unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Kronologi Lengkap Penjual Cermin Tewas Diamuk Perusuh Pasca-Demo 27 Agustus: Sosok Bambang Setiyawan dan Detik-Detik Mencekam di Jakarta Pusat
News

Kronologi Lengkap Penjual Cermin Tewas Diamuk Perusuh Pasca-Demo 27 Agustus: Sosok Bambang Setiyawan dan Detik-Detik Mencekam di Jakarta Pusat

Kronologi Lengkap Penjual Cermin Tewas Diamuk Perusuh Pasca-Demo 27 Agustus: Sosok Bambang Setiyawan dan Detik-Detik Mencekam di Jakarta Pusat
mayat • pixabay
A A Ukuran Teks16px

Tragedi kemanusiaan kembali mewarnai ibukota. Seorang warga sipil yang tidak terlibat dalam aksi unjuk rasa, harus meregang nyawa akibat kebrutalan sekelompok orang tak dikenal. Bambang Setiyawan (59), seorang penjual cermin yang tinggal di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, dikabarkan tewas usai menjadi korban penganiayaan dalam kericuhan yang pecah di Jalan Pejompongan Raya, pada Kamis (27/8/2026) malam.

Kasus ini sontak memicu gelombang duka dan kemarahan di kalangan masyarakat. Bagaimana tidak, insiden berdarah ini terjadi justru setelah massa demonstran yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menyatakan aksi mereka berakhir secara damai. Kehadiran penyusup yang memicu provokasi dinilai telah mengubah wajah demonstrasi yang sejatinya merupakan hak konstitusional, menjadi ajang kekerasan yang memakan korban jiwa tak berdosa.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai profil korban, kronologi kejadian, serta kesaksian warga yang menggambarkan suasana mencekam di balik tragedi tersebut.

Sosok Bambang Setiyawan: Warga Biasa yang Menjadi Korban Kebrutalan

Bambang Setiyawan dikenal oleh tetangga-tetangganya sebagai sosok yang tenang dan pekerja keras. Di usianya yang ke-59 tahun, ia menjalani hari-harinya sebagai penjual cermin keliling untuk menghidupi keluarganya. Ia bukanlah seorang aktivis, apalagi peserta demonstrasi. Ia hanyalah warga sipil yang ingin pulang ke rumah dengan aman setelah seharian bekerja.

Namun, nasib berkata lain. Jenazah Bambang tiba di rumah duka di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Jumat (28/8/2026) dengan diselimuti duka yang mendalam. Kematian Bambang bukan sekadar statistik korban kerusuhan, melainkan representasi dari betapa rentannya keselamatan warga sipil ketika ketertiban umum diabaikan oleh segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab.

Awalnya Damai: Tuntutan Pengesahan RUU Perampasan Aset

Untuk memahami akar kericuhan ini, perlu dilihat kembali ke titik awal aksi pada siang hingga sore hari. Demonstrasi yang digelar oleh massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di depan Gedung DPR RI pada awalnya berlangsung dengan tertib dan damai.

Para perwakilan AMPB bahkan diberikan kesempatan untuk melakukan audiensi dengan pimpinan DPR RI. Inti dari tuntutan mereka adalah desakan terkait pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset, sebuah regulasi yang dinilai krusial untuk memberantas korupsi dan ketidakadilan hukum di Indonesia.

Audiensi tersebut membuahkan hasil yang positif. Pihak DPR memberikan jaminan dan berjanji akan mengesahkan RUU Perampasan Aset paling lambat pada tanggal 15 Desember 2026. Merespons janji tersebut, massa AMPB yang mayoritas terdiri dari elemen masyarakat yang vokal, secara sukarela membubarkan diri. Situasi di sekitar kompleks parlemen sempat kondusif, menandakan bahwa dialog sipil masih dapat berjalan dengan baik.

Penyusup Memicu Kerusuhan, Warga Bendungan Hilir Terpojok

Kondisi damai tersebut ternyata tidak berlangsung lama. Seusai pembubaran massa utama, sekelompok orang yang tidak dikenal identitasnya mulai bergerak masuk ke wilayah pemukiman di sekitar Jalan Pejompongan Raya. Kehadiran mereka bukanlah untuk melanjutkan aspirasi, melainkan membawa niat destruktif.

