unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Konser Ramah Lingkungan Lebih dari Sekadar Bebas Plastik dan Pilah Sampah
Hiburan

Konser Ramah Lingkungan Lebih dari Sekadar Bebas Plastik dan Pilah Sampah

Konser musik dengan konsep ramah lingkungan
Konser musik dengan konsep ramah lingkungan
A A Ukuran Teks16px

Konser musik bukan hanya tentang menikmati musik dan menciptakan kenangan.

Perubahan iklim yang semakin nyata mendorong industri musik untuk beradaptasi dengan konsep konser ramah lingkungan atau konser hijau.

Dampak Lingkungan Konser Musik

Kesadaran akan dampak lingkungan dari konser musik mulai tumbuh beberapa dekade lalu.

Tur musisi dari satu kota ke kota lain, bahkan lintas benua, serta perjalanan penonton menjadi pemicu utama.

John Buckley dari Carbon Footprint mencatat tur Madonna pada 2008, Sticky & Sweet World Tour, membawa 250 kru ke 37 lokasi selama empat bulan.

Energi yang dihabiskan setara dengan menyalakan lampu 100 watt selama 400 tahun.

Asia Guerreschi pada 2021 mencatat konsumsi energi konser terus bertambah, seperti pada tur U2 360° Tour pada 2009.

Sementara itu, penelitian C Bottrill dkk pada 2010 menyebut emisi gas rumah kaca dari industri musik Inggris pada 2007 mencapai 540 ribu ton CO2e per tahun.

Sebanyak 74 persen atau 400 ribu ton CO2e setahun berasal dari pertunjukan musik langsung, termasuk konser.

Angka ini setara dengan menyetir mobil bensin sejauh 1,6 miliar kilometer atau listrik untuk 190 ribu rumah selama setahun.

Guerreschi juga mengutip temuan bahwa 46 persen gas berbahaya dari industri musik berasal dari transportasi penonton dan artis.

Sebanyak 27 persen lainnya disebabkan energi yang dikonsumsi acara, seperti generator bensin.

Keberlanjutan: Keadilan untuk Semua

Khadijah dan Pratiwi pada 2023 menyebut keberlanjutan acara didasarkan pada konsep pembangunan berkelanjutan. Tujuannya meningkatkan ekonomi global sambil melestarikan sumber daya agar semua pihak berlaku adil.

Menurut S Henderson (2011), konser berkelanjutan tidak hanya mementingkan aspek komersial. Harus ada manajemen bertanggung jawab, ramah lingkungan, tanggung jawab sosial, serta ramah sosial, budaya, dan ekonomi.

Kebutuhan konser ramah lingkungan juga muncul dari kesadaran penonton. Guerreschi menyebut pengunjung bersedia berpartisipasi dalam festival yang lebih sedikit polusi.

Penelitian Hak Jun-song dkk (2012) mendukung hal itu. Pengunjung yang sadar lingkungan lebih terdorong memilih produk dan layanan yang relevan.

Kim Woo-hyuk dan Kim Kyung-sook (2018) menulis bahwa penyelenggara harus menyasar sisi emosional dan norma pribadi pengunjung.

Pemicu emosional dan kewajiban moral terbukti lebih kuat memengaruhi niat menjaga lingkungan dibandingkan fakta ilmiah atau tekanan sosial.

Christina Ballico dan Marisol Vazquez-Alonso (2021) menyebut inisiatif ramah lingkungan dan komunikasi efektif menjadi pendorong utama perilaku pro-lingkungan pengunjung.

Waspada Gimik

Judith Mair dan Jennifer Laing (2012) menekankan kebijakan konser ramah lingkungan harus dimotori pengelola festival. Nilai pribadi manajer, permintaan pemangku kepentingan, dan keinginan mendidik menjadi pendorong utama.

Penting melihat kebijakan secara menyeluruh agar tidak terjebak gimik. Ramah lingkungan bukan hanya memilah sampah atau anti plastik.

Marie Connolly dkk (2016) menyarankan artis dan penyelenggara membeli kredit karbon setara jejak karbon penggemar.

Biaya kompensasi bisa dimasukkan ke harga tiket dan hanya menambah satu persen secara rata-rata, tanpa menghalangi penonton.

Khadijah dan Pratiwi menegaskan aksi nyata harus menyentuh hal sistemik. Penonton dapat membedakan aksi nyata dengan gimik melalui indikator konkret.

Konser yang peduli lingkungan akan menunjukkan upaya minimalisasi limbah, penggunaan energi terbarukan, dan integrasi dengan transportasi umum.

Promotor serius juga bekerja sama dengan pemangku kepentingan yang memahami konsep berkelanjutan, menciptakan suasana inklusif, dan meningkatkan kesadaran sosial.

Dengan kebijakan strategis dan sistemik, konser dapat diyakini berkomitmen pada visi ramah lingkungan, bukan sekadar menunggangi tren untuk keuntungan semata.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru