Namun sejumlah analis menilai kemampuan manuver sistem Iran kemungkinan belum memenuhi kriteria hipersonik sepenuhnya.

Di pihak lain, Amerika Serikat memperkenalkan sistem hipersonik bernama Dark Eagle yang dikembangkan untuk memperkuat kemampuan pencegahan militer.

Kecepatan ekstrem dan kemampuan manuver

Istilah hipersonik digunakan untuk menggambarkan objek yang melaju dengan kecepatan minimal Mach 5, atau sekitar lima kali kecepatan suara.

Kecepatan tersebut setara lebih dari 6.000 kilometer per jam.

Salah satu sistem yang sering disebut memiliki kecepatan tertinggi adalah Avangard milik Rusia. Sistem itu diklaim mampu melaju hingga Mach 27, meskipun beberapa laporan menyebut kecepatannya lebih sering berada di kisaran Mach 12.


Meski demikian, para pakar menilai ancaman utama hipersonik bukan semata pada daya ledaknya.

Freer menjelaskan bahwa keunggulan utama senjata ini adalah kemampuannya menghindari deteksi dan intersepsi sistem pertahanan udara.

Dua konsep utama senjata hipersonik

Secara umum terdapat dua jenis sistem hipersonik yang sedang dikembangkan berbagai negara.

Jenis pertama adalah rudal boost-glide, yang diluncurkan menggunakan roket sebelum kendaraan hipersoniknya meluncur menuju sasaran dengan kecepatan sangat tinggi.

Kendaraan luncur tersebut dapat bermanuver selama perjalanan sehingga lintasannya sulit diprediksi.

Jenis kedua adalah rudal jelajah hipersonik yang terbang lebih rendah mendekati permukaan bumi agar berada di bawah jangkauan radar.

Dalam sistem ini, mesin scramjet berfungsi mendorong rudal menggunakan udara yang masuk saat terbang, memungkinkan kecepatan tetap sangat tinggi menuju target.

Banyak rudal hipersonik dirancang sebagai sistem berfungsi ganda, yang berarti dapat membawa hulu ledak nuklir maupun konvensional.

Kekhawatiran terhadap kemampuan pertahanan

Peneliti dari Missile Defence Project di Centre for Strategic and International Studies, Patrycja Bazylczyk, menjelaskan bahwa rudal hipersonik sulit dilacak oleh radar darat hingga fase akhir penerbangan.