Program bayi tabung tidak bisa dijalankan sembarangan.
Dokter spesialis kandungan Prof Dr dr Nusratuddin Abdullah mengungkapkan bahwa ada syarat penting yang harus dipenuhi pasangan suami istri.
Menurutnya, memiliki finansial yang cukup saja belum menjamin keberhasilan. Ada faktor lain yang jauh lebih krusial, terutama usia calon ibu.
Usia Ibu Jadi Faktor Penentu
"Program bayi tabung itu yang paling penting diperhatikan sebenarnya adalah usia pasangan suami istri, terutama ibunya," kata Prof Nusratuddin dalam seminar ilmiah reproduksi di Makassar, Minggu (17/5/2026).
Ia menjelaskan, secara teoritis usia di atas 35 tahun sudah harus waspada terhadap faktor reproduksi. Jika usia sudah lebih dari 38 tahun, pasangan disarankan segera mengambil keputusan.
"Terutama usia lebih dari 38 tahun itu memang sudah bisa, jika mereka mampu. Itu sebaiknya masuk ke bayi tabung," ujarnya.
Semakin bertambah usia, cadangan sel telur semakin berkurang. Hal ini otomatis menurunkan kesempatan untuk hamil secara alami.
Penyakit Tertentu Juga Jadi Pertimbangan
Prof Nusratuddin juga menyoroti kondisi medis yang menghambat kehamilan, seperti endometriosis. Penyakit ini berupa kista yang sangat merusak sel telur.
Penderita endometriosis memiliki cadangan ovarium yang berkurang. Jika cadangan ovarium masih memungkinkan, program hamil bayi tabung sebaiknya segera dilakukan.
Namun, bila hasil tes menunjukkan kista besar, operasi mungkin menjadi pilihan. Keputusan antara operasi atau bayi tabung tergantung pada cadangan sel telur pasien.
"Semakin tinggi usia, maka cadangannya semakin menurun, segerakan untuk program bayi tabung," tegasnya.
Kualitas Sperma Juga Penting
Dokter juga menyinggung faktor kesuburan pria. Standar normal sperma dinilai dari jumlah dan pergerakannya.
"Kalau dianggap kurang dari 1 juta sperma yang bergerak bagus, maka bisa bayi tabung, ini untuk suami," jelas Prof Nusratuddin.
Pencegahan dan Edukasi Reproduksi
Dokter spesialis kandungan lainnya, Prof Dr dr Tono Djuwantono, menekankan pentingnya menjaga fungsi reproduksi sejak dini. Semakin lama kelainan reproduksi ditangani, biaya pengobatan semakin mahal.
"Oleh karena itu, kita mengadakan edukasi di Nusraya ini bukan hanya pengobatan saja, tapi pencegahan juga kita perhatikan," ujarnya.
Ia menyarankan agar masyarakat memahami siklus haid dan waspada terhadap nyeri haid. Keputihan yang berlanjut hingga 40 persen bisa menyebabkan kelainan pada saluran sel telur.
Stimulasi Indung Telur Kunci Keberhasilan
Dr Binarwan Halim menambahkan, salah satu poin penting dalam program bayi tabung adalah stimulasi indung telur. Tujuannya untuk mendapatkan banyak sel telur berkualitas.
Ia menganalogikan proses kehamilan seperti menanam pohon.
Bibit unggul dan tanah yang subur (rahim dan sperma) harus didukung pupuk yang tepat, yaitu stimulasi indung telur.
"Stimulasi pupuk yang benar akan menghasilkan banyak telur dengan kualitas bagus. Kalau dapat bibit bagus, ditanam ke rahim akan sangat berhasil," tuturnya.
Menurutnya, 80 persen keberhasilan program bayi tabung ditentukan oleh kualitas bibit atau sel telur. Nusraya Fertility Center mengadopsi berbagai protokol stimulasi untuk mendukung hal tersebut.
Prof Tono turut memberi tips pencegahan bila mengalami masalah reproduksi, seperti mengerti siklus haid dan nyeri haid, karena itu penting sekali.
Jangan sampai keputihan berlanjut sampai 40 persen, dapat terjadi kelainan pada saluran sel telurnya.
Sementara itu, Dr Amang Surya Priyanto menambahkan, kondisi reproduksi pada setiap perempuan bisa berbeda-beda walaupun usianya sama. Usia perempuan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan kehamilan.
