unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Teks Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Menyambut Maulid Nabi dengan Meneladani Akhlak Rasulullah
News

Teks Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Menyambut Maulid Nabi dengan Meneladani Akhlak Rasulullah

Teks Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Menyambut Maulid Nabi dengan Meneladani Akhlak Rasulullah
Ilustrasi Masjid
A A Ukuran Teks16px

Teks Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Menyambut Maulid Nabi dengan Meneladani Akhlak Rasulullah

Memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam kembali menyambut bulan yang memiliki makna penting dalam perjalanan sejarah Islam. Bulan ini selalu mengingatkan kaum muslimin kepada kelahiran Nabi Muhammad SAW, manusia pilihan yang diutus Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Momentum Maulid Nabi hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Peringatan Maulid juga menjadi kesempatan bagi setiap muslim untuk kembali mengenal pribadi Rasulullah SAW, memahami perjuangan beliau, serta berusaha menghadirkan akhlak mulia beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Cinta kepada Rasulullah SAW bukan hanya diwujudkan dengan memperbanyak shalawat atau menghadiri majelis peringatan Maulid. Cinta yang sejati juga harus tampak dalam sikap, ucapan, dan perbuatan. Kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, kedermawanan, serta sikap rendah hati Rasulullah SAW merupakan teladan yang tetap relevan sepanjang zaman.

Berikut naskah Khutbah Jumat 28 Agustus 2026 dengan tema “Menyambut Maulid Nabi dengan Meneladani Akhlak Rasulullah.”

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى لِلْمُتَّقِينَ، وَجَعَلَ فِيهِ مَنَاهِجَ الْهِدَايَةِ لِلنَّاسِ أَجْمَعِينَ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِقُ الْأَمِينُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ، وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT.

Marilah kita panjatkan segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat, nikmat, dan kasih sayang-Nya, pada hari yang penuh keberkahan ini kita masih diberikan kesempatan untuk hadir di rumah Allah, menunaikan ibadah Jumat, mendengarkan nasihat, serta memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT dan dengan sesama manusia.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW. Kepada keluarga beliau, para sahabat, para tabi'in, serta seluruh umat Islam yang istiqamah mengikuti sunnah dan ajaran beliau hingga akhir zaman.

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa bukan hanya ucapan di lisan, melainkan usaha sungguh-sungguh untuk menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Sebab, sebesar apa pun harta yang kita miliki, setinggi apa pun jabatan yang kita raih, dan sebanyak apa pun manusia yang mengenal kita, semuanya tidak akan berarti apabila kita datang menghadap Allah tanpa membawa iman dan ketakwaan.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.

Saat ini kita berada dalam bulan Rabiul Awal. Bulan yang selalu mengingatkan kita kepada sosok manusia yang paling mulia, Nabi Muhammad SAW.

Di berbagai tempat, umat Islam menyambut bulan ini dengan beragam kegiatan. Shalawat dikumandangkan. Sirah Nabi dibacakan. Majelis-majelis Maulid diselenggarakan. Kisah perjuangan Rasulullah kembali dikenang.

Semua itu tentu menjadi bagian dari upaya umat Islam untuk menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bersama.

Sejauh mana kecintaan kita kepada Rasulullah benar-benar terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari?

Jangan sampai kita begitu bersemangat menyebut nama Rasulullah, tetapi mudah melupakan ajaran beliau. Jangan sampai lisan kita rajin bershalawat, tetapi pada saat yang sama lisan itu juga mudah menyakiti orang lain.

Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi kita masih gemar berdusta, sulit menepati janji, mudah marah, enggan memaafkan, serta berat membantu orang yang sedang membutuhkan.

Hadirin yang berbahagia.

Cinta yang sejati selalu melahirkan keinginan untuk mengikuti.

Ketika seseorang benar-benar mencintai dan mengagumi seseorang, biasanya ia akan berusaha meneladani kebaikan yang dimiliki orang tersebut. Begitu pula cinta kita kepada Rasulullah SAW.

Mencintai Nabi Muhammad SAW berarti berusaha mengikuti jalan hidup beliau. Berusaha menjaga lisan sebagaimana beliau menjaga lisannya. Berusaha bersikap jujur sebagaimana beliau dikenal sebagai Al-Amin. Berusaha menjadi pribadi yang penyayang, sabar, amanah, rendah hati, dan gemar membantu sesama.

Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya:

"Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. Ali Imran: 31)

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta bukan hanya persoalan pengakuan. Cinta membutuhkan bukti.

Jika kita mengaku mencintai Allah, maka kita diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah SAW. Maka salah satu bukti cinta kepada Nabi adalah berusaha menjalankan sunnah dan meneladani akhlak beliau.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.

Salah satu keistimewaan terbesar Rasulullah SAW adalah kemuliaan akhlaknya.

