unique visitors counter
⌂ Beranda › Ragam › Naskah Khutbah Jumat 23 Oktober 2026: Pemimpin yang Adil, Amanah yang Akan Dimintai Pertanggungjawaban
Ragam

Naskah Khutbah Jumat 23 Oktober 2026: Pemimpin yang Adil, Amanah yang Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Naskah Khutbah Jumat 23 Oktober 2026: Pemimpin yang Adil, Amanah yang Akan Dimintai Pertanggungjawaban
Ilustrasi jamaah melaksanakan salat Jumat • AFP via Liputan6
A A Ukuran Teks16px

SURABAYA, SURABAYAINSIDE.com - Umat selalu merindukan pemimpin yang adil, terutama setelah wafatnya Rasulullah saw dan berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin. Sebab sejarah menunjukkan, negeri yang dipimpin secara tidak adil — hukumnya tajam ke bawah, tumpul ke atas — akan rusak oleh kepentingan pribadi dan golongan. Naskah khutbah Jumat 23 Oktober 2026 berikut mengangkat tema tersebut untuk bahan para khatib.

Khutbah I: Adil Itu Amanah

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menjadikannya haram pula di antara hamba-hamba-Nya. Kami bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, pemimpin yang keadilannya dirasakan kawan maupun lawan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau beserta keluarga dan sahabatnya.

Jamaah Jumat yang berbahagia, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian: bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Baqarah ayat 197. Pemimpin tanpa takwa mudah tergelincir; pemimpin bertakwa tahu bahwa setiap kebijakan dicatat dan akan dipertanggungjawabkan.

Hadirin rahimakumullah, negeri yang makmur lahir dari kepemimpinan yang adil. Keadilan berarti memperlakukan rakyat secara setara dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Pemimpin yang sebaliknya — berat sebelah dan sewenang-wenang — adalah pemimpin yang zalim, dan Allah telah memperingatkan dalam QS Asy-Syura ayat 42 bahwa orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa hak akan merasakan azab yang pedih.

Ingatlah pula bahwa jabatan adalah amanah. Nabi saw, dalam hadis riwayat Bukhari tentang tanda-tanda munafik, menyebut salah satu cirinya: bila dipercaya, ia berkhianat. Menurut Imam Abdullah at-Tabrizi dalam kitab Misykatul Mashabih, berkhianat atas amanah artinya menyalahgunakan tanggung jawab yang dipikulnya. Maka setiap penyalahgunaan wewenang adalah pengkhianatan — dan ganjarannya mengerikan: hadis riwayat Muslim menegaskan pemimpin yang meninggal dalam keadaan curang terhadap rakyatnya tidak akan mencium surga, dan hadis riwayat Ahmad menyebut pemimpin yang tidak adil akan dicampakkan wajahnya ke neraka.

Maka wahai para pemegang amanah, berlaku adillah — di pemerintahan, di tempat kerja, dan di rumah tangga — karena keadilan mendatangkan pahala besar dan keberkahan bagi negeri. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku dan dosa kalian, serta dosa seluruh muslimin dan muslimat, dan menerima amal ibadah kita semua.

Khutbah II: Doa untuk Negeri

Alhamdulillah, kami memuji Allah dan memohon pertolongan-Nya. Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad saw. Bertakwalah kepada Allah; Dia memerintahkan keadilan dan kebajikan serta melarang kekejian, kemungkaran, dan permusuhan (QS An-Nahl ayat 90) — semoga kita termasuk orang yang mengambil pelajaran.

Ya Allah, ampunilah seluruh mukminin dan mukminat, yang hidup di antara kami dan yang telah mendahului kami. Ya Allah, jagalah negeri kami tercinta Indonesia dari segala bala, wabah, gempa, dan fitnah; tolonglah saudara-saudara kami di Palestina dan seluruh negeri muslim, bebaskan mereka dari penjajahan dan kezaliman. Ya Allah, kami mengakui telah menzalimi diri kami; ampunilah dan rahmatilah kami agar kami tidak termasuk orang yang merugi. Berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungi kami dari azab neraka. Ingatlah Allah yang Maha Agung, niscaya Dia mengingatmu.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru