Surabaya Membara: Aksi Demo Ricuh, Jalan Basuki Rahmat Lumpuh, Warga Terjebak di Tengah Kobaran Api dan Asap

Surabaya Membara: Aksi Demo Ricuh, Jalan Basuki Rahmat Lumpuh, Warga Terjebak di Tengah Kobaran Api dan Asap

Demo-Instagram-


Surabaya Membara: Aksi Demo Ricuh, Jalan Basuki Rahmat Lumpuh, Warga Terjebak di Tengah Kobaran Api dan Asap

Kota Pahlawan kembali diguncang gelombang protes besar-besaran yang berujung pada kericuhan serius, menyisakan kekacauan di jantung kota dan meninggalkan trauma mendalam bagi warga. Ribuan massa dari berbagai lapisan masyarakat memadati Jalan Basuki Rahmat, salah satu arteri utama Surabaya, dalam aksi demonstrasi yang awalnya damai, namun berubah menjadi chaos dalam hitungan jam.



Aksi unjuk rasa yang digelar sejak Senin pagi (15/4) tersebut berlangsung dengan intensitas tinggi. Massa yang berasal dari berbagai kelompok mahasiswa, buruh, aktivis sosial, hingga warga biasa berkumpul untuk menyampaikan kekecewaan terhadap kinerja Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dinilai semakin jauh dari suara rakyat. Tuntutan utama mereka tegas: pembubaran DPR.

Namun, situasi yang mulanya terkendali berubah drastis saat massa mulai melakukan aksi pembakaran di depan Tunjungan Plaza, salah satu pusat perbelanjaan paling ikonik di Jawa Timur. Kobaran api membubung tinggi, disertai asap hitam pekat yang membubung ke langit, menciptakan suasana mencekam bak adegan film perang. Warga yang sedang beraktivitas di sekitar pusat kota panik, terjebak di tengah kerumunan, sementara kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali.

Jalan Protokol Lumpuh, Aktivitas Ekonomi Terhenti
Akibat bentrokan dan pembakaran, Jalan Basuki Rahmat lumpuh total. Jalur vital yang menghubungkan pusat bisnis, kantor pemerintahan, dan kawasan wisata ini menjadi jalur terlarang bagi kendaraan umum maupun pribadi. Petugas kepolisian terpaksa menutup semua akses masuk dan keluar, sementara petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api yang mulai menjalar ke fasilitas umum.



Toko-toko di sepanjang jalan ditutup secara darurat. Beberapa pedagang kaki lima melarikan diri, meninggalkan lapak mereka. “Saya baru buka jam 8 pagi, eh jam 10 sudah harus kabur. Semua barang belum sempat diangkut,” keluh Siti, penjual es campur yang berjualan di dekat Taman Apsari.

Dampak ekonomi pun mulai terasa. Pusat perbelanjaan seperti Tunjungan Plaza, Pakuwon Mall, dan Grand City sementara waktu ditutup. Aktivitas perdagangan, transportasi, dan pariwisata terhenti. “Ini bukan cuma soal demo, ini soal hidup orang banyak,” ujar Rudi, seorang sopir taksi online yang terjebak selama lebih dari dua jam di Jalan Embong Malang.

Dari Damai ke Anarkis: Aksi yang Terprovokasi?
Aksi demonstrasi awalnya berlangsung tertib. Massa membawa spanduk bertuliskan tajam seperti "DPR Tidak Mendengar, Rakyat Harus Berteriak!" dan "Hentikan Politik Tebang Pilih!". Mereka menyanyikan lagu-lagu perjuangan, menggelar orasi, dan bahkan sempat berdoa bersama sebagai simbol solidaritas.

Namun, ketika aparat kepolisian mulai menghalau massa dengan water cannon dan gas air mata, situasi memanas. Beberapa oknum tak dikenal diduga sengaja menyulut emosi massa dengan melemparkan batu, botol, dan kemudian membakar ban serta material kayu di depan pintu masuk Tunjungan Plaza.

“Saya lihat ada orang pakai baju preman, bukan mahasiswa, yang memprovokasi bakar-bakar. Mereka bukan bagian dari rombongan kami,” ungkap Dinda, mahasiswi Universitas Airlangga yang ikut dalam aksi.

Kepolisian Daerah Jawa Timur menyatakan bahwa mereka telah mengidentifikasi sejumlah pelaku provokasi yang diduga sengaja ingin menciptakan kekacauan. “Kami sedang melakukan penyelidikan. Ada indikasi kelompok tertentu yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan politik terselubung,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol. M. Nur.

Baca juga: Sri Sultan HB X Tampil dengan Gending Raja Manggala, Cara Kultural Redam Aksi Massa yang Bikin Netizen Terharu

TAG:
Sumber:


Berita Lainnya