Seoul telah menjadi 'melting pot' global bagi talenta musik, melampaui pusat kreatif seperti Stockholm dan Los Angeles.
Demikian diungkapkan produser musik Swedia Alex Karlsson yang pernah bekerja dengan BTS, SuperM, Tomorrow X Together, ENHYPEN, LE SSERAFIM, dan ATEEZ.
>>> Drama Korea Terpopuler Pekan Ini: My Royal Nemesis dan Teach You a Lesson
Pernyataan itu disampaikan Karlsson dalam panel 'From K-pop to Global Pop: Rethinking Music Without Borders' di acara Fête de la Musique+ 2026, Seoul, 8 Juni lalu.
Acara tersebut merupakan bagian dari pertukaran budaya Korea-Prancis.
Daya Tarik Sistem Produksi Korea
Menurut Karlsson, daya tarik Korea sebagai basis kreatif terletak pada akses dan struktur.
Ia menilai Korea mampu menarik talenta global kelas atas dalam skala yang tidak tertandingi oleh pusat musik Eropa.
Ia juga mengapresiasi pendekatan sistematis Korea dalam produksi musik. "Orang Korea suka sistem, dan saya pikir itulah mengapa Korea bisa mencapai posisinya sekarang," ujarnya.
"Ada resep untuk membuat lagu K-pop. Sebagai kreator, saya suka memiliki kerangka kerja, sebuah kanvas.
Di dalam kanvas itu, saya bisa melukis apa pun yang saya mau."
Karlsson membandingkan kerja dengan label Korea yang memiliki tujuan dan parameter jelas sejak awal, dengan kolaborasi Barat yang seringkali tidak terarah.
"Saat bekerja dengan artis Barat, tujuannya tidak ditetapkan. Itu murni eksplorasi.
>>> Android 14–16 Terancam Serangan Zero-Day Aktif, Segera Update!
Biasanya berakhir dengan sesi psikologi panjang dengan artis sebelum memulai," jelasnya.
Pandemi Percepat Dominasi K-pop
Karlsson juga menyebut pandemi COVID-19 mempercepat dominasi K-pop di komunitas penulis lagu global. Saat infrastruktur label Barat terpuruk, label Korea terus memesan lagu.
