Positively Yours Episode 7-8: Badai Emosi, Intrik Korporat, dan Pertaruhan Cinta di Balik Rahasia Kehamilan
Positively-Instagram-
Positively Yours Episode 7-8: Badai Emosi, Intrik Korporat, dan Pertaruhan Cinta di Balik Rahasia Kehamilan
Gelombang drama Korea terbaru Positively Yours kembali mengguncang layar kaca pada akhir pekan ini dengan penayangan episode 7 dan 8 yang penuh gejolak. Tayang perdana Sabtu (31/1) dan Minggu (1/2/2026) pukul 21.00 WIB, dua episode krusial ini tidak hanya menguji ketahanan hubungan Kang Du-jun (diperankan oleh aktor berkarisma Choi Jin-hyuk) dan Jang Hui-won (Oh Yeon-seo), tetapi juga membongkar konflik multidimensi yang melibatkan reputasi perusahaan, intrik keluarga konglomerat, serta pergulatan batin seorang wanita yang berjuang mempertahankan martabatnya di tengah tekanan sosial. Bagi penonton Indonesia yang haus kisah romansa dengan kedalaman psikologis, Positively Yours hadir sebagai cerminan nyata tentang cinta yang diuji oleh stigma, ketimpangan kelas, dan ketakutan akan penilaian publik.
Penolakan yang Mengguncang: Saat Cinta Bertabrakan dengan Martabat
Adegan pembuka episode 7 langsung menyergap emosi penonton. Di bawah langit senja yang memudar, Hui-won berdiri tegak di hadapan Du-jun yang penuh harap. Dengan suara lirih namun tegas, ia menolak tawaran "tiga kencan percobaan" yang diajukan sang pewaris konglomerat sebagai prasyarat menuju pernikahan. Bagi Hui-won—seorang profesional muda yang membangun kariernya dari bawah dengan keringat dan tekad—kehamilan bukanlah komoditas yang bisa ditukar dengan kencan romantis atau status sosial.
"Aku tidak ingin anakku kelak tumbuh dengan bayang-bayang bahwa ibunya hanya wanita yang memanfaatkan kecelakaan untuk naik kelas," ujarnya, mata berkaca-kaca menahan air mata yang tak mau jatuh. Kalimat itu bukan sekadar penolakan; ia adalah teriakan batin seorang perempuan yang takut dicap sebagai "ibu pengganti beruntung" oleh masyarakat. Di balik senyumnya yang sering terlihat tenang, Hui-won menyimpan luka mendalam akibat pengalaman masa lalu di mana ia kerap diremehkan karena latar belakang ekonomi yang sederhana. Kini, ia bersumpah tidak akan membiarkan kehamilannya menjadi alasan bagi orang lain untuk meragukan integritasnya.
Du-jun yang biasanya tampil dingin dan penuh kendali sebagai CEO muda, terlihat lumpuh dalam diam. Tatapannya kosong mengikuti sosok Hui-won yang pergi menjauh, meninggalkan jejak keheningan yang lebih menusuk daripada ribuan kata penolakan.
Sahabat Sejati dan Pengakuan yang Menggetarkan Hati
Di kediaman mewah bergaya minimalis yang dipenuhi lukisan abstrak, Cha Min-uk (Hong Jong-hyun) menunggu dengan secangkir kopi yang telah mendingin. Sebagai sahabat masa kecil sekaligus penasihat kepercayaan Du-jun, Min-uk tidak ragu mengajukan pertanyaan yang selama ini mengganjal benaknya: "Apakah kau yakin Hui-won tidak akan terluka jika kelak ia dianggap sebagai 'alat' untuk melanjutkan garis keturunan keluargamu? Atau kau hanya merasa berkewajiban karena janin itu membawa darahmu?"
Jawaban Du-jun mengalir deras, seolah bendungan emosi yang selama ini ia tahan akhirnya jebol. "Aku marah setiap kali ia menghindar. Aku cemburu buta melihatnya tertawa dengan rekan kerja pria. Ini bukan soal kewajiban—ini soal rasa takut kehilangan wanita yang membuatku merasa manusia biasa, bukan sekadar simbol kekayaan," ungkapnya dengan suara parau. Pengakuan ini membuka tabir sisi paling rentan Du-jun: seorang pria yang sejak kecil dibesarkan dalam tekanan warisan keluarga, kini belajar mencintai tanpa syarat untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Chemistry antara Choi Jin-hyuk dan Hong Jong-hyun dalam adegan ini begitu natural, seolah penonton diajak menyaksikan dialog dua sahabat sejati yang saling menjaga di tengah badai kehidupan.
