Di Gaza yang dilanda perang, sekelompok pemain sepak bola muda yang kehilangan anggota tubuh tetap bertekad mengejar mimpi tampil di panggung global.
Mereka berlari di lapangan dengan kruk, menendang bola dengan satu kaki, dan menunjukkan bahwa semangat sepak bola tidak bisa dipadamkan oleh bom.
Pemain yang Terluka Akibat Perang
Tim sepak bola amputasi Gaza terdiri dari para pemain yang kehilangan anggota tubuh dalam perang yang melanda wilayah tersebut.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Gaza memiliki lebih dari 5.000 orang yang diamputasi, satu dari lima di antaranya adalah anak-anak.
Rozan Khaira, seorang pelari berusia 24 tahun, kehilangan kaki kirinya pada November 2023 ketika sebuah peluru artileri mendarat di depan rumahnya.
Ayahnya juga harus menjalani amputasi kedua kakinya, sementara saudara laki-lakinya mengalami patah tulang panggul.
Karena sebagian besar rumah sakit tutup, Khaira tidak bisa mendapatkan perawatan tepat waktu. Infeksi semakin parah sehingga ia harus menjalani operasi amputasi lebih lanjut.
Ia menemukan penghiburan dalam sepak bola.
Awalnya, menggiring bola dengan satu kaki sambil menjaga keseimbangan di atas kruk terasa hampir mustahil, tetapi dengan latihan ia akhirnya mencetak gol pertamanya.
Rekan setimnya menjadi keluarga baru, dan lapangan sepak bola menjadi sumber kekuatan yang membuatnya terus bertahan.
“Saat saya melangkah ke lapangan, saya bisa mengesampingkan semua rasa sakit dan kenyataan pahit di luar,” kata Khaira.
Saadi Muhammad al-Masri, 40 tahun, yang bergabung dengan tim delapan tahun lalu, setuju.
“Berkumpul dan bermain sepak bola dengan orang lain yang mengalami rasa sakit yang sama adalah bagian dari proses penyembuhan,” ujarnya.
Kondisi Sulit dan Dukungan Minim
Namun, terus berlatih adalah perjuangan berat.
Sebagian besar lapangan sepak bola di Gaza hancur akibat bom atau diubah menjadi tempat penampungan sementara bagi warga yang mengungsi.
Setiap pekan, para pemain menempuh puluhan kilometer di jalan yang hancur untuk mencapai satu-satunya lapangan rumput yang masih tersedia di Deir al-Balah.
Pembatasan ketat Israel terhadap barang yang masuk ke Gaza membuat perlengkapan dasar seperti bola, sepatu, dan alat pelindung sulit didapatkan.
Peralatan khusus seperti kruk olahraga dan kaki palsu canggih praktis tidak tersedia.
“Kruk yang kami gunakan sekarang tidak dirancang untuk sepak bola, jadi mudah patah saat kami menendang bola dengan keras,” kata al-Masri.
Fouad Ibrahim Abu Ghalyoun, pendiri Asosiasi Sepak Bola Amputasi Palestina (PAFA), mengatakan FIFA telah berjanji mendukung pembangunan kembali infrastruktur sepak bola Gaza, tetapi belum ada bantuan internasional berarti yang terwujud di lapangan.
“Bahkan dewan perdamaian Gaza yang diusulkan tidak memiliki badan yang ditugaskan untuk mengawasi rekonstruksi infrastruktur olahraga,” katanya.
PAFA juga berharap dapat memperluas akademinya untuk melayani semakin banyak anak muda yang diamputasi, tetapi menghadapi kendala praktis yang parah.
Semangat Tak Padam
Meski demikian, para pemain terus berlari di lapangan.
Menurut Khaira, mereka bukan sekadar angka dalam laporan berita atau korban yang patus dikasihani, melainkan pemain sepak bola yang turun ke lapangan dan bertarung.
“Perang mungkin telah menghancurkan rumah dan stadion kami, serta mengambil sebagian tubuh kami, tetapi tidak mematahkan kemauan dan semangat kami,” katanya.
Al-Masri menambahkan, “Kami akan terus berjuang sampai mencapai tujuan kami, yaitu mengibarkan bendera Palestina di turnamen internasional.”
Piala Dunia Federasi Sepak Bola Amputasi Dunia akan digelar di Meksiko pada November mendatang, tetapi perang dan blokade menghalangi pemain Palestina untuk berpartisipasi bahkan di babak kualifikasi regional.
“Mengingat kehancuran dan tragedi yang dialami Gaza, dukungan komprehensif dari organisasi internasional sangat dibutuhkan, termasuk langkah-langkah yang menjamin partisipasi kami di kompetisi internasional,” kata Abu Ghalyoun.
Meski harapan Piala Dunia kali ini pupus, perjalanan mereka terus berlanjut di jantung Gaza, terus menendang bola menuju harapan dengan satu kaki.