Bayangan kelam kini menyelimuti salah satu ikon kuliner Korea di Surabaya, Restoran Son Ga yang berlokasi di Jalan Mayjend HR. Muhammad, Sukomanunggal. Tempat yang biasanya ramai dan menyajikan suasana hallyu yang meriah, kini seolah kehilangan rohnya.
Sosok sentral di balik kesuksesan bisnis ini, SSY (64), mendadak menghilang bak ditelan bumi. Sang pemilik dikabarkan tidak lagi menampakkan batang hidungnya sejak awal Agustus 2026. Hilangnya SSY bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan terjadi tepat di tengah badai laporan serius terkait dugaan kekerasan dan pelecehan seksual yang melibatkan karyawan serta asisten rumah tangga (ART).
Kasus ini tidak hanya mengguncang internal manajemen restoran, tetapi juga menjadi sorotan tajam publik Surabaya. Isu keselamatan kerja, eksploitasi kekuasaan, dan perlindungan pekerja di industri hospitality kembali menjadi perdepan hangat. Hingga artikel ini diturunkan pada Sabtu (22/8/2026), Polrestabes Surabaya masih terus memutar otak untuk melacak keberadaan SSY, sementara jerat hukum mulai dipasang rapat.
Jejak yang Menguap dan Kesaksian Sopir Pribadi
Informasi mengenai "pelarian" SSY pertama kali terkuak melalui pengakuan Muhammad Adi Prastio (26), sopir pribadi sang bos. Dalam wawancara eksklusifnya pada Rabu (19/8/2026), Adi mengungkapkan keanehan yang terjadi di lingkaran terdekat SSY.
"Saya baru bekerja di sini sekitar dua bulanan. Sebelumnya ada sopir pribadi beliau, tetapi sudah resign atas kemauannya sendiri. Nah, sejak awal Agustus, Pak Son sudah tidak pernah kelihatan sama sekali. Saya tidak tahu posisinya di mana sekarang, mungkin beliau sedang 'menghilang' sementara waktu menunggu masalah ini selesai," ujar Adi dengan nada misterius.
Ketiadaan SSY terasa sangat kontras dengan kebiasaannya sebelumnya yang dikenal sangat aktif mengawasi operasional bisnis dan kerap berada di lokasi. Keheningan ini tentu saja memicu spekulasi liar di tengah masyarakat: apakah ini sebuah strategi hukum untuk menghindari pemeriksaan, ataukah ada motif lain?
Narasi Pembelaan di Tengah Tuduhan Berat
Di tengah hilangnya sang bos, Adi mencoba memainkan peran sebagai pembela. Ia memberikan narasi yang cukup kontroversial di tengah gravitasi laporan polisi yang dibuat oleh dua korban, yakni MAD (28) dan seorang ART berinisial SUF (24).
Para korban dalam laporannya mendeskripsikan pengalaman traumatis yang mengerikan. Mereka menyebutkan adanya praktik pemaksaan konsumsi minuman keras sebagai modus operandi sebelum aksi pelecehan terjadi, baik di area restoran maupun di kediaman pribadi SSY.
Namun, Adi membantah mentah-mentah. "Beliau tidak salah seratus persen. Di sini beliau tidak punya teman yang bantu, jadi belum tahu posisinya di mana. Kalau kejadian itu benar ada, cuma di sini Pak Son tidak 100 persen salah," klaim Adi.
Bahkan, ketika disinggung soal tuduhan pemaksaan miras, Adi menegaskan, "Pak Son tidak pernah memaksa. Kalau yang diajak tidak mau, ya sudah. Saya selaku sopir pribadi memastikan tidak ada yang namanya pelecehan atau pencabulan di resto maupun di rumah pribadinya. Sama sekali tidak ada."
Dugaan Motif Gaji dan Bahaya Victim Blaming
Pernyataan Adi yang mencoba membelokkan narasi menjadi sorotan aktivis perlindungan perempuan. Adi menduga bahwa laporan MAD dan SUF ke Polrestabes Surabaya didasari oleh motif ekonomi, bukan murni akibat trauma pelecehan.
"Kalau korbannya laporan ke polisi, dugaan kemungkinan karena gajinya kurang cukup di sini, atau mungkin ada masalah pribadi lainnya," ujar Adi berspekulasi.
Narasi ini dinilai berbahaya oleh para pengamat sosial. Upaya menghubungkan laporan pelecehan seksual dengan masalah gaji adalah bentuk klasik dari victim blaming (menyalahkan korban). Hal ini dikhawatirkan akan membungkam suara korban lain di industri kuliner yang mungkin mengalami hal serupa namun takut melapor karena takut dikaitkan dengan masalah finansial.
Hingga kini, klaim bahwa laporan polisi hanyalah "masalah gaji" belum memiliki dasar pembuktian hukum yang kuat dan cenderung melemahkan kredibilitas laporan korban yang telah didukung visum dan saksi.
Rumah Mewah Kosong dan Jerat Imigrasi
Dampak dari menghilangnya SSY juga terlihat jelas di kehidupan pribadinya. Rumah mewah milik SSY di Perumahan Graha Famili Blok O, Wiyung, Surabaya, kini dilaporkan dalam keadaan kosong melompong.
"Saya sekarang diberi tanggung jawab tambahan untuk menjaga keamanan, termasuk area parkir di restoran. Sejak awal Agustus, beliau tidak pernah kelihatan di rumah maupun resto," pungkas Adi.
Sementara SSY bermain petak umpet, aparat hukum tidak tinggal diam. Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Surabaya telah menerbitkan Surat Pencegahan (Surpeg) atau Stop Overlist (SOI) terhadap SSY. Langkah tegas ini diambil untuk memastikan terduga pelaku tidak dapat melarikan diri ke luar negeri, menutup semua celah bagi SSY untuk menghindari proses peradilan.
Menunggu Keadilan bagi Pekerja Kuliner
Kasus Son Ga ini meninggalkan duka mendalam bagi para karyawan yang masih bertahan. Suasana kerja yang seharusnya profesional kini berubah menjadi tegang dan penuh ketidakpastian. Mereka terjebak di antara loyalitas pada bisnis dan rasa takut akan keselamatan diri.
Publik Surabaya kini menanti kejelasan dari Polrestabes Surabaya. Kasus ini bukan sekadar tentang satu individu yang menghilang, melainkan momentum evaluasi serius mengenai perlindungan hak-hak asasi pekerja di industri restoran.
Hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi langsung kepada SSY via WhatsApp dan panggilan telepon tidak mendapatkan respons. Sang bos memilih bungkam, namun hukum dan kebenaran tidak akan pernah bisa dibungkam selamanya.