Badai Reputasi: Skandal Model dan Perebutan Tahta Korporat
Sementara Du-jun berjuang memperbaiki hubungannya dengan Hui-won, badai lain mengamuk di balik pintu kantor pusat perusahaan keluarganya. Seorang model ternama yang menjadi wajah kampanye produk kecantikan terbaru—yang notabene dipilih langsung oleh Du-jun—terciduk polisi karena mengemudi dalam keadaan mabuk berat. Video insiden tersebut menyebar viral di media sosial dalam hitungan jam, memicu gelombang kecaman dari netizen Korea Selatan yang menuntut boikot produk terkait.
Dewan direksi yang selama ini diam-diam meragukan kemampuan Du-jun menggantikan mendiang ayahnya sebagai pemimpin tertinggi, kini bersuara lantang. Rapat darurat digelar di ruang direksi bertirai sutra, di mana para eksekutif senior mempertanyakan insting bisnis Du-jun yang "terlalu emosional". Yang lebih memicu tensi, kakak iparnya, Hye-sun—yang selama ini haus kekuasaan dan iri pada posisi Du-jun—diam-diam memanfaatkan momentum ini. Ia mengumpulkan tanda tangan untuk mosi tidak percaya, sambil membisikkan keraguan kepada para direktur: "Apakah perusahaan ini bisa dipimpin oleh seseorang yang lebih mementingkan urusan pribadi daripada reputasi merek?"
Intrik ini tidak hanya menguji ketangguhan Du-jun sebagai pemimpin, tetapi juga memperlihatkan realitas gelap dunia bisnis Korea Selatan di mana keluarga kerap menjadi medan pertempuran kekuasaan yang tak kenal ampun.
Pergulatan Batin Hui-won: Antara Cinta, Karier, dan Bayi yang Belum Lahir
Di sisi lain, Hui-won terjebak dalam labirin ketakutan yang semakin rumit. Setiap malam, saat tangannya menyentuh perut yang perlahan membesar, ia membayangkan skenario terburuk: rekan kerjanya menatapnya dengan iba atau sinis, atasan memanggilnya ke ruangan dengan alasan "evaluasi kinerja", bahkan kemungkinan dipecat dengan dalih "mencoreng citra perusahaan" karena menjadi "wanita simpanan bos". Sebagai wanita karier yang membanggakan kemandiriannya, bayangan itu lebih menakutkan daripada kesepian.
Akibatnya, ia sengaja menjaga jarak dari Du-jun di lingkungan kerja—menolak ajakan makan siang, mengalihkan panggilan teleponnya, bahkan memilih naik taksi daripada menerima tumpangan mobilnya. Namun ironisnya, sikap dingin ini justru memperkuat tekad Du-jun. Dalam monolognya kepada Min-uk, ia berkata: "Ia menjauh karena takut. Dan aku akan membuktikan bahwa ketakutannya salah tempat." Dialog internal ini memperlihatkan kedalaman karakter yang jarang ditemukan dalam drakor konvensional: cinta yang tidak hanya tentang kejar-mengejar, tetapi tentang pemahaman akan trauma pasangan.
Prediksi Plot: Titik Balik yang Mengubah Segalanya
Episode 7-8 diprediksi menjadi turning point yang mengubah arah keseluruhan cerita. Beberapa momen krusial yang patut dinantikan:
Konfrontasi di Ruang Direksi: Du-jun dihadapkan pada ultimatum dewan yang dipicu intrik Hye-sun. Ia harus memilih antara mempertahankan posisinya sebagai CEO atau mengorbankan segalanya demi membela Hui-won di depan publik.
Dialog Jujur di Klinik Kandungan: Dalam adegan yang diprediksi paling menyayat hati, Du-jun dan Hui-won bertemu tak sengaja di ruang tunggu klinik. Di sanalah mereka akhirnya berbicara jujur tentang ketakutan masing-masing—tentang stigma sosial, trauma masa lalu, dan harapan untuk anak mereka.
Kemunculan Karakter Misterius: Seorang asisten pribadi Hye-sun yang selama ini diam-diam mengumpulkan bukti tentang kehamilan Hui-won, bersiap membocorkan rahasia tersebut ke media demi mendapatkan promosi jabatan.
Subplot Segar Min-uk: Karakter Cha Min-uk mendapat ruang lebih luas dengan kemunculan seorang desainer grafis yang membantunya menyadari bahwa cinta sejati tidak selalu datang dalam bentuk yang ia bayangkan.