Kondisi tersebut membuat waktu reaksi sistem pertahanan menjadi sangat terbatas.

Menurutnya, salah satu solusi yang tengah dipertimbangkan adalah memperkuat sistem sensor berbasis satelit untuk meningkatkan kemampuan deteksi.

Laporan dari Badan Riset Kongres Amerika Serikat juga menyebut bahwa arsitektur sensor yang ada saat ini belum cukup untuk memantau ancaman hipersonik secara efektif.

Perdebatan soal dampaknya terhadap peperangan

Meski menimbulkan kekhawatiran, sebagian pakar menilai pengaruh teknologi hipersonik terhadap pola perang modern tidak sepenuhnya revolusioner.

Peneliti Royal United Services Institute, Sidharth Kaushal, menilai bahwa kecepatan dan kemampuan manuver memang menjadikan senjata ini efektif terhadap target bernilai tinggi.


Namun ia menyebut masih ada berbagai cara untuk mengurangi risiko serangan, termasuk membuat pelacakan target menjadi lebih sulit bagi pihak peluncur.

Dalam konteks laut, kapal perang dapat melakukan berbagai manuver untuk menyulitkan musuh menentukan posisi target secara akurat.

Kaushal juga menilai ketergantungan pada citra satelit menjadi tantangan tersendiri karena data tersebut tidak selalu tersedia secara real time.

Meski demikian, perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi sensor diperkirakan dapat mengubah situasi tersebut di masa depan.

Klaim Rusia dan kekhawatiran Eropa

Di Eropa, perhatian terhadap senjata hipersonik banyak tertuju pada Rusia yang telah mengembangkan sejumlah sistem dengan klaim kemampuan sangat tinggi.

Pada 2024, Rusia meluncurkan rudal balistik eksperimental bernama Oreshnik ke target di kota Dnipro, Ukraina, sebagai bagian dari uji coba.

Ukraina menyebut rudal tersebut melaju sekitar Mach 11, sementara Presiden Vladimir Putin mengklaim kecepatannya sekitar Mach 10.

Putin juga menyatakan bahwa Oreshnik berpotensi diproduksi massal dan mampu menghancurkan target menjadi debu.

Selain itu, Rusia juga mengembangkan sistem lain seperti Kinzhal dan Avangard yang kerap dipromosikan sebagai senjata yang sulit dicegat.