To My Beloved Thief Episode 9-10: Badai Pengkhianatan Mengguncang Istana Joseon, Cinta Yi Yeol-Eun Jo Diuji di Ambang Jurang
My beloved-Instagram-
To My Beloved Thief Episode 9-10: Badai Pengkhianatan Mengguncang Istana Joseon, Cinta Yi Yeol-Eun Jo Diuji di Ambang Jurang
Drama Korea terbaru To My Beloved Thief kembali mengukir catatan emosional yang mendalam pada episode kesembilan dan kesepuluh yang tayang Sabtu-Minggu (24-25 Januari 2026). Serial produksi tvN ini, yang direncanakan berjumlah 16 episode dengan jadwal tayang reguler setiap akhir pekan pukul 20.00 WIB, kini telah memasuki fase krusial separuh perjalanan narasinya. Dengan durasi 70 menit per episode, penonton diajak menyelami pergulatan batin Pangeran Yi Yeol (Lee Jae Wook) dan Eun Jo (Kim Hye Yoon) dalam kisah cinta lintas waktu yang semakin rumit oleh intrik politik, pengkhianatan tersembunyi, dan ancaman terhadap identitas sejati sang tokoh utama. Episode-episode terbaru ini tidak hanya menghadirkan adegan penuh aksi, tetapi juga menorehkan dialog-dialog menusuk jiwa yang membuat penonton terpaku hingga detik terakhir.
Titik Balik Pertukaran Jiwa: Kembalinya Kesadaran ke Tubuh Asal
Episode delapan menjadi penanda transformasi besar dalam alur cerita To My Beloved Thief. Setelah sekian lama terjebak dalam misteri pertukaran jiwa yang membingungkan, akhirnya kesadaran Pangeran Yi Yeol dan Eun Jo kembali ke tubuh masing-masing. Momen haru ini disajikan melalui sinematografi yang memukau: sorotan kamera slow motion menangkap tatapan kosong Yi Yeol yang perlahan berubah menjadi kejelasan, disusul air mata Eun Jo yang mengalir deras saat ia menyadari kembali berada dalam tubuhnya sendiri. Bagi penonton, adegan ini bukan sekadar resolusi teknis plot, melainkan simbol kemenangan atas kekacauan yang selama ini menghantui keduanya.
Namun, kelegaan itu bersifat sementara. Kembalinya kesadaran justru membuka babak baru yang lebih berbahaya. Yi Yeol, kini dengan pikiran jernih, segera menyadari ancaman yang mengintai Eun Jo dari bayang-bayang Istana Joseon. Ia tak lagi bisa mengandalkan "keberuntungan" pertukaran jiwa untuk melindunginya. Sebaliknya, ia harus menggunakan seluruh kecerdasan politik dan keberanian sebagai pangeran untuk menghadapi musuh yang tak terlihat—sebuah tantangan yang jauh lebih menakutkan daripada sekadar kebingungan identitas.
Tuduhan Mengerikan: Yi Yeol Dituduh Membebaskan Gil Dong
Badai pertama menghantam tak lama setelah kembalinya kesadaran. Secara tiba-tiba, Yi Yeol dituduh telah membebaskan Gil Dong—sang pencuri legendaris yang selama berabad-abad menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan feodal di Korea Joseon. Tuduhan ini bukan berasal dari rakyat jelata, melainkan dari faksi oposisi elit istana yang selama ini diam-diam memendam dendam terhadap keluarga kerajaan. Mereka memanfaatkan kekacauan pasca-pertukaran jiwa untuk melemahkan posisi Yi Yeol secara politik.
Yang membuat tuduhan ini begitu mematikan adalah timing-nya yang sempurna. Pasukan keamanan kerajaan memang kehilangan jejak Gil Dong beberapa hari sebelumnya, dan Yi Yeol—yang sering terlihat berada di lokasi tak terduga—menjadi tersangka utama. Di balik layar, penonton menyaksikan bagaimana faksi oposisi dengan licik menyusun bukti palsu: surat palsu bertanda tangan Yi Yeol, saksi bayaran yang bersedia bersumpah palsu, hingga manipulasi catatan penjagaan istana. Atmosfer istana berubah menjadi medan perang diam-diam, di mana setiap senyum menyembunyikan pisau, dan setiap jabat tangan bisa berarti pengkhianatan.
Kecemburuan Jae Yi: Ambisi yang Berubah Menjadi Racun
Di tengah badai tuduhan yang menghantam Yi Yeol, muncul faktor pengganggu lain yang memperkeruh situasi: kecemburuan membara Putri Jae Yi. Karakter yang selama ini digambarkan sebagai sosok anggun dengan senyum menawan kini menunjukkan wajah aslinya—seorang wanita ambisius yang rela menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya menuju takhta dan cinta Yi Yeol.
