, artis dan influencer bukan sekadar penonton biasa, melainkan bagian dari algoritma media sosial.
Satu unggahan dinilai bisa mengirim opini publik, sementara satu suara bisa menekan pengambil kebijakan.
Vicky menyentil pihak yang menurutnya hanya memanfaatkan rakyat untuk panen viewers dan endorsement.
Ia juga menuduh ada yang berpura-pura netral demi menjaga citra saat rakyat kecil kekurangan oksigen.
Vicky meminta pengaruh itu dipakai untuk bersuara menyelamatkan hutan.
Jika tidak, ia menantang mereka mengakui bahwa jutaan followers hanya dipakai untuk menjilat para penguasa.
Vicky turut menyoroti dampak kebakaran hutan terhadap masyarakat hingga satwa.
Ia menyebut kelompok rentan, seperti bayi dan lansia, berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Menurutnya, bayi-bayi dan lansia di sana sedang bertarung nyawa, tenggorokannya terbakar, dan paru-parunya diracuni meski bernapas di rumah sendiri.
Ia juga menyayangkan hutan yang hangus dan satwa yang mati terpanggang tanpa area aman untuk berlari.
Sementara itu, ia menyindir pihak yang hanya duduk manis menonton dari balik layar smartphone.
Respons Chacha Frederica dan Kondisi Asap
Unggahan Vicky ramai dikomentari pengguna media sosial, termasuk akun centang biru dengan banyak pengikut.
Mereka setuju dengan pendapat dan desakan yang Vicky tujukan kepada influencer maupun artis yang masih bungkam terhadap kondisi karhutla.
Presenter Chacha Frederica ikut geram dengan sikap sejumlah selebritas dan influencer yang memiliki banyak pengikut.
Chacha menegaskan dirinya tidak bisu dan mengaku capek dengan influencer yang hanya menampilkan konten kecantikan, fesyen, serta kelucuan anaknya demi komentar gemas.
Ia menilai sikap sok netral demi brand tidak lagi relevan karena persoalan ini menyangkut hak dasar hidup manusia dan kemanusiaan.
Chacha juga menyoroti urusan Aceh dan NTT yang menurutnya belum tuntas betul.
Sejumlah wilayah Indonesia masih dibekap asap karhutla.
Berdasarkan pantauan BMKG melalui citra satelit Himawari pukul 08.00 WIB pada Senin (19/10), indikasi sebaran asap bergerak ke arah barat laut hingga timur laut.
Sebaran kabut asap masih berada di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung.
Asap juga terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Selain itu, asap terlihat bergerak di Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
BNPB mencatat masih ada 5.499 titik panas dan 247 titik api pada enam provinsi prioritas karhutla.
Data itu berdasarkan Dashboard Informasi Penanganan Karhutla per Minggu (18/10).
Kualitas udara di empat daerah masuk kategori berbahaya atau hitam.
Keempat daerah itu adalah Pangkalan Bun dan Palangkaraya di Kalimantan Tengah, serta Muaro Jambi dan Kota Jambi di Jambi.
Data kualitas udara tersebut diperoleh dari pantauan BMKG per Senin (19/10) pukul 08.00 WIB.
