Direktur Akademi Persija Jakarta, Ricky Nelson, menegaskan bahwa akademi merupakan tiang penyangga sebuah klub. Pernyataan itu disampaikan setelah tim U20 Persija menjuarai EPA Super League U20 2025/2026.
Persija U20 mengalahkan Malut United U20 dengan skor 1-0 pada laga final di Lapangan Garudayaksa Football Academy, Bekasi, Minggu (17/5/2026).
Kemenangan itu melengkapi raihan Persija sebagai akademi terbaik Elite Pro Academy (EPA) untuk seluruh level kompetisi musim ini.
Selain juara U20, Persija juga menjadi finalis EPA U18 setelah kalah dari Malut United melalui adu penalti 2-3.
Ricky menekankan bahwa akademi harus dipandang sebagai investasi masa depan yang serius.
"Akademi harus dilihat sebagai sebuah hal investasi masa depan yang serius sehingga kita enggak mau main-main dalam hal itu.
Makanya mungkin ya hari ini kita mendapatkan sebuah apresiasi kita syukuri, tetapi paling penting bahwa akademi ini harus terus berjalan dan klub melihat ini sebagai investasi yang jangka panjang, bukan untuk hari ini aja," kata Ricky saat ditemui awak media termasuk ANTARA di Lapangan Garudayaksa Football Academy, Minggu.
"Jadi akademi adalah tiang penyangga dari sebuah klub. Kalau akademinya bagus, klub juga akan menjadi bagus," tambah dia.
Dari dua kompetisi tersebut, Persija juga mengantarkan dua pelatih mereka sebagai pelatih terbaik. Furqon (Persija U20) dan Ferdiansyah (U18) meraih penghargaan tersebut.
Selain itu, Ahmad Mujadid menjadi top skor EPA U20.
Persija juga mendapatkan penghargaan sebagai tim fair play di EPA U16 dan EPA U18. Ricky menjelaskan bahwa timnya menekankan anak-anak untuk fokus bermain bola, bukan mencederai lawan.
"Kita tekankan anak-anak untuk main bola aja.
Jangan fokus pada mencederai lawan, pokoknya fokus pada bola karena sebenarnya ini DNA yang kita bangun, bangun possession, ya kan, menyerang, kuasai bola, sehingga tidak banyak perlu untuk kita melakukan pelanggaran di lapangan," kata Ricky.
Ketika ditanya rahasia kesuksesan akademi Persija musim ini, Ricky mengungkapkan bahwa salah satu kuncinya adalah menggunakan metodologi modern.
Metodologi itu terus diperbarui dari kerja sama dengan beberapa pihak, termasuk dari Spanyol dan Swedia.
"Jadi kita selalu studi banding mencari DNA yang terbaik untuk anak-anak kita.
Dan sejauh ini pilihan kita cukup berhasil, walaupun saya katakan belum 100 persen karena kita masih banyak PR (pekerjaan rumah) untuk bagaimana naikin pemain ke tim utama.
Jadi ya sejauh ini ini yang bisa baru bisa kita kerjakan," jelas dia.
Ricky menambahkan bahwa kesuksesan tim muda Persija akan hampa jika tidak ada pemain yang promosi ke tim senior setiap musim.
Ada minimal tiga pemain muda yang setiap tahun dipromosikan, dengan target satu pemain mencatatkan debut untuk tim utama Macan Kemayoran.
"Tahun ini kita bisa membuat debut untuk Figo (Dennis), Aditya Warman, terakhir Dia (Syayid).
Mudah-mudahan satu lagi (pemain promosi bisa debut) lawan Semen Padang (23 Mei) kita bisa taruh lagi buat debut.
Jadi istilahnya sudah kalau ini terjadi ada empat orang yang bisa debut di tim senior.
Jadi kita berusaha minimal tiga dalam setahun, ya lebih dari tiga lebih bagus," ucap Ricky.
Ricky Nelson, yang juga menjabat sebagai asisten pelatih tim senior Persija, menekankan pentingnya promosi pemain muda ke tim utama.
Ia menyebutkan bahwa tahun ini sudah ada tiga pemain yang melakukan debut, yaitu Figo Dennis, Aditya Warman, dan Syayid.
Ricky berharap satu pemain lagi bisa debut saat melawan Semen Padang pada 23 Mei, sehingga total menjadi empat pemain promosi yang tampil di tim senior musim ini.