unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Prabowo Subianto Hadiri Penutupan Muktamar ke-35 NU di Jombang: Sambut Era Baru Gus Kikin, Perkuat Sinergi Ulama dan Negara
News

Prabowo Subianto Hadiri Penutupan Muktamar ke-35 NU di Jombang: Sambut Era Baru Gus Kikin, Perkuat Sinergi Ulama dan Negara

Prabowo Subianto Hadiri Penutupan Muktamar ke-35 NU di Jombang: Sambut Era Baru Gus Kikin, Perkuat Sinergi Ulama dan Negara
Prabowo: Indonesia Negara Besar tapi Gagal Lolos Piala Dunia
A A Ukuran Teks16px

Kota Jombang kembali menorehkan tinta emas dalam sejarah perjalanan bangsa. Kota yang lekat dengan julukan "Kota Santri" ini menjadi saksi bisu momen bersejarah penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), yang dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada Senin (31/8/2026). Kehadiran orang nomor satu di Indonesia ini bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan bentuk penghormatan tertinggi negara terhadap peran strategis ulama dalam menjaga keutuhan dan moralitas bangsa.

Kedatangan Penuh Khidmat di Bumi Pesantren
Tiba di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, tepat pada pukul 10.08 WIB, Presiden Prabowo disambut dengan suasana penuh keakraban dan khidmat. Mengenakan baju koko berwarna putih bersih yang dipadukan dengan peci hitam khas, sosok Prabowo tampak rendah hati dan menyatu dengan lingkungan pesantren.

Momen kedatangan ini semakin istimewa dan sarat makna simbolis ketika tokoh-tokoh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara langsung mengalungkan serban kepada Presiden. Dalam tradisi pesantren, pemberian serban merupakan bentuk penghormatan tertinggi kepada tamu agung, sekaligus melambangkan harapan agar para pemimpin negara senantiasa dibimbing oleh nilai-nilai keilmuan dan spiritualitas.

Deretan Pejabat Negara Ikut Meramaikan Ajang Akbar
Acara bersejarah ini tidak hanya dihadiri oleh pimpinan tertinggi negara, tetapi juga diramaikan oleh sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara, menunjukkan betapa pentingnya agenda ini dalam peta politik dan sosial Indonesia.

Tampak hadir dalam rangkaian acara tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, hingga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia. Kehadiran Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid menambah nuansa kekeluargaan yang kental, mengingat keduanya memiliki kedekatan emosional dan rekam jejak yang kuat dengan tradisi ke-NU-an.

Turut pula menyaksikan momen bersejarah ini Menteri PPPA Arifatul Choiri, Menteri Haji Irfan Yusuf, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Kehadiran mereka secara kolektif mengirimkan pesan kuat tentang soliditas sinergi antara pemerintah dan organisasi massa Islam terbesar di dunia ini.

Pesan Prabowo: NU adalah Pilar Sejarah Bangsa
Perlu dicatat bahwa ini bukan merupakan kunjungan pertama Presiden Prabowo dalam agenda muktamar kali ini. Sebelumnya, pada Jumat (27/8/2026), ia telah hadir untuk membuka secara resmi rangkaian Muktamar ke-35 NU.

Dalam sambutannya kala itu, Presiden menekankan bahwa Nahdlatul Ulama bukan sekadar organisasi massa Islam terbesar di dunia, melainkan institusi bersejarah yang memiliki jasa luar biasa dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sinergi antara pemerintah dan ulama, menurut Prabowo, adalah kunci utama dalam menjaga stabilitas, persatuan, dan kemajuan bangsa di tengah dinamika global yang semakin kompleks dan penuh tantangan.

Era Baru PBNU di Bawah Pimpinan Gus Kikin
Muktamar ke-35 ini juga menandai babak baru kepemimpinan PBNU untuk periode khidmat 2026-2031. Sidang pleno yang dipimpin dengan penuh hikmat berhasil menghasilkan keputusan mufakat dari Anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). KH Abdul Hakim Mahfudz, atau yang akrab disapa Gus Kikin, resmi terpilih sebagai Ketua Umum PBNU yang baru, menggantikan estafet kepemimpinan sebelumnya.

"Anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) memutuskan secara mufakat untuk memilih KH Abdul Hakim atau sehari-hari disebut Gus Kikin menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2026-2031," bunyi pernyataan yang dibacakan oleh KH Anwar Iskandar dalam sidang pleno di Jombang, Senin (31/8).

Proses Demokratis yang Menghasilkan Mufakat Luhur
Terpilihnya Gus Kikin bukanlah proses yang instan, melainkan buah dari mekanisme demokratis yang ketat, transparan, dan penuh pertimbangan matang. Awalnya, para muktamirin menggelar mekanisme pemilihan suara untuk menyaring lima besar calon Ketua Umum PBNU.

Dalam tahap krusial tersebut, Gus Kikin berhasil meraih kepercayaan tertinggi dari para peserta muktamar dengan perolehan 472 suara, mengukuhkan posisinya di peringkat pertama. Perolehan suara yang solid ini kemudian menjadi landasan kuat bagi AHWA untuk menetapkan dirinya melalui aklamasi dan mufakat bersama, mencerminkan kedewasaan berdemokrasi di tubuh NU.

Jombang: Simbol Persatuan dan Harapan Ke Depan
Bagi masyarakat Jombang, khususnya warga Nahdliyin, momentum ini menjadi kebanggaan tersendiri yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Kota yang dikenal sebagai pusat pendidikan pesantren ini kembali membuktikan perannya sebagai penjaga tradisi dan pembaharuan Islam yang rahmatan lil 'alamin.

Dengan terpilihnya kepemimpinan baru yang dinamis dan dukungan penuh dari pemerintah, diharapkan NU dapat terus menjadi penjaga moral bangsa. Lebih dari itu, NU diharapkan tetap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, berkeadaban, dan senantiasa berpihak pada kepentingan umat serta rakyat kecil.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru