SURABAYA, SURABAYAINSIDE.com - Ada kemenangan yang nilainya jauh melampaui tiga poin. Bagi Cesc Fabregas, keberhasilan Como 1907 menggilas Manchester United 4-1 di Stadio Giuseppe Sinigaglia, Rabu (21/10/2026), adalah hadiah untuk suporter yang tidak pernah pergi saat klubnya terpuruk.
Persembahan untuk yang Setia
Fabregas mengatakan timnya mengetahui sejarah klub ini dan betapa banyak penderitaan yang dialami para pendukung selama bertahun-tahun, seperti dikutip dari ESPN. Pelatih asal Spanyol itu berharap anak-anak di Kota Como berangkat sekolah keesokan paginya memakai jersey Como dengan rasa bangga. Ia juga puas karena para pemainnya menjalankan persis apa yang dilatih — termasuk pressing tanpa henti sampai menit ke-85 — sebagai bukti budaya dan identitas permainan yang sedang dibangun di klub milik Grup Djarum tersebut.
Panggung Nico Paz
Di lapangan, bintang malam itu bernama Nico Paz. Gelandang 22 tahun jebolan akademi Real Madrid tersebut mencetak dua gol (salah satunya gol pembuka), memberi assist untuk gol Anastasios Douvikas, dan menyabet gelar Player of the Match. Ia sekaligus tercatat sebagai pemain termuda — 22 tahun 43 hari — yang terlibat dalam minimal tiga gol pada satu pertandingan Liga Champions menghadapi Manchester United. Paz menyebutnya salah satu malam terindah dalam kariernya, malam bersejarah untuk pendukung Como yang tak akan ia lupakan.
Musim Debut yang Mengejutkan Eropa
Ini musim pertama Como di kompetisi elite Eropa, dan mereka langsung membuat raksasa pemilik tiga gelar Liga Champions itu pulang dengan kekalahan telak. Dua kemenangan dari tiga pertandingan membawa Como ke peringkat sembilan league phase — membuka peluang lolos ke fase gugur — sekaligus menyamai jejak Lazio 1999/2000 sebagai klub Italia yang memenangi dua laga kandang pertamanya di Liga Champions.