Allah SWT sendiri berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya:

"Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung."
(QS. Al-Qalam: 4)

Ayat ini merupakan pujian langsung dari Allah SWT terhadap akhlak Nabi Muhammad SAW.

Betapa agungnya pribadi Rasulullah. Beliau bukan hanya seorang pemimpin. Bukan hanya seorang guru. Bukan hanya seorang kepala keluarga. Beliau adalah teladan bagi seluruh manusia.

Ketika menghadapi orang yang baik, beliau membalas dengan kebaikan. Ketika menghadapi orang yang kasar, beliau tidak serta-merta membalas dengan kekasaran.

Ketika memiliki kekuasaan, beliau tidak menjadi sombong. Ketika menghadapi orang miskin, beliau tidak merendahkan. Ketika bersama anak-anak, beliau menunjukkan kasih sayang. Ketika bersama keluarga, beliau menunjukkan kelembutan.

Inilah akhlak yang seharusnya kita coba hadirkan dalam kehidupan kita.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Sayyidah Aisyah RA pernah menjelaskan tentang akhlak Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau bukanlah orang yang berkata keji, tidak suka melakukan perbuatan buruk, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan. Sebaliknya, Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang pemaaf dan berlapang dada.

Akhlak ini sangat penting untuk kita renungkan, terutama di tengah kehidupan saat ini.

Hari ini, begitu banyak pertengkaran bermula dari ucapan. Satu kalimat yang kasar dapat memutus persaudaraan. Satu komentar yang menyakitkan dapat menimbulkan permusuhan.

Di dalam keluarga, terkadang kita merasa paling berani menyakiti orang-orang yang justru paling dekat dengan kita. Kepada pasangan, kita mudah meninggikan suara. Kepada anak, kita mudah meluapkan kemarahan. Kepada orang tua, terkadang kita lupa menjaga perkataan.

Padahal, jika kita benar-benar ingin meneladani Rasulullah SAW, maka salah satu hal yang harus kita perbaiki adalah lisan kita.

Sebelum berbicara, bertanyalah kepada diri sendiri:

Apakah perkataan ini benar?

Apakah perkataan ini baik?

Apakah perkataan ini perlu disampaikan?

Dan apakah perkataan ini akan membawa manfaat atau justru menyakiti orang lain?

Menahan diri dari ucapan yang buruk adalah bagian dari meneladani akhlak Rasulullah SAW.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.

Akhlak Rasulullah juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya memaafkan.

Memaafkan memang tidak selalu mudah. Ada kalanya kita terluka. Ada ucapan yang membekas. Ada perlakuan orang lain yang membuat hati sulit menerima.

Namun Rasulullah SAW mengajarkan bahwa membalas keburukan dengan keburukan tidak selalu menjadi jalan terbaik.

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan juga bukan berarti membiarkan kezaliman terus terjadi. Akan tetapi, memaafkan adalah usaha membersihkan hati dari dendam ketika kita memiliki kesempatan untuk memilih kelapangan hati.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat memulainya dari hal-hal sederhana.

Ketika pasangan melakukan kesalahan, jangan langsung membalas dengan kata-kata yang lebih menyakitkan.

Ketika anak melakukan kekeliruan, jangan hanya menghukumnya dengan kemarahan, tetapi juga berikan bimbingan.

Ketika tetangga berbuat sesuatu yang tidak kita sukai, jangan terburu-buru memperbesar persoalan.

Dan ketika seseorang menyakiti kita, belajarlah untuk tidak langsung membalas dalam keadaan marah.

Di situlah akhlak Rasulullah diuji dalam diri kita.

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Selain sifat pemaaf, Rasulullah SAW juga dikenal sebagai manusia yang sangat dermawan.

Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan.

Kedermawanan beliau mengajarkan bahwa harta yang kita miliki sesungguhnya adalah titipan dari Allah SWT.

Di dalam rezeki yang kita terima, terdapat kesempatan untuk berbagi.

Mungkin ada saudara kita yang sedang kesulitan.

Ada tetangga yang membutuhkan bantuan.

Ada anak yang kesulitan memperoleh pendidikan.

Ada keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dan mungkin saja, pertolongan yang Allah berikan kepada mereka datang melalui tangan kita.

Kita tidak harus menunggu menjadi kaya untuk mulai berbagi.

Senyum adalah sedekah.

Membantu tenaga adalah sedekah.

Memberikan ilmu adalah sedekah.

Meringankan beban orang lain adalah sedekah.

Dan menyisihkan sebagian harta untuk orang yang membutuhkan juga merupakan bentuk kebaikan.

Momentum Maulid Nabi hendaknya membangkitkan semangat kita untuk menjadi umat yang tidak hanya pandai meminta kepada Allah, tetapi juga ringan tangan dalam membantu sesama.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.

Rasulullah SAW juga mengajarkan kepada kita bagaimana menghargai orang lain.

Dalam kehidupan modern, kita sering merasa sibuk. Ketika seseorang berbicara, perhatian kita justru tertuju pada hal lain. Ketika bersama keluarga, tangan kita memegang telepon genggam. Ketika bertemu seseorang, pikiran kita berada di tempat yang berbeda.

Padahal, menghargai orang lain terkadang dimulai dari kesediaan untuk benar-benar mendengarkan.

Rasulullah SAW memberikan perhatian kepada orang yang berbicara dengan beliau. Beliau tidak memperlakukan orang lain dengan sikap meremehkan.

Dari sini kita belajar bahwa setiap manusia ingin dihargai.

Maka, mari belajar mendengarkan.

Belajar memberikan perhatian.

Belajar tidak memotong pembicaraan.

Belajar menghormati orang yang lebih tua.

Belajar menyayangi yang lebih muda.

Dan belajar memperlakukan setiap manusia dengan penuh adab.

Sebab, seseorang mungkin akan melupakan apa yang kita katakan, tetapi ia sering kali akan mengingat bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengannya.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT.

Bulan Maulid hendaknya menjadi momentum untuk melakukan muhasabah.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri.

Sudahkah lisan kita semakin santun?

Sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih jujur?

Sudahkah kita mampu menahan amarah?

Sudahkah kita mudah memaafkan?

Sudahkah tangan kita ringan untuk membantu?

Sudahkah kita menghormati pasangan, orang tua, anak, tetangga, dan orang-orang di sekitar kita?

Jika jawabannya belum, maka jangan berputus asa.

Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk memulai perubahan.

Tidak perlu langsung melakukan sesuatu yang besar. Mulailah dari satu perubahan kecil.

Hari ini, bertekadlah untuk mengurangi ucapan kasar.

Besok, berusahalah menahan amarah.

Kemudian, belajarlah meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Belajarlah memberi tanpa menunggu diminta.

Belajarlah mendengarkan tanpa merasa diri paling benar.

Dan teruslah memperbaiki diri sedikit demi sedikit.

Sebab, mencintai Rasulullah SAW bukan berarti kita harus langsung menjadi manusia yang sempurna. Namun, cinta kepada Rasulullah harus membuat kita terus memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.

Jangan biarkan Maulid Nabi hanya menjadi sebuah peringatan tahunan yang datang dan pergi tanpa meninggalkan perubahan dalam diri kita.

Jangan hanya mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi lupakan ajaran dan akhlak beliau.

Jangan hanya memperbanyak shalawat, tetapi enggan mengikuti keteladanan beliau.

Mari jadikan Maulid Nabi sebagai momentum memperbarui kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Cinta yang tidak berhenti di lisan.

Cinta yang terlihat dalam kejujuran.

Cinta yang tampak dalam kesabaran.

Cinta yang hadir dalam sikap amanah.

Cinta yang tercermin dalam kepedulian kepada sesama.

Dan cinta yang mendorong kita untuk terus mengikuti sunnah serta akhlak Nabi Muhammad SAW.

Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai umat yang benar-benar mencintai Rasulullah SAW.

Semoga kecintaan tersebut menghiasi lisan kita dengan shalawat, memenuhi hati kita dengan kerinduan, dan membimbing perilaku kita untuk meneladani akhlak beliau.

Semoga Allah memperbaiki keluarga kita, masyarakat kita, dan negeri kita melalui akhlak-akhlak mulia yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Dan semoga kelak di hari akhir, kita termasuk golongan umat yang mendapatkan pertolongan dan syafaat Rasulullah SAW dengan izin Allah SWT.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ.

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَحَبِيبُهُ وَخَلِيلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، اَلْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَحَافِظُوا عَلَى طَاعَتِهِ، وَاجْتَنِبُوا مَعَاصِيَهُ، لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.

Sekali lagi, marilah kita memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT.

Momentum Maulid Nabi hendaknya tidak hanya kita jadikan sebagai kesempatan untuk mengenang sejarah, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.

Mari pulang dari masjid ini dengan membawa satu tekad: menjadi pribadi yang sedikit lebih dekat dengan akhlak Rasulullah SAW.

Mari menjaga lisan.

Mari memperbaiki hubungan dengan keluarga.

Mari memperkuat kepedulian kepada tetangga dan sesama.

Mari menjadi pribadi yang jujur, amanah, sabar, pemaaf, dan gemar berbuat baik.

Semoga kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW tidak hanya menjadi pengakuan, tetapi benar-benar menjadi jalan yang mengantarkan kita untuk mengikuti sunnah dan keteladanan beliau.

Hadirin yang dimuliakan Allah, Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.

اَللّٰهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَجَمِّلْنَا بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أُمَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ سُنَّتَهُ وَيَقْتَدُونَ بِهَدْيِهِ.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَ سُنَّتِهِ، وَالْعَمَلَ بِهَدْيِهِ، وَالْحَشْرَ مَعَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالْفِتَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru