New York akan memblokir pembangunan data center besar baru hingga satu tahun ke depan.
Langkah ini diambil agar negara bagian dapat membuat aturan untuk melindungi lingkungan dan jaringan listrik dari fasilitas yang boros energi tersebut.
>>> Disney Disarankan Tinggalkan Streaming, Saham Diproyeksi Naik 40%
Gubernur Kathy Hochul dijadwalkan menandatangani perintah eksekutif pada Selasa pagi.
Perintah ini memberlakukan moratorium negara bagian pertama di AS untuk data center hiperskala, yang menampung ribuan server komputer dan membutuhkan energi serta pasokan air dalam jumlah besar untuk pendinginan.
"Ketika pengembangan data center mengancam menaikkan tagihan listrik, menguras sumber daya alam, dan menciptakan ketidakpastian bagi warga New York, menjadi tanggung jawab saya untuk bertindak dan memimpin," kata Hochul dalam pernyataannya.
Perintah tersebut akan menghentikan sementara perizinan negara bagian untuk data center besar yang baru.
Perintah ini juga mengarahkan regulator negara bagian untuk membuat standar yang membahas dampak lingkungan, permintaan energi, penggunaan air, dan faktor lainnya.
Perusahaan teknologi dan pendukungnya berpendapat bahwa langkah memblokir pembangunan data center merugikan pertumbuhan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
Mereka juga menilai langkah ini memberikan keunggulan bagi China dalam persaingan memimpin industri AI yang berkembang pesat.
Sebelumnya, Maine hampir memberlakukan moratorium serupa.
>>> DJKA Usul Tambahan Anggaran Rp5,67 Triliun untuk 2027
Namun, langkah tersebut diveto oleh Gubernur Janet Mills karena akan memblokir usulan data center di sebuah kota yang kesulitan setelah penutupan pabrik lokal.
Moratorium telah diusulkan di setidaknya selusin negara bagian tetapi belum berjalan jauh. Meski demikian, beberapa kabupaten dan kota telah memberlakukan larangan sementara mereka sendiri.
Keputusan di New York juga memiliki signifikansi politik bagi kampanye pemilihan ulang Hochul dan persaingan kongres negara bagian yang ketat musim gugur ini.