Dalam adegan yang penuh ketegangan pada episode sembilan, Jae Yi terlihat berbisik dengan pejabat tinggi istana, menyebarkan desas-desus bahwa Eun Jo bukan sekadar tabib biasa, melainkan mata-mata musuh yang menyusup ke istana dengan misi menghancurkan dari dalam. Ia bahkan berani mendatangi Yi Yeol secara langsung, dengan suara bergetar pura-pura khawatir: "Kakak tidak sadar bahwa wanita itu membawa racun dalam senyumnya? Ia akan menghancurkan nama baik keluarga kita!"
Namun, respons Yi Yeol justru menjadi momen ikonik yang viral di media sosial Korea. Dengan tatapan tajam dan suara tenang namun tegas, ia berkata: "Aku rela kehilangan segalanya—gelar, kehormatan, bahkan nyawa—jika itu berarti bisa melindungi Eun Jo." Kalimat ini tidak hanya menjadi bukti cintanya yang tak tergoyahkan, tetapi juga memicu kemarahan Jae Yi yang semakin tak terkendali. Di balik pintu tertutup, penonton melihat Jae Yi menghancurkan vas porselen mahal dengan tangannya sendiri—simbol kemarahan yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
Dilema Hidup-Mati Eun Jo: Antara Menyelamatkan Jiwa atau Melindungi Rahasia
Sementara Yi Yeol berjuang di medan politik istana, Eun Jo menghadapi ujian yang tak kalah berat di dunia nyata. Dalam adegan penuh aksi yang menjadi highlight episode sepuluh, pasukan penjaga istana tiba-tiba menyerbu sebuah klinik rahasia di pinggiran Seoul tempat Eun Jo diam-diam merawat warga miskin yang tak mampu membayar pengobatan. Serbuan ini jelas bukan kebetulan—seseorang telah membocorkan lokasi klinik tersebut.
Di tengah kekacauan, Eun Jo dihadapkan pada pilihan mustahil: melarikan diri demi menjaga identitasnya sebagai keturunan Gil Dong tetap rahasia, atau tetap tinggal dan berisiko tertangkap demi menyelamatkan para pasien yang tak berdosa—termasuk seorang nenek tua dan dua anak yatim piatu. Tanpa ragu, ia memilih jalan yang penuh pengorbanan. Dengan keahlian bela diri warisan leluhurnya, Eun Jo berhasil mengalihkan perhatian pasukan dengan melempar obor ke arah gudang kosong, menciptakan kebakaran kecil sebagai pengalih.
Ia kemudian memandu para pasien melalui lorong bawah tanah yang selama ini menjadi jalur evakuasi darurat. Namun, dalam proses pelarian yang penuh tekanan, sebuah medali emas peninggalan keluarga—benda sakral yang menjadi bukti kuat identitasnya sebagai keturunan langsung Hong Gil Dong—terlepas dari lehernya dan jatuh di antara reruntuhan. Medali itu kemudian ditemukan oleh komandan pasukan yang curiga, membuka jalan bagi terbongkarnya rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dengan darah dan air mata.
Retaknya Kepercayaan: Ketika Cinta Tak Lagi Cukup
Menyadari ancaman yang semakin dekat, Yi Yeol diam-diam menyusun strategi cerdas. Ia merekrut sekutu tak terduga: seorang mantan tahanan politik bernama Park Min-ho yang pernah diselamatkannya lima tahun lalu dari hukuman mati. Park, yang kini menjadi informan di kalangan bawah tanah, menjadi mata dan telinga Yi Yeol untuk melacak gerakan faksi oposisi. Strategi ini bertujuan ganda: membersihkan nama Yi Yeol dari tuduhan membebaskan Gil Dong sekaligus melindungi Eun Jo dari kejaran pasukan kerajaan.
Namun, di balik upaya heroik ini, muncul ketegangan emosional yang tak terduga. Eun Jo mulai merasa Yi Yeol terlalu mengontrol setiap langkahnya—melarangnya pergi ke klinik, memasang pengawal di kamarnya, bahkan menyensor siapa saja yang boleh bertemu dengannya. Bagi Eun Jo yang selama ini hidup bebas sebagai "pencuri keadilan", perlindungan berlebihan ini terasa seperti sangkar emas.
Percakapan singkat namun menusuk antara keduanya di taman istana pada akhir episode sepuluh menjadi bukti nyata retaknya kepercayaan yang selama ini mereka bangun dengan susah payah. Di bawah sinar bulan pucat, Eun Jo menatap Yi Yeol dengan mata berkaca-kaca: "Aku tidak butuh perlindungan yang membuatku kehilangan jati diriku. Gil Dong tidak pernah lari dari bahaya—ia menghadapinya dengan kepala tegak. Apakah kau mencintaiku sebagai Eun Jo, atau hanya sebagai boneka yang harus kau lindungi?" Yi Yeol terdiam. Untuk pertama kalinya, sang pangeran gagal menemukan kata-kata. Ia menyadari bahwa cinta saja ternyata tak cukup menghadapi badai yang datang dari segala penjuru.