Kelompok penyusup ini mulai memicu kerusuhan, membakar ban, dan merusak fasilitas umum. Ketika warga setempat yang merasa terancam mencoba mempertahankan lingkungan mereka, bentrokan fisik tak terelakkan lagi terjadi. Dalam kekacauan itulah, Bambang Setiyawan diduga kuat menjadi sasaran penganiayaan oleh kelompok perusuh tersebut.

Kesaksian Ketua RT: "Berkelakuan Seperti Binatang"

Aban Sobandi, Ketua RT 02 RW 06 Bendungan Hilir, yang berada di garis depan saat kericuhan terjadi, memberikan kesaksian yang memilukan. Ia menegaskan bahwa korban jiwa dalam insiden ini adalah murni warga sipil, bukan peserta demonstrasi.

"Memakan korban jiwa, satu orang. Akibat penyusup, mereka berkelakuan seperti binatang," ujar Aban dengan nada tinggi saat dikonfirmasi, Jumat (28/8/2026).

Lebih lanjut, Aban menyoroti pola yang aneh dalam penanganan aksi kali ini. Ia menduga adanya upaya sistematis untuk mengadu domba warga dengan pendemo. "Penanganan demo saat ini berbeda dengan sebelumnya. Yang turun ke lapangan adalah orang-orang yang tidak diketahui identitasnya, seolah-olah warga sengaja diadu domba," jelasnya.

Menurut pengamatan Aban, kelompok yang memicu kerusuhan ini datang dengan wajah yang menipu. "Mereka datang awalnya seperti anak-anak pelajar, namun kemudian disusupi oleh oknum-oknum provokator. Jadilah kita berperang antara pendemo dengan warga. Yang menjadi korban akhirnya adalah warga kita sendiri, bukan pendemo," tambahnya dengan nada kecewa.

Langkah Antisipasi Warga: Mengamankan Kelompok Rentan

Menyadari potensi eskalasi kekerasan yang mengintai, para tokoh masyarakat dan pengurus RT di kawasan Bendungan Hilir telah mengambil langkah antisipatif sejak awal. Sebelum kericuhan benar-benar meletus, warga telah berinisiatif untuk mengamankan kelompok rentan.

Para lansia dan warga yang memiliki balita diungsikan secara darurat ke rumah saudara atau kerabat yang berlokasi jauh dari titik rawan konflik. Langkah evakuasi dini ini terbukti menyelamatkan banyak nyawa dari potensi cedera yang lebih parah.

Sementara itu, Aban bersama puluhan warga lainnya memilih untuk tetap bertahan di posko dan rumah masing-masing, membentuk barikade pertahanan untuk melindungi lingkungan mereka dari serbuan para perusuh. Solidaritas warga dalam situasi genting ini menjadi benteng terakhir yang mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak.

Tuntutan Penegakan Hukum dan Keadilan

Tragedi yang menimpa Bambang Setiyawan menjadi peringatan keras bagi seluruh pemangku kepentingan, khususnya aparat keamanan, untuk lebih waspada terhadap modus operandi penyusup dalam setiap aksi unjuk rasa. Demonstrasi yang damai harus tetap dilindungi, sementara elemen-elemen kriminal yang memanfaatkan situasi untuk berbuat onar harus ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku.

Hingga berita ini ditayangkan pada Sabtu (29/8/2026), pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan mendalam. Rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian diduga kuat telah mengamankan wajah para pelaku penganiayaan. Masyarakat kini menantikan transparansi proses hukum, agar kematian Bambang Setiyawan tidak berakhir sia-sia, dan keadilan dapat ditegakkan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Tragedi Pejompongan Raya ini juga menjadi refleksi penting bagi bangsa: bahwa hak berpendapat harus selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab untuk menjaga keselamatan sesama, dan tidak ada alasan bagi siapapun untuk menjadikan warga sipil yang tidak bersalah sebagai tumbal dari kemarahan yang tidak terkendali.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru