Fenomena K-culture tak lagi berhenti di layar.
Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa kreator TikTok berperan besar mengubah rasa penasaran terhadap budaya Korea menjadi aktivitas belanja nyata.
Studi berjudul "K-Culture on TikTok: Driving Global Economic Impact" yang dirilis TikTok Korea bersama Kearney mengungkap proyeksi dampak ekonomi global K-culture mencapai 40,64 triliun won (sekitar Rp 480 triliun) pada 2030.
Angka tersebut naik 30 persen dari 31,37 triliun won pada 2026.
Belanja konsumen global diprediksi meningkat dari 10,75 triliun won menjadi 13,92 triliun won dalam periode yang sama.
K-Beauty dan K-Tourism Jadi Sektor Terdepan
K-beauty tercatat sebagai sektor dengan dampak ekonomi langsung terbesar, mencapai 3,27 triliun won pada 2030.
Sementara itu, K-tourism menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat, melonjak 44 persen dibanding 2026.
K-tourism juga menciptakan 30.384 lapangan kerja, tertinggi di antara enam industri yang dianalisis. Sektor lain yang dicakup adalah K-pop, K-media dan IP, K-food, serta K-fashion.
Survei melibatkan 3.300 konsumen berusia 16-49 tahun di 10 negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Filipina, Arab Saudi, Meksiko, Brasil, Prancis, Jepang, Indonesia, dan Vietnam.
Hasilnya, Amerika Serikat tetap menjadi pasar terbesar dengan dampak ekonomi langsung naik dari 1,8 triliun won menjadi lebih dari 2 triliun won pada 2030.
Brasil diproyeksikan tumbuh paling tinggi sebesar 63 persen.
Indonesia diperkirakan mengalami peningkatan nilai pasar terbesar secara absolut. Hal ini menunjukkan kuatnya pengaruh K-culture di pasar negara berkembang.
Kreator Jadi Jembatan Budaya
Salah satu kreator yang diundang dalam konferensi pers di Hotel Eliena, Gangnam, Seoul, adalah Jittomeok, pemilik akun @daygamin.
Ia membagikan pengalamannya tentang bagaimana konten mukbang Korea menarik 1,1 juta pengikut.
Menurut Jittomeok, interaksi langsung dengan penggemar di Asia Tenggara mendorong mereka membeli kosmetik Korea dan memesan tiket ke Seoul.
"Saya benar-benar merasakan popularitas K-beauty di luar negeri," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa minat pada K-drama dan K-pop secara alami meluas ke mode dan perjalanan. "Minat budaya telah meresap ke rutinitas harian kreator seperti saya," katanya.
Jung Jae-hoon, kepala operasional TikTok Korea, menegaskan bahwa laporan ini membuktikan kontribusi TikTok tidak hanya sebagai platform konten, tetapi juga dalam ekspansi budaya Korea dan penciptaan nilai ekonomi nyata.
Jo Hyung-jin, kepala konsultasi strategi Kearney Korea, menambahkan bahwa riset ini mengonfirmasi siklus positif di mana minat di platform digital berubah menjadi belanja konsumen, yang berdampak pada produksi dan lapangan kerja.